PALU – Pihak Universitas Tadulako (Untad) mengubah metode Pengenalan Kehidupan Kampus Mahasiswa Baru (PKKMB), tahun ini, untuk menghindari perpoloncoan di kalangan mahasiswa.

“Jadi tidak ada lagi kegiatan seremonial, tapi mahasiswa langsung ke kelas-kelas untuk menerima materi,” ujar Ketua Panitia PKKMB Untad, Dr. Intam Kurnia, di Kampus Untad, Senin (06/08).

Intan menuturkan, kegiatn itu akan berlanmgsung selama lima hari, hingga Jumat (10/08) mendatang. Setiap harinya, mahasiswa menerima materi, mulai pukul 08.00 Wita sampai 12.00 Wita.

Ruangan yang disiapkan Untad untuk kegiatan itu berjumlah 160 dan 180 pemateri yang merupakan dosen dari internal Untad. Dosen tersebut sudah mengikuti TOT dua bulan sebelumnya.

“Dalam hal ini kita lebih memanusiakan manusia, tidak ada lagi perpoloncoan. Salah satu indicator, saat ini mahasiswa tidak ada lagi duduk di bawah, mereka sudah duduk di kursi. Terus kontrolnya lebih baik, karena di setiap kelas, juga ada pendamping dari unsur dosen dan mahasiswa. Pendamping ini berperan memfasilitasi ketika habis materi tidak ada yang di luar menunggu pemateri berikutnya,” jelasnya.

Intam menambahkan, metode tersebut bukan hal yang baru karena tahun 2016 sudah pernah dilaksanakan Untad. Tetapi tahun 2017 berubah, dimana semua mahasiswa kembali digabung di beberapa tempat seperti auditorium.

“Yang terjadi banyak mahasiswa harus dilarikan ke rumah sakit karena pingsan. Kita evaluasi, ternyata faktor tempat, juga kegiatannya dilakukan dari pagi hingga sore selama dua hari. Kali ini, kita potong setengah hari dan memanfaatkan semua kelas,” tambahnya.

Dari hal tersebut, pihak Untad juga mengembalikan metode sistem gugus yang melibatkan materi lebih banyak, namun tanpa menghadirkan dari luar Untad, seperti Korem, Polda dan BNN.

“Kecuali nanti kegiatan fakultas mungkin akan melibatkan dari luar seperti kopolisian yang memberikan materi lalu lintas,” ujarnya.

Selama PKKMB itu, mahasiswa akan menerima sembilan materi, yakni kehidupan berbangsa dan bernegara, pembinaan gerakan nasional revolusi mental, perguruan tinggi di era revolusi industri, sistem pendidikan tinggi Indonesia, pencegahan dan penanggulangan intoleransi, radikalisme dan terorisme, penyalahgunaan narkoba dan anti narkoba, ketadulakoan, penanggulangan bencana alam dan pembinaan kesadaran bela negara. (YAMIN)