Tenun Donggala, Buah Karya Leluhur yang Warisan Turun Temurun

oleh
Proses pemintalan benang sebelum diolah menjadi buya sabe Donggala. (FOTO: JAMRIN AB)

“Dulu di Towale hampir semua rumah memiliki alat tenun, sehingga setiap anak gadis pintar membuat sarung sutra. Sekarang jumlahnya tidak sebanyak puluhan tahun lalu karena anak gadis sekarang kurang yang berminat. Apalagi kalau melanjutkan sekolah hingga kuliah, mereka tidak lagi belajar tenun”

Demikian yang dilontarkan Ibu Firma (62 tahun), salah satu warga Desa Towale yang ditemui penulis di kediamannya, belum lama ini.

Ia sendiri mengaku sudah berhenti menenun kain sejak dua tahun lalu, alasannya sibuk menjaga cucu-cucunya.

Sebelumnya, ia sudah cukup lama menenun, dari sejak ia berusia 14 tahun hingga usia 60 tahun. Artinya, sudah sekitar 46 tahun usianya dihabiskan menenun sambil membesarkan anak-anaknya hingga bercucu.

Bagi Firma, ibu empat anak ini, tradisi menenun umumnya memang diwariskan kepada anak-anak gadis. Sebab jika sudah dewasa baru belajar, maka akan kesulitan.

Ibunya sendiri belajar dari sang nenek. Begitu pula orang tua terdahulu, sambung-menyambung mewariskan keterampilan. Entah generasi keberapa Ibu Firma, ia sendiri tidak mengetahui.

“Di keluarga kami sejak lama secara turun-temurun menekuni tenun. Tetapi anak saya sendiri tidak ada lagi yang bisa melanjutkan tradisi ini karena lebih memilih melanjutkan sekolah hingga sibuk bekerja, sehingga keterampilan menenun berakhir dengan saya,” ungkap Firma, Rabu (18/11).

Menurutnya, perempuan seumurnya di Desa Towale umumnya mulai menenun sejak belasan tahun atau saat tamat sekolah dasar. Anak gadis yang tidak melanjutkan sekolah, kebanyakan menekuni pembuatan sarung.

Ada banyak perempuan yang sebelumnya menenun kemudian berhenti dengan berbagai alasan, terutama faktor usia yang tidak mudah lagi dan menenun memang cukup melelahkan.

Pengalaman yang sama juga dituturkan penenun lainnya di Desa Towale, Rostiang (53).

Menurutnya, ia tidak belajar khusus menenun, melainkan hanya mengamati setiap ibunya bekerja. Pada saat ibunya istirahat atau keluar dari peralatan tenun, maka Rostiang langsung mengutak-atik peralatan secara diam-diam.

“Tapi kalau tiba-tiba benang putus baru berhenti lagi sambil menunggu ibu menyambung benang,” kenangnya.

Hal itu berulang dilakukan hingga Rosdiang sejak umur 10 tahun dan akhirinya terampil meneruskan tradisi keluarga dan sampai saat ini cukup produktif.

“Sebagai pengrajin sejak kecil, saya sudah mengalami pahit getirnya kalau tiba-tiba benang putus sebagai pengalaman yang cukup,” kata Rosdiang.

Bahkan kini ia mengetuai kelompok tenun Yamamore, didampingi seorang Sekretaris, Roslina dan Lisna sebagai bendahara.

Kelompok ini untuk memudahan koordinasi dan kerja sama bila ada kegiatan pembinaan dari pemerintah desa atau pemerintah kabupaten yang bermitra dengan Asosiasi Tenun Donggala.

Sejauh ini, jumlah penenun di Desa Towale sebanyak 129 orang. Sebuah bilangnya cukup banyak jika dibandingkan dengan desa sekitarnya.

Namun kalau dibandingkan dengan puluhan tahun lalu, tentu angka ini terbilang sangat sedikit.

Mengantisipasi agar tradisi tenun tidak punah, Pemerintah Desa Towale bersama Asosiasi Tenun Donggala bermitra dengang Bank Indonesia melakukan pembinaan, di antaranya penyediaan sou pontanu (rumah kecil untuk bertenun), pembangunan galeri atau toko yang akan memasarkan hasil kerajinan dan pembinaan manajemen pemasaran.

Penulis : Jamrin AB
Editor : Rifay

Iklan-Paramitha