Wali Kota Dorong Empat Festival Lokal Jadi Agenda Nasional

oleh
MANDURA dipikul oleh Sekprov Sulteng, Hidayat Lamakarate (kiri) bersama Wali Kota Palu, Hidayat (tengah) dan Bupati Sigi, Moh Irwan Lapatta, dari Masjid Jami Kampung Baru menuju panggung Kampung Baru Fair III, Kamis (22/06) malam. (FOTO: MAL/FALDI)

PALU – Warga Kelurahan Baru memeriahkan sepekan pasca lebaran Idul Fitri dengan menggelar Lebaran Mandura.

Pengurus Masjid Jami Kelurahan Baru, Husein Saleh menjelaskan, Mandura terdiri dari tiga suku kata yaitu “Man” artinya manusia, “Du” artinya dunia serta “Ra’ artinya fitra.

“Jadi makna Mandura merupakan manusia yang kembali ke fitrah setelah sebulan penuh berpuasa,” jelasnya.

Menurutnya, salah satu tujuan diadakannya Lebaran Mandura adalah memperkuat silaturahim antar sesama manusia.

Itulah sebabnya, Mandura yang secara harfiah berarti beras ketan (beras pulut) itu, mengartikan sebagai alat perekat untuk mewujudkan kehidupan yang sejajar tanpa perbedaan dengan rasa persaudaraan yang senantiasa membuat selalu bersatu.

“Biasanya Suku Kaili menyebutnya Maliu Ntinuvu, Nosarara, Nosabatutu,” terangnya.

Selain itu, Mandura yang merupakan kuliner terbuat dari beras ketan terdiri atas tiga warna, yaitu, merah, hitam dan putih. Warna merah, sambung Husein, diartikan sebagai lambang keberanian masyarakat Kota Palu dalam mengambil keputusan, warna putih mempunyai sifat berkhusnudzon terhadap sesame dan warna hitam sebagai bentuk keadilan atas keputusan yang dihasilkan dalam setiap permasalahan kehidupan bagi masyarakat Kota Palu.

Lebaran Mandura sendiri merupakan salah satu tradisi yang digelar oleh warga Kelurahan Baru. Kegiatan itu juga dibarengi dengan pawai melintasi beberapa ruas jalan utama di Kota Palu.

Perayaan lebaran Mandura juga dirangkai dengan Kampung Baru Fair (KBF) III tahun 2018, dengan tema “Plural” atau kemajemukan sebagai tema utama, sekaligus kampanye perdamaian yang dilaksanakan di Jalan Cokroaminoto, Kelurahan Baru, mulai Kamis (21/06) sampai Sabtu (23/06).

Terpisah, Wali Kota Palu, Hidayat mengusulkan agar kiranya nama Lebaran Mandura dan Kampung Baru Fair dilebur menjadi “Festival Mandura”.

Alasannya, menurut Hidayat, nama festival cukup menarik serta mempunyai daya jual yang lebih, apalagi Mandura sendiri diyakini hanya ada di Kota Palu.

“Karena sudah banyak fair-fair di luar sana, jadi kalau kita semua setuju pada tahun akan datang nantinya kita namakan Festival Mandura,” katanya.

Lebih lanjut dia mengatakan, ada empat kegiatan yang akan didorong pihaknya menjadi even nasional yang akan digelar setiap tahunnya, yaitu, Festival Pesona Palu Nomoni (FPPN), Festival Raodhah, Festival Palu Salonde Perkusi dan Festival Mandura.

“Dengan tujuan untuk menggiring Kota Palu sebagai kota destinasi,” katanya.

Kampung Baru Fair sendiri lahir atas inisiasi warga, yang kini telah jadi pemantik yang baik bagi tumbuhnya perayaan-perayaan tradisi yang dipadukan dengan konsep agama dalam sebuah kawasan di Kota Palu. (FALDI)

loading...