Sepasang Mata Guru Tua

oleh

Alkhairaat adalah salah satu ormas Islam tua di Indonesia yang didirikan Alhabib Idrus bin Salim Aljufri (Guru Tua) pada tahun 1930, yang dalam perjalanannya telah banyak mencetak dan menghasilkan kader-kader dalam berbagai disiplin keilmuan. Di antara mereka telah menjadi pemimpin di segala bidang.

Kesuksesan dan keberhasilan-keberhasilan itu, tak lain merupakan buah dari perjuangan, pengorbanan, pengabdian dan kesabaran disertai keikhlasan dari sang guru.

Guru Tua tak pernah berharap apapun atas hasil dari semua kerja keras tersebut, kecuali ridho Allah Subhanahu Wataala.

Langkah Alkhairaat dari waktu ke waktu terus berkembang dalam misi dakwahnya. Guru Tua menjadi tokoh sentral dalam lembaga pendidikan Islam, yang menetapkan landasan, arah, langkah dan tujuan Alkhairaat.

Abdurrahman bin Abdillah Aljufri

Di tengah kiprah dakwahnya, Guru Tua juga tidak melupakan bahwa suatu saat dia akan menghadap illahi, meninggalkan dunia yang fana ini. Sebagai ulama, Guru Tua paham betul bahwa kepemimpinan itu tiada yang abadi, semua akan berakhir seiring berjalannya waktu, usia dan tibanya ajal.

Untuk itu, Guru Tua juga sudah merancang dan menyiapkan regenerasi kepemimpinan dalam tubuh Alkhairaat sebagai pelanjut tongkat estafet dakwahnya.

Hal tersebut dapat terlihat dalam serangkaian syair-syair Guru Tua yang mempersiapkan Habib Muhammad bin Idrus Aljufri yang tak lain adalah putranya sendiri. Habib Muhammad sendiri memimpin Alkhairaat sejak 1969 hingga 1975.

Tidak hanya kepada anaknya, Guru Tua bahkan sudah memikirkan kaderisasi kepemimpinan hingga ke cucu-cucunya, di antaranya Habib Saggaf bin Muhammad Aljufri. Fakta ini dapat ditemukan pada gubahan syair pujian Guru Tua kepada Habib Saggaf.

Sepeninggal Habib Muhammad pada Tahun 1975, kepemimpinan Alkhairaat dilanjutkan oleh Habib Saggaf hingga saat ini.

Selama kepemimpinan anaknya di dua masa itu, kedua cucu Guru Tua, yakni Habib Saggaf dan Alm. Habib Abdillah senantiasa membantu perkembangan Alkhairaat.

Guru Tua menggambarkan kedua cucunya tersebut BAGAIKAN KEDUA MATANYA. Guru Tua menyampaikan itu ketika penjemputan Habib Saggaf dari Mesir. Kala itu, panitia penjemputan menyiapkan dua kalung bunga, satu untuk Guru Tua dan satunya lagi untuk Habib Saggaf.

Pada pengalungan bunga, Guru Tua malah melepas kalungan bunganya dan memberikannya kepada Alm. Habib Abdillah seraya berkata bahwa jangan membedakan keduanya, karena keduanya bagaikan sepasang mata beliau.

Seperti halnya sepasang mata, tak terang dan tak sempurna ketika salah satunya hilang. Pada tahun 2006, Habib Abdillah yang oleh murid-muridnya lebih akrab dikenal dengan sapaan Ustadz Abdillah atau Abi, akhirnya dipanggil oleh Ilaihi Rabbi keharibaan-NYA, setelah puluhan tahun bersama kakanda tercintanya Habib Saggaf dalam menjalankan misi dakwah yang dititahkan kakakeknya Habib Idrus bin Salim Aljufri, dalam suka dan duka.

Kesedihan meliputi kepergian satu dari kedua mata Sang Guru. Namun sedih itu tak berlangsung lama, Habib Saggaf pun menunjuk adiknya Habib Ali bin Muhammad Aljufri untuk menggantikkan posisi kakaknya Alm. Habib Abdillah.

Ketika itu, Habib Ali yang sudah puluhan tahun meninggalkan Palu demi menimba ilmu di Universitas Al-Azhar Kairo dan menjadi guru di Negeri Jiran Malaysia, lalu dipanggil pulang.

Habib Ali pun patuh dengan panggilan tugas dari kakak tercintanya, yang bagai ayah untuknya saat ini. Maka satu mata yang hilang, pun telah diganti dengan mata lainnya.

Hari ini, kedua mata Habib Idrus bin Salim Aljufri itu masih terpancar benderang dari sosok Habib Saggaf sebagai Ketua Utama Alkhairaat dan Habib Ali selaku Ketua Umum Pengurus Besar (PB) Alkhairaat.

Demi amanah di pundaknya, Habib Ali pun tak beda dengan Alm. Habib Abdillah kakaknya. Dia berjalan tak kenal lelah, masuk keluar kampung mengunjungi sekolah-sekolah Alkhairaat, memenuhi undangan-undangan abnaul khairaat di berbagai wilayah kerjanya. Kecintaan abnaul khairaat pun lekat padanya.

Rangkaian di atas, mengingatkan kita kembali akan pertanyaan seorang murid Habib Idrus bin Salim Aljufri, yakni Awad Basaleh, kurang lebih berikut ini “Ya Habib, siapa yang akan menggantikan kedudukan Habib sepeninggalan Habib nanti?

Pertanyaan ini langsung beliau jawab MUHAMMAD (putranya Habib Muhammad).

Kemudian Awad Basaleh bertanya lagi, “Setelah Habib Muhammad, siapa yang gantikan Ya Habib?. Lalu Guru Tua menjawab “Waladuh, waladuh, waladuh” yang artinya anaknya, anaknya, anaknya.

Jawaban ini adalah suatu isyarat bahwa orang-orang yang menjadi pemegang tongkat estafet pemimpin dakwah di Alkhairaat adalah dari jalur putranya, Habib Muhammad.

TULISAN INI DIDEKIKASIKAN OLEH ABDURRAHMAN BIN ABDILLAH ALJUFRI DI HAUL EMAS GURU TUA

loading...