JAKARTA, MAL – Harga emas dunia menguat pada akhir pekan lalu setelah tekanan dari dolar Amerika Serikat (AS) dan imbal hasil obligasi pemerintah AS mereda. Namun, pada Senin (12/10/2026) pagi, harga emas bergerak relatif stabil sambil menunggu rilis data inflasi AS yang dijadwalkan pada Rabu (14/10/2026).
Harga emas spot pada Jumat (9/10/2026) tercatat sebesar US$4.216,3 per troy ons, naik 1,47% dalam sehari dan menguat 1,3% secara mingguan berdasarkan data yang dikutip dalam laporan pasar. Sementara itu, pada Senin pukul 06.31 WIB, harga emas berada di US$4.193,75 per troy ons, melemah tipis 0,002%.
Presiden Komisaris HFX International Berjangka, Sutopo Widodo, mengatakan sentimen pasar emas mulai membaik seiring penurunan harga minyak dunia dan imbal hasil obligasi AS.
“Arah pasar perlahan berbalik. Harga minyak dunia melandai, ditambah imbal hasil US Treasury turun dari level tertinggi dalam 24 tahun, setelah lelang obligasi 30 tahun mendapat minat yang kuat,” kata Sutopo.
Pelemahan dolar AS dan penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS atau US Treasury mengurangi tekanan terhadap emas. Logam mulia tersebut tidak memberikan imbal hasil bunga sehingga daya tariknya cenderung berkurang ketika imbal hasil obligasi meningkat. Sebaliknya, penurunan imbal hasil dapat membuat emas kembali menarik bagi investor.
Aksi beli saat harga melemah turut menopang pemulihan. Meski demikian, pergerakan emas masih rentan terhadap perubahan ekspektasi suku bunga AS, terutama menjelang pengumuman data inflasi yang akan menjadi salah satu pertimbangan pasar dalam memperkirakan arah kebijakan bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed).
Analis senior pasar Barchart.com, Darin Newsom, memperkirakan harga emas berpeluang menguat pekan ini karena kondisi fundamental pasar dinilai tidak banyak berubah. Sementara itu, analis senior FxPro, Alex Kuptsikevich, melihat peluang kenaikan harga emas menuju US$4.300–US$4.350 per troy ons. Namun, penguatan dolar AS dan persoalan utang global masih menjadi tantangan bagi pergerakan emas.
Survei Kitco terhadap 14 analis Wall Street menunjukkan tujuh analis atau 50% memperkirakan harga emas naik pekan ini. Dua analis atau 14% memprediksi harga turun, sedangkan lima analis atau 36% memperkirakan harga bergerak mendatar atau belum dapat menentukan arah.
Di kalangan investor ritel, survei terhadap 206 responden menunjukkan 93 orang atau 45% memperkirakan harga emas naik. Sebanyak 77 orang atau 37% memprediksi harga turun, sementara 36 orang atau 18% memperkirakan harga stabil.
Proyeksi lembaga keuangan global terhadap harga emas hingga akhir 2026 dan 2027 masih beragam. Goldman Sachs memangkas perkiraan harga emas akhir 2026 menjadi US$4.900 per troy ons dari proyeksi sebelumnya US$5.400. Penundaan pemangkasan suku bunga The Fed dinilai menjadi salah satu faktor yang menekan prospek emas.
Sebaliknya, UBS memperkirakan harga emas dapat mencapai US$5.200 per troy ons pada Juni 2027 dan US$5.400 pada September 2027. Bank tersebut juga memperkirakan pembelian emas oleh bank sentral mencapai 750–1.000 ton sepanjang tahun. Sementara itu, Crédit Agricole memasang target harga emas sebesar US$5.000 per troy ons pada akhir 2026.
Bagi pasar domestik, pergerakan harga emas dunia perlu dicermati bersama nilai tukar rupiah. Harga emas Antam pada Senin (12/10/2026) tercatat Rp2.592.000, sedangkan kurs dolar AS terhadap rupiah berada di Rp17.918. Pelemahan harga emas dunia dalam dolar AS tidak selalu diikuti penurunan harga emas dalam rupiah karena nilai tukar juga memengaruhi harga domestik.
