JAKARTA, MAL – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun 1,01 persen ke level 6.032,32 pada pukul 10.42 WIB dalam perdagangan Senin (12/10/2026), setelah sempat dibuka menguat.
Indeks bahkan menyentuh level terendah intraday di 6.029,80, terendah dalam tiga bulan, di tengah tekanan sentimen global dan domestik serta berlanjutnya aksi jual bersih investor asing.
Pada pembukaan perdagangan, IHSG sempat menguat 0,33 persen ke level 6.113,86. Namun, penguatan tersebut tidak bertahan setelah tekanan jual meningkat. Pada pukul 10.42 WIB, indeks terkoreksi 61,44 poin atau 1,01 persen dari penutupan sebelumnya. Volume perdagangan saat itu mencapai Rp3,74 triliun.
Pelemahan IHSG terutama ditekan oleh sektor infrastruktur dan energi. Kedua sektor tersebut menjadi pemberat indeks ketika tekanan jual meningkat pada sesi pertama perdagangan.
Analis Indo Premier Sekuritas, Brigita, mengatakan pergerakan pasar saham global pada pekan 5–9 Oktober 2026 diwarnai volatilitas saham teknologi, tingginya imbal hasil obligasi Amerika Serikat (AS), dan risiko geopolitik.
“Pergerakan pasar global sepanjang pekan 5–9 Oktober 2026 diwarnai volatilitas saham teknologi, tingginya imbal hasil obligasi AS, dan risiko geopolitik,” kata Brigita.
Tingginya imbal hasil obligasi pemerintah AS atau US Treasury meningkatkan daya tarik aset berpendapatan tetap tersebut dibandingkan saham di pasar negara berkembang, termasuk Indonesia. Kondisi ini dapat memengaruhi aliran modal asing dan minat investor terhadap saham domestik.
Dari sisi dalam negeri, Brigita menyoroti proyeksi pelebaran defisit transaksi berjalan Indonesia menjadi 1,5 persen dari produk domestik bruto (PDB) pada 2026 akibat meningkatnya impor energi.
“Dari sisi domestik, risiko eksternal masih menjadi perhatian seiring proyeksi pelebaran defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD) Indonesia menjadi 1,5% PDB pada 2026 akibat meningkatnya impor energi,” ujarnya.
Ia menambahkan, kebutuhan impor energi dan tingginya imbal hasil obligasi AS berpotensi meningkatkan sensitivitas nilai tukar rupiah serta arus dana asing terhadap perubahan sentimen global.
Tekanan tersebut terjadi setelah IHSG mencatat penguatan pada akhir pekan sebelumnya. Pada Jumat (9/10/2026), IHSG naik 1,04 persen ke level 6.093,76. Secara mingguan, indeks menguat 0,94 persen selama periode 5–9 Oktober 2026.
Namun, penguatan tersebut belum diikuti perubahan arus dana asing menjadi pembelian bersih. Investor asing justru mencatatkan jual bersih atau net foreign sell sekitar Rp2,44 triliun sepanjang pekan tersebut. Nilai itu lebih rendah dibandingkan jual bersih Rp5,03 triliun pada pekan sebelumnya.
Analis pasar modal Hendra menilai kenaikan IHSG pada Jumat lalu lebih mencerminkan pemulihan setelah koreksi, dengan dukungan pembelian saham oleh investor domestik.
“Kenaikan pada Jumat lebih tepat dibaca sebagai upaya pemulihan setelah koreksi, yang turut didukung oleh pembelian saham oleh investor domestik,” kata Hendra.
Sementara itu, data yang dikutip dalam laporan Infobank pada 8 Oktober 2026 mencatat akumulasi jual bersih investor asing mencapai Rp84,17 triliun. Head of Equity Research Kiwoom Sekuritas, Liza Camelia Suryanata, menilai penguatan indeks belum menunjukkan pembalikan tren selama katalis pendukung belum muncul.
“Selama katalis-katalis ini belum muncul, kenaikan IHSG kami anggap masih technical rebound, belum balik arah tren,” kata Liza.
Untuk perdagangan pekan 12–16 Oktober 2026, Indo Premier Sekuritas memproyeksikan IHSG bergerak konsolidatif dalam rentang 6.000–6.215. Pergerakan indeks selanjutnya akan dipengaruhi perkembangan pasar global, imbal hasil obligasi AS, data ekonomi AS, nilai tukar rupiah, serta arus dana investor asing.
