Utusan Sulteng Juarai MTQ Antar Bangsa

oleh
Mikdan (kanan) dan Sabrin O. Ladongi

PALU – Perwakilan Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid (BKPRMI) Provinsi Sulteng, Mikdan Aidin, berhasil menjuarai Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Antar Bangsa yang dilaksanakan di Tangerang, Provinsi Banten dari tanggal 5 sampai 7 September 2019 lalu.

Setelah Mikdan, disusul peserta dari Singapura sebagai juara dua dan juara tiga dari Kalimantan Selatan.

Ketua Umum DPW BKPRMI Sulteng, Sabrin O. Ladongi, mengatakan, peserta MTQ tersebut berasal dari sejumlah negara dan dari 27 provinsi di Indonesia yang mempunyai perwakilan BKPRMI aktif.

Menurutnya, Cabang MTQ yang dilombakan adalah Tilawah Qori dan Qoriah dewasa dan yang mendapatkan Juara 1 MTQ Qori an. Mikdan dari Sulteng, “Alhamdulillah Qori Sulteng mendapat prestasi terbaik mengalahkan provinsi dan negara lain,” katanya.

Kepala Kantor Wilayah (Kanwil) Kementerian Agama (Kemenag) Provinsi Sulteng, Rusman Langke pun memberikan apresiasi kepada Mikdan. Kata dia, sebagai mitra Kemenag Sulteng, BKPRMI Sulteng merupakan garda terdepan bagi kemajuan pembangunan agama di Sulteng.

Kegiatan itu rutin setiap tahun dilaksanakan BKPRMI Pusat bekerja sama dengan Dunia Melayu Dunia Islam (DMDI).

Kegiatan ini ditutup oleh Menpan RB dan dihadiri presiden DMDI, Ketua Umum  DPP BKPRMI dan Wali Kota Tangerang sebagai tuan rumah.

Ditemui di kediamannya di Kecamatan Palu Selatan, Kota Palu, Senin (09/09), Mikdan mengaku bahwa keberhasilan tersebut berkat kerja keras. Kecintaanya terhadap seni baca Alquran dimulai sejak masih SD, diajarkan oleh sang ayah.

“Cuma tidak sampai sama Ibu Fatmawati (Qoriah Nasional). Jadi hanya didengarkan dasar-dasarnya saja. Terus istirahat,” ujar Mikdan.

Ia menceritakan karirnya sebagai qori ketika dimulai dari belajar di masjid bersama Ustadz Mahmud Lamalundu. Karena waktu itu, ustadz yang kerap menjadi dewan hakim nasional itu, sempat mengajar di Asrama Putra Bina Potensi.

“Awalnya hanya nonton dari luar gedung, karena bukan santri. Jadi disuruh masuk dan diajak ikut belajar mengaji dan langsung ikut seleksi MTQ mulai dari tingkat kecamatan hingga ke provinsi,” kisahnya.

Karir Mikdan terus naik sejak mengikuti MTQ, dari tingkat terbawa hingga MTQ tingkat nasional. Bahkan tidak sedikit, ia meraih peringkat terbaik. Sejak SMP, ia telah mewakili Sulteng ke MTQ tingkat nasional. Sejak tembus ke nasional itulah, ia terus mengasa kemampuannya.

Saat ini, ia juga mengajar di beberapa TPA, seperti di wilayah Marana, Donggala. Kini, anak-anak hasil didikannya juga sudah ada yang berhasil berkiprah ke tingkat nasional.

“Saya ikut MTQ tingkat remaja dua kali saja, tidak pernah saya lolos, karena saingan banyak teman-teman kan semua bagus-bagus,” katanya.

Alumni Ponpes Alkhairaat Pusat itu juga menyingung soal kurangnya perhatian pemerintah daerah dalam pembinaan peserta. Hal itu terkadang membuatnya minder kala maju di pentas nasional karena peserta dari daerah lain telah memiliki banyak perkembangan, mulai dari variasi atau irama terbaru saat melantunkan ayat suci Alquran.

“Kalau di daerah lain pelatihannya sangat maksimal. Dengan durasi pelatihan berjalan hinga tiga bulan. Berbanding terbalik dengan Sulteng,” ujarnya.

Ia juga membandingkan persiapan MTQ Nasional Tahun 2020 di Sumatera Barat yang telah melakukan tiga kali traning center bagi peserta. Sementara di Sulteng, kata dia, saat ini saja belum ada seleksi.

“Saat ini ada sedikit perubahan, dan sistem pelatihannya masih bagus yang dulu-dulu. Kalau sekarang, kadang pelatihannya satu tahap untuk persiapan nasional. Jadi kita sudah kalah jauh dengan teman-teman provinsi lain,” tutupnya. (NANANG IP/YAMIN)