JAKARTA, MAL – Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman (MBS) dilaporkan enggan memberi izin kepada Israel untuk menyerang kelompok Houthi di Yaman karena khawatir memicu reaksi negatif masyarakat Arab Saudi.
Harian Haaretz, sebagaimana dikutip i24NEWS, Senin (12/10/2026), melaporkan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu terus berupaya mendapatkan izin Riyadh untuk menyerang target-target Houthi.
Menurut sumber diplomatik yang dikutip dalam laporan tersebut, Netanyahu menggunakan mediator Amerika Serikat untuk meminta persetujuan Arab Saudi agar Israel dapat terlibat dalam konflik Yaman yang telah berlangsung selama sekitar satu dekade.
Langkah itu disebut bertujuan membuka ruang kerja sama Israel dan Arab Saudi sekaligus mempererat hubungan kedua negara untuk mendorong kesepakatan normalisasi diplomatik pada masa mendatang.
Namun, MBS dikabarkan belum bersedia memberikan lampu hijau. Ia menilai keterlibatan Israel dalam perang Yaman berisiko memicu penolakan publik di Arab Saudi.
Sebagai penguasa de facto Arab Saudi yang menjabat sebagai putra mahkota sekaligus perdana menteri, persetujuan MBS dinilai menentukan peluang Israel untuk terlibat dalam konflik tersebut.
Netanyahu berulang kali menyatakan keinginannya menjalin hubungan diplomatik dengan Arab Saudi. Sejumlah pengamat menilai serangan Hamas pada 7 Oktober 2023 turut menggagalkan upaya normalisasi yang sebelumnya tengah diupayakan.
Di sisi lain, Riyadh menegaskan normalisasi hubungan dengan Israel harus disertai pembentukan negara Palestina yang merdeka. Netanyahu berulang kali menolak pembentukan negara Palestina merdeka, sehingga menjadi hambatan utama bagi tercapainya kesepakatan kedua negara.**
