PALU, MAL – Muhammad Anugerah Pratama mengungkapkan alasan memilih meninggalkan Partai NasDem dan bergabung dengan Partai Solidaritas Indonesia (PSI), mulai dari ketidaksesuaian jargon NasDem sebagai partai tanpa mahar, hingga persoalan yang menyangkut ayahnya, Ahmad M Ali.

Hal itu disampaikan Nugie, sapaan akrabnya, saat konferensi pers di salah satu kafe di Palu, Selasa (29/09).

Nugie yang sebelumnya menjabat Wakil Ketua II DPRD Kota Palu dari Partai NasDem mengatakan, keputusan meninggalkan partai tersebut diambil setelah melalui pertimbangan pribadi.

Ia menyebut persoalan yang dialami ayahnya menjadi salah satu faktor mendasar dalam keputusannya.

“Pasti banyak yang bertanya-tanya mengapa saya mau pindah ke PSI. Sebenarnya, sejak awal NasDem memiliki jargon partai tanpa mahar. Namun, setelah saya masuk ke dalamnya, ternyata tidak sesuai yang sebenarnya,” kata Nugie.

Ia menilai, jargon politik tanpa mahar yang selama ini disampaikan Partai NasDem tidak sesuai dengan pengalamannya setelah menjadi bagian dari partai tersebut.

“Mereka mengatakan politik tanpa mahar, tetapi ketika sudah berada di dalam, ternyata tidak sesuai dengan kenyataannya,” ujarnya.

Selain persoalan tersebut, Nugie mengungkapkan, keputusan untuk pindah partai juga berkaitan dengan perlakuan Partai NasDem terhadap ayahnya, Ahmad M Ali.

Menurut Nugie, ayahnya telah banyak berkorban untuk Partai NasDem, tetapi pada akhirnya tidak lagi dihargai sebagaimana yang ia harapkan.

“Keinginan untuk pindah itu muncul secara tiba-tiba. Sebenarnya, bukan saya sendiri yang menjadi awalnya, tetapi lebih tepatnya ketika Bapak saya mengalami sesuatu,” kata Nugie.

Ia menilai persoalan yang dialami ayahnya menjadi hal yang sangat mendasar dalam menentukan pilihan politiknya.

“Menurut saya, ketika Bapak saya sudah tidak dihargai, itu merupakan persoalan yang sangat fatal. Padahal, beliau sudah banyak berkorban,” ujarnya.

Ahmad M Ali merupakan ayah Nugie yang sebelumnya menjabat Wakil Ketua Umum DPP Partai NasDem. Ia kemudian meninggalkan NasDem dan bergabung dengan PSI, tempatnya kini menjabat sebagai Ketua Harian DPP PSI.

Lebih lanjut, ia juga mengaku melihat kesesuaian antara visi dan misi PSI dengan kebutuhan konstituennya di lapangan.

Menurut dia, melalui PSI, sejumlah program dan upaya yang belum diselesaikan sebelumnya diharapkan dapat dilanjutkan untuk masyarakat Kota Palu.

“Saya memilih PSI karena melihat banyak visi dan misi partai ini yang bersentuhan langsung dengan kebutuhan konstituen saya di lapangan. Oleh karena itu, saya memilih partai ini dengan kesadaran penuh,” ujar Nugie.

Nugie juga menegaskan bahwa perpindahan partai tidak akan mengubah komitmennya untuk tetap berbuat baik kepada masyarakat.

“Jabatan bukanlah halangan bagi saya untuk berbuat baik. Saya masih menjadi Nuge yang seperti dulu. Mungkin partainya saja yang sudah berbeda,” katanya.

Di tempat yang sama, Pengurus DPW PSI Sulawesi Tengah, Ferry Anwar, juga menyampaikan pandangannya mengenai alasan perpindahan Nugie.

Menurut Ferry, persoalan yang menyangkut Ahmad M Ali menjadi salah satu alasan utama Nugie meninggalkan NasDem.

“Sebenarnya, hal yang paling mendasar adalah karena Ahmad Ali, Bapak Nugie, sudah mengurus Partai NasDem selama 11 tahun. Namun, pada akhirnya, NasDem justru menganggap orang lain,” kata Ferry.

Ferry juga mengaitkan keputusan tersebut dengan pengalaman Ahmad M Ali ketika maju dalam Pilkada 2024.

“Begitu juga ketika beliau maju dalam Pilkada 2024 kemarin. Itu yang menjadi alasan mendasar mengapa Nugie akhirnya memilih hengkang dari NasDem,” ujarnya.

Ferry menambahkan, menurutnya, perpindahan partai merupakan bagian dari pilihan politik seseorang. Namun, ia menilai penghargaan terhadap kader merupakan hal penting dalam hubungan antara partai dan anggotanya.

“Menurut beliau, pilihan partai memang tidak akan selamanya sama. Seseorang bisa berpindah-pindah partai. Namun, sebagai sebuah partai, penting untuk menghargai kadernya, apalagi jika kader tersebut merupakan kader terbaik,” kata Ferry.