SINGAPURA, MAL – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatra dan Kalimantan, Indonesia, memperburuk kualitas udara Singapura menjelang Grand Prix Formula 1 (F1) pada 9–11 Oktober 2026.
Indeks kualitas udara di negara tersebut sempat mencapai kategori sangat tidak sehat pada Rabu, 7 Oktober 2026, sementara penyelenggara memastikan balapan tetap berlangsung dengan menyiapkan langkah antisipasi terhadap kabut asap.
Pada Jumat, 9 Oktober 2026 pukul 17.00 waktu setempat, indeks standar pencemar udara (Pollutant Standards Index/PSI) selama 24 jam di wilayah tengah Singapura mencapai 192. Angka tersebut menjadi yang tertinggi selama musim kabut asap tahun ini, menurut data yang dicantumkan dalam materi pemantauan kualitas udara.
Sebelumnya, pada Rabu, 7 Oktober 2026, IQAir mencatat indeks kualitas udara (Air Quality Index/AQI) Singapura mencapai 211, masuk kategori sangat tidak sehat. Angka tersebut menempatkan Singapura sebagai kota besar dengan tingkat polusi udara tertinggi di dunia pada saat itu, mengungguli Kuala Lumpur, Malaysia.
Pada Kamis, 8 Oktober 2026, PSI 24 jam di wilayah tengah Singapura tercatat 173, sedangkan wilayah timur mencapai 111. Kondisi tersebut menunjukkan kualitas udara yang buruk terjadi di sejumlah kawasan menjelang penyelenggaraan balapan malam F1.
Kabut asap dilaporkan berasal dari kebakaran hutan di Sumatra dan Kalimantan yang berlangsung sejak 1 Agustus 2026. Asap yang terbawa angin menyebar ke sejumlah negara di Asia Tenggara, termasuk Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, Thailand, Vietnam, dan Filipina.
Dampak kabut asap juga dirasakan di Malaysia. Pemerintah negara tersebut menutup sekolah di Kuala Lumpur, Putrajaya, Johor, Melaka, Negeri Sembilan, Pahang, dan Selangor pada Jumat, 9 Oktober 2026. Kebijakan tersebut berdampak pada lebih dari dua juta siswa yang harus meninggalkan sekolah.
Raja Malaysia Sultan Ibrahim sebelumnya mengarahkan agar sekolah ditutup ketika indeks pencemaran udara (Air Pollutant Index/API) mencapai angka 150 atau lebih. Sementara itu, Menteri Pendidikan Malaysia Fadhlina Sidek menyampaikan penutupan sekolah seiring meningkatnya tingkat kabut asap.
Di Singapura, pemerintah dan penyelenggara F1 menyiapkan langkah antisipasi untuk menghadapi kemungkinan memburuknya kualitas udara selama akhir pekan balapan.
Menteri Singapura yang bertanggung jawab atas Hubungan Perdagangan, Grace Fu, menyatakan pemerintah memiliki rencana kontinjensi berdasarkan tingkat PSI dan konsentrasi PM2.5. Rencana tersebut mencakup penyampaian informasi terbaru mengenai perkembangan kabut asap kepada pihak di sirkuit serta penyediaan bantuan medis dan masker N95 apabila diperlukan.
“Kami memiliki rencana kontinjensi yang akan diterapkan berdasarkan berbagai tingkat PSI dan PM2.5, termasuk memastikan pihak-pihak di sirkuit memperoleh informasi terbaru mengenai perkembangan kabut asap, serta menyediakan bantuan medis dan masker N95 di lokasi jika diperlukan,” kata Grace Fu dalam pernyataan yang disampaikan melalui Instagram pada Jumat, 9 Oktober 2026.
Grace juga mengimbau masyarakat menghindari paparan kabut asap yang tidak sehat dalam waktu lama di luar ruangan. Ia meminta orang yang merasa tidak sehat atau sangat sensitif terhadap kabut asap untuk tidak menghadiri kegiatan luar ruangan.
Penyelenggara Singapore Grand Prix menyatakan telah menyiapkan rencana kontinjensi bersama para pemangku kepentingan dan lembaga pemerintah. Rencana tersebut mencakup berbagai skenario, termasuk kondisi kabut asap dan ketersediaan masker N95 di lokasi apabila dibutuhkan.
Berdasarkan informasi yang tersedia, belum ada rencana untuk mengubah kegiatan hiburan selama Grand Prix Singapura akibat kabut asap. Balapan tetap dijadwalkan berlangsung pada 9–11 Oktober 2026.
Badan pengatur balap internasional, Fédération Internationale de l’Automobile (FIA), juga menyatakan kabut asap dan buruknya kualitas udara diperkirakan tidak mengancam aktivitas di lintasan maupun penyelenggaraan balapan malam F1.
Meski demikian, kondisi kualitas udara tetap dipantau. Pemerintah Singapura menyiapkan distribusi masker N95 bagi warga yang memenuhi syarat, termasuk kelompok lanjut usia dan kelompok rentan, jika PSI melampaui 200. Penutupan sekolah juga dapat dipertimbangkan apabila prakiraan PSI hari berikutnya melebihi 300 dan memasuki kategori berbahaya.
Badan Lingkungan Nasional Singapura (National Environment Agency/NEA) memantau PSI dan konsentrasi PM2.5 untuk menilai perkembangan kualitas udara. PSI 101–200 dikategorikan tidak sehat, sedangkan rentang 201–300 masuk kategori sangat tidak sehat.
Hingga informasi terakhir yang tersedia pada 10 Oktober 2026, balapan F1 Singapura tetap dijadwalkan berlangsung dengan dukungan medis dan langkah antisipasi terhadap kabut asap. Belum tersedia informasi resmi mengenai perubahan jadwal atau pembatalan balapan akibat kondisi tersebut.
