JENEWA, MAL — Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan sistem kesehatan Yaman semakin mendekati titik kritis di tengah kembali meningkatnya konflik. Kondisi itu diperburuk oleh penyebaran tiga penyakit menular secara bersamaan, yakni kolera, demam berdarah dengue, dan campak.

Direktur Kedaruratan WHO untuk kawasan Mediterania Timur, Annette Heinzelmann, mengatakan lebih dari satu dekade konflik telah melemahkan sistem kesehatan Yaman. Eskalasi terbaru memperbesar jumlah korban, memicu gelombang pengungsian baru, dan menambah tekanan terhadap layanan kesehatan yang sebelumnya sudah rapuh.

“Eskalasi terbaru mendorong sistem kesehatan yang sudah rapuh menuju titik kritis,” kata Heinzelmann kepada wartawan di Jenewa, Selasa (29/9/2026).

WHO mencatat 7.784 kasus suspek kolera atau diare berair akut dengan 22 kematian. Pada periode yang sama, terdapat 9.604 kasus demam berdarah dengue dengan 37 kematian.

Situasi campak dinilai lebih mengkhawatirkan. Lebih dari 22 ribu kasus suspek telah dilaporkan sepanjang tahun ini dengan 128 kematian.

Krisis kesehatan Yaman tidak hanya disebabkan korban langsung konflik. Perpindahan penduduk, buruknya sanitasi, keterbatasan air bersih, dan kepadatan di lokasi pengungsian menciptakan kondisi yang memungkinkan penyakit menular menyebar lebih cepat.

Sistem Kesehatan di Ambang Krisis

Bahkan sebelum pertempuran terbaru meningkat, hanya sekitar 60 persen fasilitas kesehatan di Yaman yang beroperasi penuh. Kapasitas untuk melakukan operasi trauma, transfusi darah, dan perawatan intensif juga sangat terbatas.

WHO melaporkan sembilan fasilitas atau aset kesehatan telah rusak, ditutup, tidak dapat digunakan, atau terkena serangan. Sebagian besar berada di wilayah Taiz, Lahj, dan Al Hudaydah.

Tekanan terhadap rumah sakit bahkan memaksa dua fasilitas di Marib dan Ras Al-Arah menghentikan layanan obstetri darurat komprehensif dan perawatan bayi baru lahir. Tenaga medis dan kapasitas operasional di kedua rumah sakit tersebut dialihkan untuk menangani korban trauma akibat konflik.

Kondisi itu menggambarkan dilema yang dihadapi fasilitas kesehatan Yaman. Ketika jumlah korban luka akibat perang bertambah, tenaga dan sumber daya yang seharusnya digunakan untuk persalinan, perawatan bayi baru lahir, imunisasi, dan penyakit umum harus dialihkan untuk layanan trauma.

Sementara itu, kebutuhan masyarakat tidak berkurang. Perempuan hamil tetap membutuhkan layanan persalinan, anak-anak memerlukan imunisasi, pasien penyakit kronis membutuhkan obat, sementara penyakit menular terus menyebar.

Lebih dari 180 Ribu Orang Mengungsi

WHO mencatat lebih dari 180.500 orang telah mengungsi di 10 provinsi akibat eskalasi konflik terbaru. Sejak 10 September, lebih dari 3.600 warga Yaman juga telah menyeberang menuju Djibouti, hampir separuh di antaranya merupakan anak-anak.

Mitra kemanusiaan mempersiapkan kemungkinan kedatangan 5.000 hingga 10 ribu warga Yaman tambahan ke Djibouti dalam beberapa pekan mendatang. Gelombang pengungsi tersebut berpotensi menambah tekanan terhadap sistem kesehatan Djibouti yang juga menghadapi persoalan malnutrisi, kolera, campak, dan malaria.

PBB sebelumnya memperingatkan kepadatan di lokasi pengungsian meningkatkan risiko penyebaran kolera dan campak. Kondisi air yang tidak aman serta sanitasi yang buruk membuat penyakit yang sebenarnya dapat dicegah menjadi semakin sulit dikendalikan.

Sejak 6 Agustus, otoritas kesehatan yang berbasis di Aden melaporkan 4.481 korban akibat eskalasi konflik, termasuk 838 orang meninggal. Data tersebut menunjukkan besarnya beban yang harus ditanggung sistem kesehatan Yaman.

Stok Obat Mulai Habis

WHO berupaya mempertahankan layanan darurat di tengah situasi tersebut. Badan kesehatan PBB itu telah mengirimkan 59,3 ton pasokan medis senilai sekitar 656 ribu dolar AS ke 40 fasilitas dan kantor di 10 provinsi.

Lebih dari 20 tim medis bergerak juga telah diterjunkan ke sejumlah wilayah prioritas yang menerima pengungsi. Tim tersebut memberikan pelayanan kesehatan dasar di daerah yang fasilitas permanennya tidak lagi mampu menampung kebutuhan masyarakat.

Namun, persoalan utama kini bukan hanya distribusi, melainkan ketersediaan barang. WHO menyatakan sejumlah pasokan penyelamat nyawa di gudangnya di Aden telah mencapai stok nol, termasuk perangkat penanganan trauma dan beberapa obat esensial.

Kondisi tersebut mempersempit kemampuan respons medis. Rumah sakit dapat memiliki tenaga kesehatan, tetapi tanpa obat, alat bedah, cairan infus, atau perangkat trauma, pelayanan terhadap pasien tetap tidak dapat berjalan optimal.

WHO membutuhkan sekitar sembilan juta dolar AS untuk respons kesehatan darurat saat ini. Hingga akhir September, baru sekitar dua juta dolar AS yang berhasil dihimpun.

Kolera Kembali Jadi Ancaman

Yaman telah lama menghadapi kolera. Konflik berkepanjangan, kerusakan jaringan air, gangguan sanitasi, dan melemahnya layanan kesehatan membuat negara tersebut berulang kali menghadapi wabah penyakit yang ditularkan melalui air.

Dalam laporan global terbaru, WHO menempatkan Yaman sebagai salah satu dari tujuh negara yang menyumbang sekitar 90 persen kasus dan kematian kolera yang dilaporkan dunia sepanjang 2025. Enam negara lainnya adalah Angola, Bangladesh, Republik Demokratik Kongo, Nigeria, Sudan Selatan, dan Sudan.

Kolera dapat ditangani secara efektif apabila pasien memperoleh cairan rehidrasi dan perawatan dengan cepat. Namun, penyakit itu menjadi berbahaya ketika masyarakat kesulitan mencapai fasilitas kesehatan atau fasilitas tersebut kekurangan obat dan tenaga medis.

Perpindahan penduduk turut memperbesar risiko. Ribuan keluarga kini tinggal di tempat sementara yang tidak selalu memiliki akses memadai terhadap air bersih, toilet, dan sistem pembuangan limbah.

Campak menghadirkan persoalan serupa. Penyakit ini sangat mudah menular, terutama di tengah populasi anak yang padat dan memiliki cakupan vaksinasi rendah.

Konflik Picu Krisis Baru

Krisis kesehatan berlangsung bersamaan dengan kembali meningkatnya pertempuran setelah beberapa tahun situasi relatif lebih tenang menyusul gencatan senjata 2022. Pertempuran antara kelompok Houthi dan pasukan pemerintah Yaman kembali meningkat dalam beberapa bulan terakhir dan menyebabkan korban serta pengungsian dalam skala besar.

Reuters melaporkan pasukan Houthi dalam beberapa pekan terakhir memperoleh kemajuan di sepanjang pesisir Laut Merah dan mendekati kawasan strategis Bab al-Mandab. Perkembangan tersebut meningkatkan kekhawatiran terhadap kondisi kemanusiaan Yaman sekaligus keamanan jalur pelayaran internasional.

Arab Saudi dan Houthi juga kembali terlibat dalam serangan lintas batas. Pada 24 September, Riyadh menyatakan berhasil mencegat enam rudal balistik yang ditembakkan Houthi. Sementara itu, kelompok Houthi mengklaim melakukan serangan terhadap sejumlah sasaran di Arab Saudi.

Bagi masyarakat Yaman, dampak paling langsung dari eskalasi tetap terjadi di dalam negeri. Pertempuran mengganggu jalur pasokan, memaksa penduduk meninggalkan rumah, merusak fasilitas kesehatan, dan membuat akses bantuan kemanusiaan semakin sulit.

Anak-Anak Paling Rentan

Krisis penyakit berlangsung bersamaan dengan memburuknya malnutrisi anak. UNICEF memperkirakan sekitar 2,2 juta anak berusia di bawah lima tahun di Yaman akan mengalami malnutrisi akut tahun ini. Lebih dari 500 ribu di antaranya berpotensi mengalami kondisi paling parah.

Dalam pemeriksaan terhadap hampir 2.900 anak di wilayah yang dapat dijangkau tim gizi bergerak, lebih dari seperempat ditemukan mengalami malnutrisi akut. Sekitar 200 anak mengalami malnutrisi akut berat.

Malnutrisi membuat anak lebih rentan terhadap penyakit infeksi seperti campak dan diare. Sebaliknya, infeksi berkepanjangan juga dapat memperburuk status gizi sehingga menciptakan lingkaran krisis yang sulit diputus.

Karena itu, WHO menilai respons kesehatan Yaman tidak dapat hanya berfokus pada korban luka akibat konflik. Pelayanan ibu dan anak, imunisasi, nutrisi, kesehatan mental, pengendalian penyakit menular, serta penyediaan air dan sanitasi harus berjalan secara bersamaan.

Di tengah keterbatasan fasilitas, kekurangan obat, dan minimnya pendanaan, kebutuhan tersebut justru terus meningkat. Konflik yang kembali meluas membuat Yaman menghadapi dua krisis sekaligus: korban perang yang terus berdatangan dan penyakit menular yang menyebar di tengah masyarakat yang semakin rentan.