TAHUN BARU MASEHI: Tanpa Euforia, Tanpa Petasan, Tanpa Hura-Hura

oleh
Ilustrasi Dzikir Akbar

Penyambutan tahun baru masehi selalu identik dengan berbagai hal yang sia-sia. Banyak kegiatan tidak bermanfaat yang dilakukan masyarakat. Asap dan dentuman petasan/kembang api terlihat dan terdengar dimana-mana. Maksiat? jangan ditanya lagi.

Belum lagi arus lalu lintas yang super macet akibat menyemutnya kendaraan dan manusia. Entah melakukan apa, terkesan asal memadati jalanan saja.

Tak ada bedanya dari tahun ke tahun. Seluruh dunia merayakannya dengan suka cita yang boleh dikata berlebihan, termasuk oleh umat Islam. Fenomena ini pun tak luput terjadi di Kota Palu.

Di kota ini sendiri, hiruk pikuk, kepadatan dan suara bising, paling lengkap ditemui di Pantai Talise, area Anjungan Nusantara dan sekitarnya. Tempat ini boleh dibilang menjadi titik pertemuan manusia dari berbagai daerah.

Namun tahun ini agak berbeda dengan suasana tahun sebelumnya. Di salah satu sudut area Pantai Talise, berlangsung kegiatan yang tidak seperti dilakukan kebanyakan orang. Paling menggembirakan, kegiatan itu diinisiasi sendiri oleh Pemerintah Kota (Pemkot) setempat.

Kegiatan pisah sambut tahun yang terkemas dalam pesta rakyat itu tidak dihiasi dentuman petasan, penampilan artis atau acara lainnya yang bernuansa hura-hura, melainkan dengan persembahan seni tradisional oleh siswa SMP, sekaligus dzikir bersama.

Tak hanya Pemkot, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulteng bersama Kantor Wilayah (Kanwil) Kementerian Agama (Kemenag) juga mengambil peran mengubah tradisi perayaan tahun baru yang selama ini penuh dengan hedonisme. Dua institusi ini memilih melaksanakan doa lintas agama di halaman kantor gubernur, dihadiri seluruh ASN yang dipimpin oleh masing-masing pemuka agama.

Di kesempatan itu, Gubernur Sulteng, Longki Djanggola berpesan kepada peserta doa agar hal-hal yang sudah tercapai ditahun 2017 dijadikan bahan renungan untuk menjalani kehidupan di masa mendatang.

Sementara, Kepala Kanwil Kemenag Sulteng, H. Abdullah Latopada kegiatan tersebut secara khusus bertujuan untuk menyampaikan permohonan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, agar masyarakat Sulteng bersama pemerintah dapat dimudahkan mencapai perubahan positif di tahun 2018.

Tak hanya unsur pemerintah, wargapun ambil bagian mengisi pergantian tahun dengan hal-hal yang tidak berbau petasan, miras, narkoba dan hal negative lainnya. Di Kelurahan Tondo, Kecamatan Mantikulore, misalnya. Warga setempat memilih melaksanakan zikir dan doa bersama, dipimpin langsung oleh Imam Masjid Raodha, Ustadz Tahir.

Ustadz Marlin yang dipercaya memberikan ceramah agama saat itu, memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya pada masyarakat yang sangat antusias berpartisipasi menghadiri kegiatan itu, terutama pada Remaja Islam Masjid (Risma) sebagai pelaksanakan kegiatan.

Dia mengajak pada semua jemaah dzikir untuk melakukan intropeksi diri. Kedepan kata dia, harus menjadi muslim yang lebih baik lagi.

“Tidak perlu hura-hura, karena semakin hari sebenarnya ajal kita semakin dekat. Kita syukuri apa yang sudah kita lewati, renungkan, ambil hikmahnya dan mari kita jalani tahun 2018 dengan lebih baik lagi,” terangnya.

Sementara, Ketua Risma Raodha, Mugni mengatakan, kegiatan itu sudah menjadi agenda rutin tahunan Risma Raodha, walaupun baru dimulai pada penyambutan tahun 2017 lalu.

“Kami juga melakukan kegiatan yang sama saat tahun baru Islam. Alhamdulillah semakin kesini,  antusias warga makin tinggi,” ujarnya. (HAMID/YAMIN)

loading...