PALU, MAL — National Geographic Indonesia memicu perbincangan publik setelah mengunggah pesan kritis terkait fenomena Kebakaran Hutan Natgeo Indonesia melalui media sosial Instagram. Unggahan tersebut secara tegas menyatakan penolakan terhadap estetisasi bencana alam yang kini melanda berbagai wilayah di Indonesia.
Melalui narasi visual yang berbeda dari biasanya, akun tersebut menekankan bahwa kerusakan alam bukan lagi objek foto yang harus terlihat indah. Kebakaran Hutan Natgeo Indonesia dipotret sebagai ancaman nyata bagi ketersediaan air, habitat satwa, hingga keberlangsungan hidup generasi mendatang di tengah krisis iklim yang kian memburuk.
“Maaf tidak ada gambar indah untuk kebakaran hutan dan krisis iklim. Sampai kapan kita akan diam?” tulis National Geographic Indonesia dalam unggahan reels resminya.
Konteks unggahan ini sangat relevan dengan kondisi lingkungan terkini di mana kebakaran lahan terus meluas akibat siklus El Nino yang memperparah kekeringan. Pemerintah mencatat dampak kerusakan lingkungan ini telah mencapai angka yang mengkhawatirkan bagi kesehatan masyarakat dan stabilitas ekologi global.
“Hingga Senin (10/08), karhutla telah membakar 107.000 hektare di seluruh Indonesia,” kata Djamari Chaniago, Menteri Koordinator Bidang Politik, Keamanan, dan Kemasyarakatan.
Strategi komunikasi tanpa gambar indah ini merupakan replikasi dari sampul edisi November 2015 yang menanggalkan estetika fotografi demi pesan urgensi. Langkah ini bertujuan mendesak penegakan hukum yang lebih tajam bagi para pelaku pembakaran hutan dan korporasi yang mengabaikan aspek keberlanjutan demi keuntungan ekonomi sesaat.
Pihak Natgeo Indonesia juga mengajak masyarakat untuk tidak sekadar meluapkan amarah di media sosial, melainkan berani menuntut pertanggungjawaban nyata dari pihak berwenang. Sebab, membiarkan perusakan hutan terus terjadi sama saja dengan mempertaruhkan kelayakan huni bumi bagi seluruh makhluk hidup di masa depan.
