Saat musibah dan bencana menghampiri kita, kadang yang dijadikan kambing hitam adalah alam. Artinya, alam dianggap sedang murka. Ketika sakit datang, yang disalahkan pula konsumsi makanan, kurang olahraga, dan seterusnya.

Ketika kita dizalimi oleh atasan atau majikan karena belum membayar gaji bulanan, kadang yang menjadi biang kesalahan adalah majikan atau bos yang dijuluki pelit atau bakhil.

Walau memang sebab-sebab tadi bisa jadi benar sebagai penyebab, namun jarang ada yang merenungkan bahwa karena dosa atau maksiat yang kita perbuat, akhirnya Allah mendatangkan musibah, menurunkan penyakit, atau ada yang menzalimi kita.

Coba kita renungkan ayat yang akan dibahas berikut ini:

“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. Asy-Syura: 30).

Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Wahai sekalian manusia, ketahuilah bahwa musibah yang menimpa kalian tidak lain adalah disebabkan karena dosa yang kalian dahulu perbuat. Dan Allah memaafkan kesalahan-kesalahan kalian tersebut. Dia bukan hanya tidak menyiksa kalian, namun Allah langsung memaafkan dosa yang kalian perbuat.”

Karena memang Allah akan menyiksa seorang hamba karena dosa yang ia perbuat. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman:

“Dan kalau sekiranya Allah menyiksa manusia disebabkan usahanya, niscaya Dia tidak akan meninggalkan di atas permukaan bumi suatu makhluk yang melata pun.” (QS. Fathir: 45).

Jelaslah bahwa Allah SWT telah mengingatkan bahwa sebagian dampak buruk dari ulah tangan kita akan ditimpakan kepada kita. Dampak buruk itu sepatutnya menyadarkan kita tentang tugas dan kewajiban hidup di dunia.

Kita berkewajiban memelihara alam ini. Alam ini diperuntukkan bukan hanya untuk yang hidup di masa sekarang, tetapi juga bagi anak cucu kita di masa yang akan datang.

Karena itu, kita diajak untuk benar-benar memelihara diri dari hal-hal yang berdosa. Ciri-ciri orang mukmin ialah segera bertaubat bila melakukan kesalahan. Apalagi azab yang lebih berat akan ditimpakan bila kita mengulanginya berkali-kali.

Bisa jadi itu dalam bentuk ketidakmampuan untuk kembali lagi ke jalan yang benar hingga maut menjemput.

Oleh sebab itu, orang yang lemah imannya tidak jarang lebih sibuk mempelajari sebab-sebab musibah di luar dirinya. Lebih sibuk mengikuti logika akal pikirannya dan mengandalkan ilmunya yang tidak seberapa banyak.

Padahal, ada yang lebih utama dan lebih prioritas untuk dipelajari terlebih dahulu, yaitu kesalahan dirinya sendiri. Inilah hal pertama yang penting untuk diperhatikan dan diperbaiki.

Mudah-mudahan apa yang terjadi selama ini membuat kita berpikir kembali tentang cara memanfaatkan alam secara seimbang. Perlu diiringi dengan upaya memberdayakan sumber daya manusia yang semakin bertambah banyak.

Setiap orang memiliki potensi yang perlu dikenali dan dikembangkan lebih lanjut. Kita perlu menjadi kreatif dalam hidup ini agar jangan terlalu bergantung pada alam. Insya Allah, setiap kreativitas akan menjadi amalan jariyah karena bisa menghasilkan pahala terus-menerus bila dimanfaatkan orang banyak dalam jangka waktu yang lama.

Dan tidaklah suatu musibah atau ujian itu ditimpakan kepada seorang mukmin kecuali sebagai pembersih dosa dan kesalahannya di dunia sehingga tidak ada lagi baginya siksa atas dosa itu di akhirat.

Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Tirmidzi, disebutkan bahwa Rasulullah SAW bersabda:

“Tidaklah seorang mukmin atau mukminah yang ditimpa suatu bala’ (cobaan) sehingga ia berjalan di bumi tanpa membawa kesalahan.”

Sementara musibah atau ujian yang diberikan kepada orang-orang kafir adalah bagian dari azab Allah kepada mereka di dunia, sementara azab yang lebih besar telah menanti mereka di akhirat, sebagaimana firman-Nya:

“Dan sesungguhnya Kami merasakan kepada mereka sebagian azab yang dekat (di dunia) sebelum azab yang lebih besar (di akhirat), mudah-mudahan mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. As-Sajdah: 21). Wallahu a’lam

Darlis Muhammad (Redaktur Senior Media Alkhairaat)