WASHINGTON, MAL – Agen federal Amerika Serikat menggeledah rumah anggota Kongres dari Partai Demokrat, Ilhan Omar, di wilayah Washington, DC, Senin. Penggeledahan ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan politik antara pemerintahan Presiden Donald Trump dan para pengkritiknya.

Mengutip dua sumber yang mengetahui persoalan tersebut, Associated Press melaporkan, agen Homeland Security Investigations melakukan penggeledahan pada pagi hari.

Fox News, dengan mengutip sumber anonim, menyebut penggeledahan itu berkaitan dengan dugaan penipuan imigrasi yang melibatkan dokumen yang diajukan mendiang ayah Omar ketika ia masih kecil. Namun, belum ada dakwaan yang diumumkan terkait kasus tersebut dalam laporan ini.

Omar, yang lahir di Somalia, tiba di Amerika Serikat sebagai pengungsi saat masih kanak-kanak dan kemudian menjadi warga negara melalui naturalisasi. Ia mewakili daerah pemilihan di Minnesota yang mencakup Minneapolis.

Selama bertahun-tahun, Omar menjadi sasaran serangan politik Trump, terutama terkait isu imigrasi.

Omar: Saya Tidak Akan Diam

Omar mengecam penggeledahan tersebut melalui unggahan di media sosial X. Ia menuduh pemerintahan Trump memanfaatkan aparat penegak hukum federal untuk menargetkan lawan politik.

“Saya baik-baik saja. Jangan salah sangka, ini adalah upaya untuk menargetkan musuh politik dan menjadikan aparat penegak hukum federal sebagai senjata,” tulis Omar.

“Selama sepuluh tahun, Trump telah menargetkan saya dengan kebohongan tak berdasar dan kampanye fitnah. Ini hanyalah eskalasi terbaru dalam kampanye intimidasi politiknya,” lanjutnya.

“Saya tidak akan diam,” tegas Omar.

Sejumlah pimpinan Partai Demokrat di DPR AS turut mengecam penggeledahan itu. Pemimpin Demokrat di DPR Hakeem Jeffries, koordinator partai Katherine Clark, dan Ketua Kaukus Demokrat Pete Aguilar menyebut tindakan tersebut sangat meresahkan.

“Selama bertahun-tahun, Donald Trump dan kelompok ekstremis sayap kanan tanpa henti menargetkan Anggota Kongres Omar dengan serangan pribadi yang keji dan tuduhan tak berdasar,” demikian pernyataan mereka.

Trump dan Vance Pernah Menyinggung Penyelidikan

Penggeledahan itu berlangsung beberapa hari setelah Trump melontarkan komentar bernada merendahkan terhadap Omar dalam sebuah rapat umum di Tennessee. Trump menyebut Somalia sebagai negara yang dipenuhi kejahatan dan kemelaratan serta mengisyaratkan adanya penyelidikan terhadap Omar.

Beberapa jam setelah penggeledahan, Trump mengatakan kepada wartawan bahwa Wakil Presiden JD Vance tidak terlibat dalam penyelidikan tersebut. Menurut Trump, penanganannya sepenuhnya bergantung pada Departemen Kehakiman AS.

Vance sebelumnya menuduh Omar melakukan penipuan imigrasi tanpa menyertakan bukti. Dalam wawancara dengan podcaster konservatif Benny Johnson, Vance juga mengungkapkan bahwa ia dan Wakil Kepala Staf Gedung Putih Stephen Miller pernah membahas cara menyelidiki Omar.

“Bagaimana cara menindak dia? Bagaimana cara menyelidikinya? Bagaimana sebenarnya melakukan hal itu?” kata Vance ketika membahas kemungkinan membangun kasus hukum terhadap Omar.

Kantor Omar membantah tuduhan tersebut dan menyebutnya sebagai rekayasa yang mencemarkan nama baiknya.

Omar pertama kali terpilih menjadi anggota DPR AS pada 2018. Ia mengatakan dirinya dan keluarganya telah menerima ancaman pembunuhan akibat retorika Trump dan menyebut perhatian presiden terhadap dirinya sebagai sesuatu yang menyeramkan.

Omar merupakan bagian dari kelompok legislator progresif yang dikenal sebagai The Squad, yang kerap menjadi sasaran serangan Trump sejak masa jabatan pertamanya.

Pada Desember, Trump menyebut Omar dan imigran Somalia lainnya sebagai “sampah”. Pada Februari, ia juga menyatakan Omar dan anggota DPR dari Partai Demokrat keturunan Palestina-Amerika, Rashida Tlaib, sebaiknya dimasukkan ke rumah sakit jiwa dan dikirim kembali ke tempat asal mereka setelah keduanya mengkritik pidato kenegaraannya.

Omar merupakan pengungsi asal Afrika pertama yang terpilih menjadi anggota Kongres AS. Ia dan Tlaib juga menjadi dua perempuan Muslim-Amerika pertama yang duduk di DPR.

Bulan lalu, seorang pria asal Minnesota dijatuhi hukuman penjara 14 bulan karena menyemprotkan cuka ke arah Omar dalam sebuah pertemuan publik.**