Di Desa Sinei, Kecamatan Tinombo Selatan, Kabupaten Parigi Moutong, lahir sebuah ikhtiar sederhana lahir pada 2021. Berbekal keyakinan dan semangat pengabdian, Madrasah Diniyah Awaliyah (MDA) Alkhairaat Sinei mulai dibangun dari nol.
Penggagasnya adalah Asnani Syafruddin, S.Pd.I, yang mendapat dukungan penuh dari salah satu tokoh agama setempat, Haldun. Tujuan pendiriannya sederhana namun mendasar: mencetak generasi Abnaulkhairaat yang beradab dan mencintai guru.
“Alasan utamanya adalah mencetak generasi atau Abnaulkhairaat yang beradab dan cinta guru (cinta Alkhairaat),” ujar Asnani kepada Media Alkhairaat, Rabu (6/3).
Sebelum MDA berdiri, kondisi pendidikan agama anak-anak di desa tersebut dinilai belum maksimal. Sebagian anak memang sudah mampu mengaji dan menghafal surah-surah pendek, tetapi belum memahami dasar-dasar ilmu agama secara utuh.
“Anak-anak yang bisa mengaji bahkan sudah mencoba menghafal surah-surah pendek, tapi tidak tahu menulis apa yang mereka baca dan hafal. Dan juga kurang beradab terhadap ilmu, terhadap guru dan orang tua,” tutur Asnani.
Menurutnya, perubahan karakter bukan perkara mudah. Hingga kini, tantangan tersebut masih terus dihadapi para guru.
“Sedangkan sudah berjalan ini MDA, masih sulit mengubah kebiasaan cara berbicara dan perilaku mereka yang lama,” katanya.
Saat pertama kali beroperasi, MDA Alkhairaat Sinei memiliki 43 siswa dengan lima orang guru. Dukungan masyarakat pun beragam.
“Secara moril banyak yang mendukung. Ada juga yang mendukung tapi tidak menyuruh anaknya sekolah di MDA. Ada yang dukung, tapi tidak mau kalau bayar iuran per bulan,” ungkapnya.
Karena kondisi tersebut, sejak awal hingga sekarang MDA tidak pernah memberlakukan iuran kepada santri.

Dari Menumpang hingga Memiliki Fasilitas Sendiri
Perjalanan MDA tidak selalu mudah. Pada masa awal berdiri, kegiatan belajar mengajar harus menumpang di gedung SDN Sinei karena gedung Alkhairaat belum memiliki sarana yang memadai.
“Termasuk meja, papan tulis dan kursi belum ada,” kenang Asnani.
Setelah tiga bulan menumpang, pihak madrasah meminta pertimbangan kepada almarhum DR. Habib Hasan Al-Habsyi. Dukungan yang diberikan menjadi titik balik perkembangan madrasah.
“Dari beliau kami banyak dibantu baik secara moril dan materil,” ujarnya.
Habib Hasan kemudian mengirimkan sebuah pesan suara yang berisi ajakan kepada masyarakat untuk membantu kebutuhan MDA. Respons yang datang di luar dugaan.
“Tidak membutuhkan waktu yang lama. Donasi mengalir dan terus mengalir. Sampai kami bisa pindah dari gedung SD ke gedung Alkhairaat yang dulunya MTS Alkhairaat pada masanya, sekarang jadi gedung MDA,” tutur Asnani.
Saat ini jumlah tenaga pengajar telah bertambah menjadi delapan guru dan satu operator. Sementara jumlah santri terus mengalami peningkatan hingga mencapai sekitar 115 orang.

Menjaga Tradisi Keilmuan Alkhairaat di Tengah Tantangan
Pada awal berdiri, kurikulum yang digunakan masih mengandalkan materi-materi dasar yang diingat para guru saat menempuh pendidikan di lingkungan Alkhairaat.
“Kebetulan semua guru adalah alumni Alkhairaat. Dan termasuk saya pribadi sebagai kepala madrasah masih menyimpan buku-buku waktu masih sekolah di MTs Alkhairaat Pusat Palu,” jelasnya.
Seiring perjalanan waktu, setelah terdaftar secara resmi di Pengurus Besar Alkhairaat, MDA mulai menggunakan kurikulum yang dikirim langsung oleh PB Alkhairaat.
Berbagai mata pelajaran keagamaan diajarkan, mulai dari Al-Qur’an, Hadits, Tauhid, Fiqih, Tarikh, Nahwu Sharaf, Bahasa Arab, Mahfudzat, Imla hingga Sejarah Alkhairaat.
Proses belajar berlangsung dua jam setiap hari dengan metode membaca, menulis, menghafal, menulis kembali, hingga praktik imla. Selain itu terdapat pembinaan khusus berupa praktik salat dan hafalan Al-Qur’an.
Di balik perkembangan yang ada, tantangan besar masih membayangi.
“Cara menarik minat anak-anak untuk sekolah terus setiap hari. Apalagi ditambah lagi sekarang anak-anak SD sekolah fullday. Anak-anak terlihat capek,” kata Asnani.
Persoalan pendanaan operasional juga masih menjadi pekerjaan rumah. Honor guru yang terbatas menjadi kenyataan yang harus dihadapi.
“Isu honor guru diniyah masih menjadi tantangan di banyak daerah. Itu benar,” ujarnya.
Saat ini para guru menerima insentif dari Alokasi Dana Desa sebesar Rp200 ribu per bulan. Selebihnya ditopang dari hasil pertanian sawah wakaf Alkhairaat.
Di sisi lain, kebutuhan ruang belajar juga belum sepenuhnya terpenuhi.
“Belum. Dua kelas masih menumpang di MIS,” katanya ketika ditanya mengenai kecukupan sarana dan prasarana.

Strategi Kreatif Menarik Minat Santri
Ketika ditanya mengenai strategi menarik minat generasi muda belajar agama, Asnani mengaku pertanyaan itu adalah yang paling ditunggunya.
“Wooow.. Dari tadi pertanyaan ini yang saya tunggu-tunggu. Saya kira tidak ada,” ujarnya sambil tertawa.
Sejak awal, berbagai cara telah dicoba. Mulai dari menyediakan makanan dan minuman saat pembelajaran, memberikan hadiah berupa buku, pulpen dan penghapus, hingga memberikan reward uang tunai bagi siswa berprestasi.
Namun berbagai cara itu belum memberikan hasil maksimal.
“Kami coba lagi dengan memberi reward dalam bentuk uang untuk yang juara. Dan ini juga belum terlalu memberi daya tarik full,” katanya.
Strategi lain kemudian diterapkan dengan membagikan satu paket buku kepada setiap santri saat penerimaan laporan pendidikan kenaikan kelas.
“Dan semoga saja strategi ini bisa membuat mereka istiqomah. Aamiin,” harapnya.
Bagi Asnani, ukuran keberhasilan madrasah tidak hanya soal nilai atau hafalan, melainkan kemampuan anak-anak hadir dan bermanfaat di tengah masyarakat.
“Targetnya adalah anak-anak yang bisa berdiri di masyarakat baik itu bisa adzan, iqomah, atau bisa jadi imam, baca doa,” ujarnya.
Meski demikian, tujuan terbesar yang ingin dicapai tetaplah pembentukan karakter.
“Yang paling utama adalah bisa mencetak anak-anak yang punya adab dan bisa berdoa serta memahami isi dari doanya.”
Program tahfiz juga terus dikembangkan. Saat ini sudah ada santri yang berhasil menghafal satu juz penuh, sementara beberapa lainnya sedang menyelesaikan Juz 29 dan Juz 1.

Kebaikan yang Mencari Jalannya Sendiri
Di antara sekian banyak kenangan selama merintis MDA, satu momen paling membekas bagi Asnani adalah ketika ia memutuskan meninggalkan pekerjaannya sebagai guru Pendidikan Agama Islam demi kembali ke kampung halaman dan membangun madrasah.
“Tapi waktu itu saya dan suami tidak pernah berpikir bahwa kami tidak mampu. Kami hanya percaya bahwa kebaikan akan mencari jalan sendiri,” tuturnya.
Ia mengaku tidak pernah mendapat jaminan kesejahteraan saat memulai langkah tersebut.
“Sampai saya meninggalkan pekerjaan saya sebagai guru PAI di SMP 3 Tinombo Selatan. Saya kuat bahwa saya harus kembali ke Sinei untuk buka MDA, dengan tidak seorang pun menjanjikan kesejahteraan buat kami.”
Keyakinan itulah yang terus menjadi bahan bakar perjuangan mereka hingga hari ini.
Menurutnya, mungkin belum banyak kontribusi besar yang terlihat di mata masyarakat. Namun setiap hari, anak-anak MDA hadir mengumandangkan adzan di masjid, mengikuti berbagai perlombaan, istiqamah bertakbir saat hari raya, serta membiasakan tawassul sebelum belajar.
“Pencapaian yang membanggakan buat kami gurunya, sudah ada yang bisa hafal satu juz, sudah bisa semua hafal bacaan salat dengan baik, sudah tahu sejarah dasar Alkhairaat, bisa tampil pidato. Secara mental, anak MDA Alkhairaat Sinei, Insya Allah bisa bertarung,” tegasnya.
Di masa depan, cita-cita terbesar yang ingin diwujudkan adalah lahirnya generasi penerus yang mampu menjaga estafet perjuangan tersebut.
“Ingin mewujudkan Generasi Abnaulkhairaat yang beradab, bertakwa dan bisa menjadi penerus madrasah ini kalau kitorang guru-guru sudah tiada,” ucapnya lirih.
