MOROWALI, MAL – Aksi massa Aliansi Masyarakat Desa Matarape di jalan hauling menuju kawasan jetty PT ASKON, Kabupaten Morowali, berujung chaos, Jumat (2/10).

Aksi tersebut awalnya digelar sebagai bentuk protes warga terhadap dampak aktivitas jalan hauling yang dinilai mengganggu kehidupan masyarakat, terutama akibat debu yang disebut menyebar hingga kawasan permukiman.

Namun, penyampaian aspirasi yang berlangsung sejak pagi kemudian berkembang menjadi pemblokiran akses, ketegangan dengan pihak perusahaan, hingga benturan fisik dan kerusakan sejumlah fasilitas, baik dari pihak warga pun dari perusahaan.

Massa mulai berkumpul sekitar pukul 09.00 WITA di rumah seorang warga Desa Matarape. Sekitar pukul 09.20 WITA, massa bergerak menuju perempatan jalan hauling yang menjadi akses utama menuju kawasan jetty.

Setibanya di lokasi, massa menyampaikan aspirasi melalui orasi. Mereka kemudian memasang kayu, bambu dan spanduk serta mendirikan tenda di badan jalan.

Aksi tersebut membuat akses menuju kawasan jetty terhenti dan aktivitas perusahaan di jalur tersebut ikut terdampak.

Sekitar pukul 10.01 WITA, perwakilan manajemen perusahaan mendatangi lokasi untuk menemui massa.

Komunikasi antara kedua pihak kemudian mengalami ketegangan. Personel kepolisian dan petugas keamanan berupaya meredakan situasi agar aksi tidak berkembang menjadi benturan.

Hingga sekitar pukul 10.45 WITA, pemblokiran masih berlangsung dan akses menuju kawasan jetty belum kembali normal.

Situasi kembali memanas sekitar pukul 12.15 WITA setelah dua kendaraan milik massa aksi dilaporkan mengalami kerusakan.

Polisi kemudian mendatangi lokasi sekitar pukul 12.45 WITA dan mengimbau masyarakat menahan diri serta tidak melakukan tindakan yang dapat memicu benturan maupun aksi balasan.

Namun, sekitar pukul 13.15 WITA, sejumlah warga kembali mendatangi lokasi.

Lima menit kemudian, situasi semakin tegang hingga terjadi benturan fisik yang melibatkan sebagian masyarakat dan pihak perusahaan.

Informasi awal menyebutkan benturan tersebut melibatkan penggunaan kayu, besi dan benda lainnya.

Sekitar pukul 13.28 WITA, situasi dilaporkan semakin tidak terkendali. Aksi saling serang terjadi di sekitar lokasi.

Dalam rangkaian kericuhan tersebut, sejumlah peralatan berat dilaporkan mengalami kerusakan. Muncul pula laporan mengenai pembakaran terhadap alat berat.

Dua kendaraan milik warga juga dilaporkan mengalami kerusakan berat.

Meski demikian, pihak yang bertanggung jawab atas masing-masing kerusakan maupun laporan pembakaran tersebut masih memerlukan verifikasi lebih lanjut.

Kronologi lengkap mengenai pemicu benturan dan pihak yang melakukan tindakan kekerasan juga perlu dikonfirmasi kepada kepolisian maupun pihak-pihak yang terlibat.

Kericuhan tersebut memperlihatkan eskalasi aksi yang bermula dari protes terhadap dampak aktivitas jalan hauling, kemudian berkembang menjadi pemblokiran akses dan berujung benturan.

Kondisi tersebut tidak hanya mengganggu aktivitas perusahaan, tetapi juga meningkatkan risiko keselamatan masyarakat dan pekerja di sekitar lokasi.

Aparat kepolisian terus melakukan upaya pengamanan dan mengimbau masyarakat agar tidak terprovokasi maupun melakukan aksi balasan.

Sementara itu, persoalan yang menjadi dasar aksi warga membutuhkan ruang dialog antara masyarakat, perusahaan dan pemerintah daerah.

Setiap dugaan tindak pidana dalam peristiwa tersebut perlu ditangani berdasarkan bukti dan mekanisme hukum yang berlaku.

Masyarakat juga diminta tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi agar situasi tidak semakin meluas. **