MOROWALI UTARA, MAL – BNNK Morowali Utara menyiapkan transformasi tata kelola Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkotika (P4GN) dengan memperkuat koordinasi lintas sektor, integrasi data, serta monitoring dan evaluasi.
Transformasi tersebut dikembangkan melalui Model Tata Kelola Kolaboratif P4GN yang melibatkan pemerintah daerah, aparat penegak hukum, dunia usaha, institusi pendidikan, organisasi kemasyarakatan, media, dan masyarakat.
Transformasi ini disusun oleh Kepala BNNK Morowali Utara, AKBP Anom Subawono, S.I.K., M.Si dalam laporan proyek perubahan Pelatihan Kepemimpinan Nasional Tingkat II, Angkatan XIX Tahun 2026.
Laporan berjudul “Transformasi Tata Kelola Kolaboratif P4GN di BNNK Morowali Utara dalam Mendukung Pembangunan Daerah” ini dimentori Dr. Baharuddin, S.E., M.Si, selaku Kepala Bidang Pemberantasan Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Sulawesi Tengah dan Coach Dr. Ir. Momon Rivai, M.Sc.
Penguji dari laporan ini sendiri adalah Dr. Harli Siregar, S.H., M.Hum, selaku Kepala Badan Pendidikan dan Pelatihan Kejaksaan RI.
Kepala BNNK Morowali Utara, AKBP Anom Subawono, mengatakan, langkah tersebut diperlukan karena penanganan narkotika tidak dapat dilakukan secara sektoral.
Anom yang merupakan Pamen Ditresnarkoba Polda Sulawesi Tengah dalam penugasan sebagai Kepala BNNK Morowali Utara ini, menjelaskan, tantangan P4GN di Morowali Utara semakin kompleks seiring pertumbuhan industri, meningkatnya investasi, pembangunan kawasan industri, serta mobilitas tenaga kerja.
“Kondisi tersebut menunjukkan bahwa penyelenggaraan P4GN di Kabupaten Morowali Utara memerlukan tata kelola yang mampu merespons dinamika lingkungan strategis secara cepat dan terpadu,” kata Anom dalam laporan proyek perubahannya.
Data yang dihimpun BNNK Morowali Utara menunjukkan pada 2025 terdapat 53 Laporan Polisi dengan 59 tersangka. Sementara hingga pertengahan Juli 2026 tercatat 24 Laporan Polisi dengan 31 tersangka, disertai penyitaan sekitar 485 gram sabu.
Menurut Anom, persoalan yang dihadapi bukan semata-mata kurangnya program P4GN. BNNK Morowali Utara telah menjalankan penyuluhan, pembentukan Tim Intervensi Berbasis Masyarakat (IBM), pelayanan rehabilitasi, tes urine, pelayanan Surat Keterangan Hasil Pemeriksaan Narkotika (SKHPN), operasi pemberantasan, hingga pelaporan kinerja.
Namun, pelaksanaan berbagai fungsi tersebut masih menghadapi persoalan dalam koordinasi dan integrasi.
“Permasalahan utama penyelenggaraan P4GN di BNNK Morowali Utara bukan terletak pada kurangnya program atau kegiatan yang dilaksanakan, melainkan pada belum optimalnya tata kelola kolaboratif yang mampu mengintegrasikan seluruh fungsi organisasi dan pemangku kepentingan dalam satu mekanisme kerja yang terpadu,” ujarnya.
Anom menyebut koordinasi lintas sektor masih bersifat insidental. Pengelolaan data juga belum sepenuhnya terintegrasi, sedangkan monitoring dan evaluasi belum dilakukan secara bersama.
Kondisi tersebut turut memengaruhi pemanfaatan data dalam perencanaan dan pengambilan keputusan.
Untuk menjawab persoalan tersebut, BNNK Morowali Utara mengembangkan Model Tata Kelola Kolaboratif P4GN yang mengintegrasikan sejumlah instrumen kerja.
Model tersebut mencakup Pedoman Model Tata Kelola, Forum Kolaborasi P4GN, SOP Kolaborasi, Target Kinerja Bersama, One Data P4GN, serta monitoring dan evaluasi.
“Transformasi tersebut diarahkan untuk memperkuat koordinasi lintas sektor, memperjelas pembagian peran, mengintegrasikan pengelolaan data, membangun mekanisme monitoring dan evaluasi yang berkelanjutan, serta mendukung pengambilan keputusan berbasis data,” kata Anom.
Dalam model tersebut, BNNK Morowali Utara berperan sebagai koordinator kolaborasi dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan sesuai tugas dan kewenangannya.
Forum Kolaborasi P4GN disiapkan sebagai wadah koordinasi dan sinergi lintas sektor, sementara SOP Kolaborasi menjadi acuan dalam perencanaan, pelaksanaan, pertukaran informasi, integrasi data, monitoring, evaluasi, hingga pelaporan.
Menurut Anom, mekanisme tersebut diperlukan agar kolaborasi tidak berlangsung secara sporadis, tetapi memiliki alur kerja dan pembagian peran yang jelas.
Salah satu bagian penting dari transformasi tersebut adalah pengembangan One Data P4GN sebagai mekanisme integrasi data lintas sektor.
Data yang terintegrasi diharapkan dapat digunakan untuk mendukung perencanaan, monitoring, evaluasi, serta pengambilan keputusan.
BNNK Morowali Utara juga merencanakan pengembangan Executive Dashboard P4GN Versi 1.0 sebagai sarana monitoring dan pendukung pengambilan keputusan berbasis data.
“Penguatan tata kelola tersebut diharapkan meningkatkan kualitas perencanaan dan pengambilan keputusan berbasis data serta mendukung efektivitas penyelenggaraan P4GN di Kabupaten Morowali Utara,” ujarnya.
Selain integrasi data, Model Tata Kelola Kolaboratif P4GN akan dilengkapi Target Kinerja Bersama sebagai dasar pengukuran keberhasilan kolaborasi antar-pemangku kepentingan.
Anom menjelaskan, transformasi dilakukan secara bertahap. Tahap awal difokuskan pada pembentukan Tim Efektif, penyusunan Model Tata Kelola Kolaboratif P4GN, penyusunan SOP, pembentukan Forum Kolaborasi, sosialisasi kepada stakeholder, pembangunan komitmen bersama, serta uji coba implementasi dan evaluasi quick wins.
Tim Efektif dibagi ke dalam bidang Tata Kelola dan Kolaborasi, Data dan Teknologi Informasi, Program dan Implementasi, Monitoring dan Evaluasi, serta Komunikasi dan Publikasi.
Pembentukan tim diperkuat melalui Surat Keputusan Tim Efektif sebagai dasar pembagian tugas, tanggung jawab, dan keterlibatan anggota dalam implementasi proyek perubahan.
Tahap berikutnya diarahkan pada implementasi Model Tata Kelola dan SOP Kolaborasi pada stakeholder sesuai tugas dan kewenangan masing-masing.
Forum Kolaborasi P4GN akan dilaksanakan secara rutin, disertai monitoring dan evaluasi berkala.
Berdasarkan roadmap proyek perubahan, fase jangka menengah berlangsung pada November 2026 hingga Februari 2027.
Pada periode tersebut, BNNK Morowali Utara menargetkan implementasi Model Tata Kelola, pelaksanaan Forum Kolaborasi secara rutin, pengembangan One Data P4GN, penetapan Target Kinerja Bersama, serta pengembangan dan pengoperasian Executive Dashboard P4GN Versi 1.0.
Sementara dalam jangka panjang, transformasi diarahkan pada institusionalisasi Model Tata Kelola Kolaboratif P4GN sebagai mekanisme kerja organisasi, pemeliharaan One Data P4GN dan Executive Dashboard, pengembangan Executive Dashboard Versi 2.0, serta replikasi model ke wilayah lain.
Anom mengatakan keberlanjutan menjadi bagian penting agar proyek perubahan tidak berhenti setelah pencapaian output jangka pendek.
“Proyek perubahan tidak berakhir ketika output tercapai; perubahan dimulai ketika output tersebut menjadi cara kerja baru yang terus dipelihara dan dikembangkan,” ujarnya.
Ia menambahkan, transformasi tata kelola tersebut pada akhirnya diarahkan untuk membangun ekosistem P4GN yang kolaboratif, terintegrasi, adaptif, berbasis data, dan berkelanjutan.
“Perubahan ini diarahkan untuk mendukung terwujudnya Kabupaten Morowali Utara yang aman, sehat, produktif, dan kondusif bagi pembangunan daerah yang berkelanjutan,” kata Anom.
