PALU, MAL – PT PLN menjelaskan kondisi terkini sistem kelistrikan Sulawesi Bagian Selatan (Sulbagsel) kepada Aliansi Mahasiswa Peduli Rakyat (AMPERA) dalam kunjungan dan dialog yang berlangsung di Kantor PLN UP3 Palu, Selasa (29/09).
Pertemuan tersebut dilakukan sebagai bagian dari upaya PLN membangun komunikasi dan memberikan pemahaman terkait kondisi pasokan listrik yang masih menghadapi tantangan akibat faktor cuaca dan keterbatasan pasokan dari pembangkit listrik tenaga air (PLTA).
Kunjungan mahasiswa diterima oleh Pelaksana Harian (Plh) Manager PLN UP3 Palu I Made Agus Adi Mertha bersama jajaran asisten manajer.
Dalam kesempatan itu, PLN memaparkan kondisi sistem kelistrikan, faktor yang memengaruhi pasokan, serta langkah-langkah yang dilakukan untuk meningkatkan keandalan layanan listrik bagi masyarakat.
“Dalam beberapa waktu terakhir, sistem kelistrikan Sulbagsel mengalami penurunan kapasitas pembangkit hidro yang turut berdampak pada ketersediaan pasokan listrik di sejumlah wilayah, termasuk Kota Palu dan sekitarnya. Salah satu faktor yang memengaruhi kondisi tersebut adalah fenomena El Nino yang berdampak pada berkurangnya ketersediaan air sebagai sumber energi primer pembangkit hidro,” ujar I Made Agus Adi Mertha.
Ia menjelaskan, saat ini pengoperasian PLTA Poso masih dilakukan secara terbatas pada kisaran 90 hingga 100 megawatt (MW) dari total kapasitas terpasang 515 MW. Kondisi tersebut menjadi salah satu tantangan dalam menjaga keseimbangan antara pasokan dan kebutuhan listrik pada sistem interkoneksi Sulbagsel.
Secara terpisah, Manajer Komunikasi dan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) PLN UID Suluttenggo, Noven Koropit, mengatakan PLN terus melakukan berbagai upaya untuk memperkuat sistem kelistrikan dan meminimalkan dampak keterbatasan pasokan terhadap pelanggan.
“Penambahan kapasitas pembangkit, optimalisasi pembangkit yang tersedia, serta penguatan energi primer menjadi bagian dari upaya kami untuk memperbaiki kondisi sistem secara bertahap,” kata Noven.
Untuk menjaga keseimbangan sistem, PLN telah mengoperasikan pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) baru di Ladumpi yang menambah daya sekitar 6 MW. Selain itu, PLN juga memperkuat ketersediaan energi primer bagi PLTD agar dapat beroperasi lebih optimal hingga 24 jam.
Menurut PLN, langkah tersebut membantu mengurangi durasi pengaturan beban yang dirasakan pelanggan dibandingkan kondisi sebelumnya.
PLN juga melakukan peningkatan pasokan melalui peningkatan daya pada PLTU Jeneponto sebagai bagian dari strategi memperkuat sistem interkoneksi Sulbagsel.
Dalam dialog tersebut, PLN turut membuka peluang kolaborasi dalam pengembangan energi baru terbarukan, termasuk Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS).
“PLN terbuka terhadap kolaborasi dan partisipasi berbagai pihak dalam pengembangan energi baru terbarukan, termasuk PLTS. Tentunya seluruh proses harus mengikuti ketentuan dan regulasi yang berlaku agar dapat memberikan manfaat secara optimal bagi masyarakat dan sistem kelistrikan,” tambah Noven.
PLN menyampaikan apresiasi kepada masyarakat, pelanggan, dan seluruh pemangku kepentingan atas dukungan yang diberikan selama proses penguatan sistem berlangsung. ***
