PALU, MAL– Sekitar 350 mahasiswa Universitas Tadulako (Untad) turun ke lapangan untuk mendampingi pasien tuberkulosis (TB) sekaligus memberikan edukasi kepada keluarga yang memiliki kontak erat dengan pasien di sejumlah wilayah Sulawesi Tengah.

Pendampingan tersebut merupakan bagian dari Program Berani Magaya yang digagas Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Untad untuk membantu pasien menjalani pengobatan hingga tuntas sekaligus mencegah munculnya kasus baru di lingkungan keluarga.

Dekan FKM Untad Rosmala mengatakan, mahasiswa memiliki dua sasaran utama dalam pendampingan, yakni pasien TB dan anggota keluarga yang menjadi kontak erat.

“Untuk pasien, pendampingan sampai sembuh. Kalau keluarga, memastikan tidak ada lagi pasien baru yang muncul,” kata Rosmala saat konferensi pers di Aula Dekanat FKM Untad Palu, Sabtu.

Untuk pasien, mahasiswa mendampingi dan memantau kepatuhan menjalani pengobatan setiap hari. Pendamping juga memberikan edukasi mengenai pentingnya menyelesaikan terapi serta berkomunikasi dengan keluarga dan tenaga kesehatan apabila terdapat kendala selama pengobatan.

Sementara pada keluarga yang menjadi kontak erat, pendampingan diarahkan pada edukasi dan pemantauan sesuai ketentuan program pencegahan TB. Mahasiswa membantu keluarga memahami risiko penularan, mengenali gejala, dan mengikuti langkah pemeriksaan atau pencegahan yang dianjurkan tenaga kesehatan.

Menurut Rosmala, pelaksanaan di lapangan menghadapi beragam kondisi. Salah satunya ketika mahasiswa mendampingi anak berusia sekitar dua tahun yang mengalami kesulitan mengonsumsi obat karena ukuran obat relatif besar.

“Mahasiswa mengedukasi bahwa tanpa minum obat, mereka termasuk kelompok rentan,” ujarnya.

Program tersebut telah berjalan sekitar tiga minggu sejak mahasiswa mulai turun ke lapangan pada Agustus 2026. Rosmala mengatakan evaluasi awal menunjukkan hasil yang baik, meski mahasiswa masih menemukan sejumlah persoalan di lapangan.

Salah satunya kondisi lingkungan tempat tinggal pasien. Kepadatan hunian dan kondisi rumah yang kurang mendukung menjadi perhatian karena dapat memengaruhi risiko penularan. Karena itu, mahasiswa turut memberikan edukasi mengenai kebersihan lingkungan, ventilasi, dan perilaku pencegahan.

Mahasiswa juga menemukan persoalan stigma dan privasi pasien. Sebagian pasien, terutama dari kelompok ekonomi menengah ke atas, cenderung tidak bersedia menerima kunjungan pendamping di rumah.

“Kelompok yang ekonominya bagus kepatuhan minum obatnya tinggi, tetapi sangat menjaga privasi. Ada yang tidak mau didatangi di rumah dan memilih bertemu di kafe,” kata Rosmala.

Sementara pada kelompok masyarakat menengah ke bawah, mahasiswa relatif lebih mudah melakukan kunjungan rumah untuk memberikan edukasi mengenai pencegahan dan pemutusan rantai penularan.

Rosmala mengatakan, data sasaran pendampingan berasal dari Dinas Kesehatan. FKM Untad kemudian berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan, puskesmas, dan penanggung jawab program TB dalam pelaksanaan pendampingan.

“Data yang kami dapatkan tentunya dari Dinas Kesehatan. Kami bersama kepala-kepala puskesmas dan penanggung jawab program TB bergerak di masyarakat untuk pencegahan dan penanggulangan penyakit TB,” ujarnya.

Program Berani Magaya sejak awal melibatkan tujuh perguruan tinggi dengan total 1.073 mahasiswa dan 155 dosen pembimbing. Khusus FKM dan Fakultas Kedokteran Untad, mahasiswa yang terlibat sekitar 350 orang.

Sasaran program tidak hanya berada di Kota Palu, tetapi juga mencakup sejumlah wilayah, di antaranya Sigi, Tolitoli, Poso, dan Luwu.

Rosmala berharap keterlibatan mahasiswa dapat memperkuat upaya pemerintah dalam menemukan, mendampingi, dan memastikan pasien TB menyelesaikan pengobatan.

“TB bisa disembuhkan. Yang perlu kita ubah adalah stigma bahwa TB merupakan penyakit yang memalukan dan tidak bisa disembuhkan,” katanya.