Studi Pemikiran “Guru Tua”

oleh
Habib Idrus bin Salim Aljufri

Oleh: Dr. Khairan Muhammad Arif, MA

Guru Tua adalah sebutan Masyarakat Sulawesi Tengah, kepada Ulama besar kharismatik keturunan Rasulullah saw yang bernama Al-Habib Sayid Idrus bin Salim Al-Jufri.

Tokoh ini masuk ke Sulawesi Tengah sebelum tahun 1930 kemudian mendirikan perguruan Islam pada tahun tersebut.

Santri dan Mahasiswa beliau menjadi ikon Ulama dan cendikiawan Muslim sulawesi tengah bahkan nasional dan Internasional yang banyak menyumbangkan pemikiran Islam dan gerakan pendidikan Islam di tanah air.

Tulisan ini adalah salah satu studi dari salah seorang alumni perguruan Islam “AL-KHAIRAAT” yang didirikannya. Tulisan ini akan berupaya menjelaskan beberapa prinsip-prinsip pemikiran beliau dalam Islam, yang banyak memberi dan memperkaya khazanah keilmuan dan pemikiran Islam di Indonesia, serta pengaruh yang signifikan dalam peradaban Islam di tanah air.

PRINSIP-PRINSIP PEMIKIRAN ISLAM GURU TUA

1. Rabbaniyah Al-Manhaj

Rabnaniy dari kata “Rabb” yang bermakna ketuhanan atau “Rabb orientid”. Bahwa Guru Tua dalam pendidikan dan pengajarannya selalu mengedepankan ruh ketuhanan dan ke-ilahiaan dalam pendidikan dan dakwahnya. Hal ini bisa dilihat dari ungkapan-ungkapan beliau:

إلى الله أدعوهم وهذا كتابه

“Kepada Allah aku ajak semua muslim dan ini adalah kitabNya”.

Ungkapan dalam bentuk syair ini adalah pernyataan Guru Tua bahwa tujuan dakwah dan pendidikannya adalah mengenalkan Allah swt kepada masyarakat. Guru tua dalam pendidikan dan pengajarannya meyakini sebagaimana yang diajarkan oleh Allah dan Rasul-Nya bahwa semua Visi dan Misi individu atau koorporasi Islam harus bertujuan mengenalkan Allah swt dan mencari Ridha Allah. Firman Allah:

قُلْ هَٰذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ ۚ عَلَىٰ بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي ۖ وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ

“Katakanlah (Muhammad), “Inilah jalanku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan yakin, Mahasuci Allah, dan aku tidak termasuk orang-orang musyrik.”(QS. Yusuf: 108)

Rabbaniyatul manhaj dalam dakwah dan pendidikan Guru Tua, juga diimplementasikan dalam konsep dan landasan pemikiran dakwah dan pendidikan Islam Guru Tua, bahwa landasan Ideologi dan falsafah dakwah dan Pendidikan Guru Tua adalah Al-Qur’an dan As-Sunnah. Fakta ini bisa dilihat dari pernyataan beliau dalam syairnya:

وسُنَّةُ خَيرِ الرُّسلِ أدعُو لِدَرسِهَا. فَفِيهَا الهُدَى والنُّورُ والعِلمَ فَاعْلَمِ

“Dan Sunnah sebaik-baik Rasul, aku serukan untuk dipelajari. Karena ketahuilah di dalamnya berisi petunjuk (hidayah), Cahaya dan Ilmu Pengetahuan”

Pernyataan Guru Tua ini adalah perinsip utama akidah Ahlu Sunnah waljama’ah, bahwa pemikiran dan gerakan Islam harus berdasarkan dan berdiri di atas tuntutan dan nilai-nilai Al-Qur’an dan As-sunnah. Guru Tua meyakini bahwa sumber hidayah, pedoman hidup (Nur) dan Ilmu Pengetahuan sejati ada dalam Al-Qur’an dan As-sunnah. Oleh karenanya kebenaran absolut dan mutlak adalah Al-Qur’an dan As-Sunnah, bukan yang lainnya.

Oleh karena itu Guru Tua menegaskan bahwa ketika Al-Qur’an dan As-Sunnah telah menjadi manhajul hayah (way of life) seorang muslim, maka dia sebenarnya telah meraih keridhoan Allah swt, kesuksesan, kemuliaan dan kesuksesan. Beliau berkata:

هَنِيئًا لِمَن لَبَيّ وَسَارِع يَبتَغِي. رِضَى الله والزُّلفَى لِفَوزٍ وَمَغْنَمِ

Selamat dan berbahagialah siapa yang segera merespon dan menerima keduanya (Al-Qur’an dan As-sunnah) yaitu mereka yang mengharap keridhaan Allah, derajat yang tinggi, kesuksesan dan capaian-capaian tinggi lainnya.
2. Ilmiyatul Manhaj

Ilmiyatul Manhaj adalah Konsep Pemikiran yang Ilmiah. Guru Tua dalam pemikiran Islamnya baik dalam bidang dakwah dan pendidikan, sangat memperhatikan dan menjunjung tinggi sikap Ilmiah, budaya akademik dan semangat menuntut Ilmu dan pengembangan riset. Walaupun beliau sangat memotivasi umat untuk konsisten terhadap Al-Qur’an dan As-sunnah. Namun Guru Tua sangat memotivasi umat untuk menuntut Ilmu, melakukan riset sebagaimana ungkapan beliau:

فَدَاوُوا بِعِلمِ الدِّيْن جَهْلَ قُُلُوبِكُم. فَمَن لم يُدَاوِ الجهْلَ بالعِلْمِ يَنْدَمِ

Obatilah kebodohan hati kalian dengan agama. Karena siapa yang tidak mengobati kebodohan dirinya dengan Ilmu, maka dia akan menyesal di kemudian hari.

Guru Tua yakin bahwa ilmu agama adalah bekal utama dalam kehidupan di dunia dan akhirat. Konsep pemikiran Guru Tua tentang Ilmu khususnya ilmu agama adalah konsep Islam yang komprehensif memandang kehidupan. Manusia menurut Guru Tua adalah makhluk sempurna yang memiliki Hati, akal dan fisik yang harus didik secara integral dan komprehensif, hati, akal dan jasadnya. Guru Tua membahasakan ilmu dengan obat karena ilmu menjadi terapi bagi mental dan akal manusia sekaligus.

Penyesalan yang dimaksud Guru Tua bagi mereka yang tidak berilmu adalah penyesalan di dunia menghadapi tantangan zaman dan penyesalan di akhirat menghadapi hari hisab. Karenanya Ilmu adalah senjata menghadapi kehidupan dunia dan akhirat bagi siapa yang ingin menguasai keduanya.
Wallahu a’lam bishawab..

(Bersambung)

* Penulis Adalah Alumni Madrasah Aliyah Alkhairaat Pusat Palu, Dosen PNS UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan Dosen Pascasarjana UIA Jakarta