September 2019, Kota Palu Alami Deflasi 0,35 Persen

oleh
Kabid Statistik Distribusi, BPS Sulteng, G. A Naser bersama Kepala BPS Sulteng, Faisal Anwar saat memberikan keterangan pers di Ruang Vicon, Kantor BPS Sulteng, Selasa (01/10). (FOTO: MAL/YAMIN)

PALU – Kota Palu mengalami deflasi sebesar 0,35 persen selama bulan September 2019. Hal itu dipengaruhi oleh turunnya indeks harga pada kelompok bahan makanan serta kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar, masing-masing sebesar 3,60 persen dan 0,13 persen.

Sedangkan kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga mengalami kenaikan indeks harga sebesar 1,45 persen, diikuti oleh kelompok transpor, komunikasi, dan jasa keuangan 1,27 persen, sandang 1,24 persen, makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau 0,28 persen, serta kesehatan 0,22 persen.

“Pada periode yang sama, inflasi year on year Kota Palu mencapai 5,71 persen. Kenaikan indeks year on year tertinggi terjadi pada kelompok bahan makanan sebesar 8,67 persen. Sedangkan kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar mengalami kenaikan indeks terendah sebesar 3,15 persen,” ujar Kepala Bidang (Kabid) Statistik Distribusi, Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sulteng, G. A Naser saat memberikan keterangan di Ruang Vicon, Kantor BPS Sulteng, Selasa (01/10).

Kata Nasser, deflasi Kota Palu sebesar 0,35 persen disumbangkan oleh andil negatif kelompok pengeluaran bahan makanan serta kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar masing-masing sebesar 0,77 persen dan 0,03 persen.

Sedangkan andil positif disumbangkan oleh kelompok transpor, komunikasi dan jasa keuangan sebesar 0,22 persen, kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga sebesar 0,09 persen, kelompok sandang sebesar 0,07 persen, kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau sebesar 0,06 persen, serta kelompok kesehatan sebesar 0,01 persen.

Nasser menuturkan, beberapa komoditas utama yang memiliki andil terhadap inflasi antara lain, tarif angkutan udara 0,21 persen, cabai rawit 0,15 persen, biaya akademi/perguruan tinggi 0,13 persen, emas perhiasan 0,06 persen, ikan teri segar 0,03 persen, ayam hidup 0,03 persen, cabai merah 0,03 persen, ikan layang 0,03 persen, semangka 0,02 persen, dan ikan teri kering 0,02 persen.

Sedangkan beberapa komoditas yang memiliki andil negatif terhadap inflasi antara lain ikan kembung 0,24 persen, ikan ekor kuning 0,23 persen, ikan cakalang 0,16 persen, ikan selar 0,12 persen, bawang merah 0,07 persen, daging ayam ras 0,06 persen, ikan mujair 0,06 persen, jagung manis 0,03 persen, ikan kakap merah 0,03 persen, dan tempe 0,03 persen.

“Dari 82 kota pantauan IHK nasional, sebanyak 70 kota mengalami deflasi dan 12 kota mengalami inflasi. Deflasi tertinggi terjadi di Kota Sibolga sebesar 1,94 persen dan terendah di Kota Surabaya sebesar 0,02 persen. Kota Meulaboh mengalami inflasi tertinggi sebesar 0,91 persen, sementara Kota Watampone dan Palopo mengalami inflasi terendah sebesar 0,01 persen. Kota Palu menempati urutan ke-8 deflasi tertinggi dikawasan Sulampua dan urutan ke-31 secara Nasional,” tandasnya. (YAMIN)