Tuntutan Serta Solusi Bagi Seorang Pembina Pramuka

oleh
@izfaldipocici

Sejak dilantik tahun 2016 sampai dengan saat ini Gerakan Pramuka Kwartir Cabang (KWARCAB) SIGI dan Dewan Kerja Cabang (DKC) Sigi dengan cepat menunjukkan keseriusannya untuk membangun kader bangsa melalui gerakan pramuka dengan cara mulai mengaktifkan semua pengurus gerakan pramuka baik ditingkat Kecamatan maupun di tingkat Gugus Depan.

Sampai dengan saat inipun sudah ada kurang lebih 7 Kecamatan yang sudah memiliki kepengurusan Gerakan Pramuka dan hampir sudah 85 Persen Gugus Depan yang mengaktifkan Dewan Ambalannya, tinggal 10 persen yang sampai saat ini masih vakum serta 5 persen lainnya masih belum mempunyai pengurus Dewan Ambalan.

Tentunya peristiwa tersebut merupakan kabar gembira bagi seluruh unsur yang terkait. Sebab  peristiwa itu mengandung harapan yang begitu luar biasa, yakni kemajuan Gerakan Pramuka di Kabupaten Sigi serta diharapkan bisa berdampak langsung terhadap pengembangan diri bagi para peserta didik.

Keberadaan Gerakan Pramuka yang juga sebagai jembatan berfungsi untuk membentuk karakter peserta didik tentunya sudah tak perlu diragukan lagi. Karena titik berat pendidikan pramuka adalah pembentukan watak, pembangunan akhlak, serta pembentukan nilai – nilai seorang patriot dan moralitas yang luar biasa. Namun, dalam pelaksanaannya sering dijumpai beberapa persoalan yang mendasar. Seperti persoalan banyaknya peserta didik yang sama sekali tak berminat dengan pramuka.

Kedua tak sedikit pula para peserta didik yang berminat untuk aktif di Gerakan Pramuka tetapi dilarang oleh orangtua/wali. Sebab Orangtua/wali beranggapan bahwa pramuka lebih banyak menghabiskan waktu untuk bersenang-senang terutama pada waktu kegiatan kemah. Hal tersebut menjadikan orangtua/wali khawatir akan keselamatan putra putrinya karena kegiatan kemah yang jauh dari mereka ditambah harus meninap untuk beberapa malam.

Dan ketiga model kegiatan pramuka yang dijalankan tidak dikemas sesuai dengan tuntutan perkembangan peserta didik sehingga kegiatan pramuka menjadi sesuatu yang sangat membosankan dan membuat para peserta didik menjadi jenuh.

Di tengah persoalan-persoalan yang ada, peran pembina Sangat dibutuhkan kreativitas seorang Pembina untuk bisa mengatasi hal – hal yang ada seperti ketika salah satu peserta didik mulai merasa bosan dan jenuh dengan keadaan yang ada dan yang utama ada mengatasi ketika ada orang tua peserrta didik yang melarang anaknya untuk mengikuti kegiatan pramuka padahal telah menjadi salah satu kegiatan eskul yang wajib disekolah.

Meskipun seperti itu, tak kalah pentingnya seorang pembina juga harus memikirkan cara yang manjur agar kegiatan pramuka bisa lebih berkualitas mempunyai tujuan dan manfaat serta dapat dipercaya oleh orangtua/wali siswa dan siswa merasa butuh pramuka.

Untuk itu, ada beberapa gagasan yang mungkin bisa dijadikan sebagai peluang guna mengatasi persoalan yang ada. Pertama Gudep harus melibatkan orangtua/wali siswa dalam menyusun visi, misi dan merancang program kegiatan pramuka. Sebab Hal ini bisa saja memungkinkan orantua/wali dapat mengenal pramuka secara lebih baik.

Orantua/wali tidak melihat kegiatan pramuka dari sisi negative lagi. Cara seperti ini juga akan membuat orangtua merasa menjadi bagian sekaligus bertanggungjawab terhadap proses kegiatan pramuka. Maka dengan begitu mereka akan dengan sendirinya mendorong anak-anak mereka agar aktif mengikuti kegiatan pramuka.

Kedua, para siswa juga diikutsertakan dalam menyusun program kegiatan. Para peserta didik pun diberikan kebebasan seluas-luasnya untuk mengungkapkan ide serta keinginan mereka dengan begitu rasa memiliki dan mencintai pramuka sendirinya akan tumbuh dalam jiwa mereka.

Kesempatan ini juga menjadi saat yang tepat bagi para pembina dan orangtua/wali untuk mendengarkan secara langsung apa hasrat anak-anak yang relevan dengan perkembangan mereka. Bukan tidak mungkin kegiatan pramuka yang dikemas dengan kualitas bagus maka akan berjalan dengan baik dan tepat sasaran serta menyenangkan.

Ketiga, perlu adanya pemurnian motivasi bagi para pembina untuk menjadi seorang pembina pramuka. Artinya, menjadi pembina merupakan sebuah panggilan yang menuntut pengabdian dan pengorbanan yang tulus. Pembina harus mengembangkan kompetensinya secara pribadi dengan terus belajar dan tidak patah semangat manakala setumpuk persoalan datang menggerogoti. Dan pembina harus tetap membangun relasi atas dasar saling menguntungkan dengan pengurus Kwarcab, Kwaran dan Gudep di sekolah lain.

Jika ide atau gagasan di atas diterapkan, bukan tidak mungkin kegiatan pramuka menjadi lebih menarik sekaligus memikat banyak peserta didik untuk ikut aktif membina diri di dalam Gerakan Pramuka. Gagasan – gagasan tentang kegiatan pramuka sudah seharusnya kita kemas dengan rapi dan kita publikasikan kemana – mana sesuai dengan semboyan Kwarnas Gerakan Pramuka dalam kepemimpinan Kak Adhyaksa Dault #SetiapPramukaAdalahKantorBerita agar kiranya kelak dapat berguna bagi orang banyak.

Salam Pramuka