Tokoh Kristiani Sulteng Juga Kutuk Penembakan di Selandia Baru

oleh
Ajub Willem Darawia (kiri) dan Matindas J Rumambi (kanan). (FOTO: IST)

PALU – Kutukan demi kutukan terus ditujukan kepada Brenton Tarrant, pelaku penembakan brutal kepada jemaah Shalat Jumat di dua masjid Kota Christchurch, Selandia Baru, Jumat (15/03) pukul 13.45 waktu setempat.

Kutukan itu sendiri bukan hanya berasal dari kalangan ummat Islam, melainkan dari para tokoh krisitian.

Matindas Janus Rumambi, salah satu tokoh kritiani di Sulteng, Senin (18/03), menyatakan, pihaknya mengutuk keras perbuatan biadab yang dilakukan oleh oknum tersebut.

“Hal ini sangat mengusik rasa kemanusian. Kita selalu berharap kepada Tuhan Yang Maha Esa agar memberikan ketabahan kepada keluarga korban,” ujarnya.

Dia meminta kepada Pemerintah Indonesia untuk mendesak pemerintah Selandia Baru agar dapat memberikan rasa aman kepada pemeluk agama yang ada di negaranya, terutama Umat Muslim yang baru saja mengalami perbuatan sangat terkutuk oleh oknum tersebut.

Kutukan yang sama juga disampaikan tokoh kristiani Kabupaten Sigi, Ajub Willem Darawia.

“Kita kutuk. Kemungkinan besar oknum itu mengalami kelainan jiwa. Kalau atas nama organisasi tidak mungkin  seperti itu. Jadi oknum itu tidak terorganisir atau mengatasnamakan agama karena tidak ada agama yang mengajarkan perbuatan terkutuk seperti itu,” ujarnya.

Dia  berharap kepada semua elemen untuk menahan diri, tidak saling curiga mencurigai.

“Sehingga kita selalu dalam kondisi yang aman, tentram dan terkendali serta toleransi juga tetap terjaga di negara kita,” pungkasnya.

Sabtu lalu, massa aksi yang tergabung dalam Solidaritas Muslim untuk Selandia Baru, menggelar orasi di Jalan Hasanuddin Palu. Pada intinya, mereka mengutuk perbuatan Brenton yang dinilai bukan lagi terkait persoalan agama, melainkan lebih pada persoalan kemanusiaan.

Kutukan yang sama juga diungkapkan Ustadz Hartono Yasin Anda. Kepada MAL, Ketua Forum Umat Islam (FUI) Sulteng itu menyerukan kepada seluruh kaum muslimin di seluruh dunia, untuk sama-sama mengutuk perbuatan tersebut.

“Kami meminta kepada pemerintah Selandia Baru untuk memberlakukan hukuman mati kepada pelaku teroris biadab itu,” tegasnya.

Di sisi lain, dia berharap kepada kaum muslimin di Sulteng untuk tetap menjaga persatuan dan kesatuan dan tidak menjadikan peristiwa itu sebagai alasan untuk takut meramaikan dan memakmurkan masjid.

“Kita harus lebih berani dan semangat memakmurkan masjid Allah. Kita tunjukkan bahwa ummat Islam tidak pernah gentar dengan aksi-aksi teror dalam bentuk apapun,” katanya.

Yang paling penting, kata dia, cap teroris betul-betul disematkan kepada pelaku pembantaian biadab itu agar label teroris itu tidak lagi disematkan kepada Islam.

Ketua Pemuda Muhammadiyah Sulteng, Fery ISA Abdullah juga mengutuk perbuatan itu.

“Tindakan terorisme ini, apapun latar belakang pelaku dan motifnya, tidak bisa dibenarkan dan harus dilawan, ini perbuatan biadab dan mengandung permusuhan, bukan hanya terhadap Muslim tapi terhadap kemanusiaan,” tegasnya.

Sementara Ketua Umum DPP Himpunan Pemuda Alkhairaat (HPA), Husen Idrus Alhabsy juga menyampaikan duka cita kepada seluruh korban, baik yang meninggal dunia, luka-luka, maupun yang mengalami trauma atas peristiwa itu.

“Kami mendesak pemerintah Indonesia, melalui kedutaannya di New Zealand agar segera melakukan tindakan yang cepat, pas dan tepat untuk memastikan perlindungan dan keamanan serta keselamatan WNI yang berada di Selandia Baru,” serunya.

Dia pun mengajak seluruh umat Islam di Indonesia dan segenap Abnaulkhairaat dimanapun berada agar melaksanakan Sholat Ghaib untuk para korban yang syahid. (RIFAY)