Senapan Angin Jadi Bukti Terduga Terorisme

oleh
TPM, Andi Akbar tengah menunjukkan foto senapan angin yang disita Densus 88 dalam penggerebekan di Jalan Touwa. (FOTO: MAL/FALDI)

PALU – Tim Detasemen Khusus (Densus) 88 Polda Sulteng menangkap dua terduga teroris di Palu, Selasa (03/09) sekitar pukul 00.00 Wita, tepatnya di Lorong Malaya, Jalan Towua, Kecamatan Palu Selatan.

“Iya benar, ada dua orang kita amankan bersama barang bukti berupa dokumen dan persenjataan,” ungkap Kapolda Sulteng, Brigjen Pol Luqman Wahyu Hariyanto, Rabu (04/09).

Belakangan, keterkaitan dua warga dengan Kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT) itu juga belum dapat dipastikan kepolisian. Identitas keduanya pun enggan diungkap.

“Keterlibatannya itu masih didalami,” singkat Kapolda.

Terpisah, Tim Pengacara Muslim (TPM), Andi Akbar, menjelaskan, bahwa penangkapan tersebut berawal dari informasi seseorang berinisial ZA yang telah ditangkap terlebih.

Dari penangkapan itu, kemudian berkembang kepada dua orang di Jalan Towua, yakni masing-masing MA (25) tahun dan HS (21) tahun

Pihaknya sendiri menyayangkan proses penangkapan karena tidak sesuai prosedur. Pertama, kata Akbar, tidak disertai surat penangkapan dan penggeledahan. Aparat yang menangkap juga tidak memperlihatkan identitas.

“Apakah ini dari Densus atau dari apa. Mereka juga tidak menjelaskan apakah terduga terorisme atau apa ke pihak keluarga. Tiba-tiba lakukan penggerebekan dan langsung ditangkap semuanya,” ungkap Akbar.

Sejumlah barang bukti pun turut disita, seperti handphone berisikan video-video Daulah Islamiyah yang ditengarai radikalisme. Padahal, kata dia, Youtube-lah yang paling radikal.

“Sebab video-video itu hanya diunduh dari youtube,” katanya.

Sementara sejumlah barang bukti lain seperti senjata yang diklaim polisi, menurut Akbar adalah hoax, karena yang disita hanya senapan angin.

“Begitu pula dengan penyitaan dokumen. Padahal tidak ada,” ujarnya.

Sementara barang bukti lainnya, lanjut dia, juga masih dalam batas kewajaran, karena hanya berupa pisau dapur dan sebilah parang.

Sementara kedua istri yang diamankan itu merasa diperlakukan dengan tidak pantas oleh petugas. Risnawati (30) tahun, menceritakan saat saat petugas menerobos masuk ketika dirinya belum mengenakan hijab.

“Jam 12 malam sekitar 10 orang berpakaian preman datang ke kos menggunakan pistol. Saya bilang sabar, saya gunakan jilbab dulu, tapi pintu kos langsung didobrak, ditendang dan mengejar saya ke dalam kamar. Saya belum pake jilbab, tirai kamar dibuka petugas dan saya difoto-foto dan divideo,” cerita Risna, istri MA.

Kata Risna, sehabis Shalat Isya, suaminya pergi membeli makanan di depan lorong. Sampai aparat melakukan penggeledahan di rumahnya, MA tidak pulang.

“Saya tahu pergaulan suami saya seperti apa, karena dia hanyalah seorang buruh bangunan. Pagi kerja, sore sudah ada di rumah,” tuturnya sambil menyeka air mata.

Di kos-kosan MA, aparat turut menyita barang bukti berupa televisi, mesin jahit, topi dan senapan angin.

Terkait dengan penggerebekan itu, pun kedua istri warga yang diamankan itu telah melayangkan laporan ke Komnas-HAM Perwakilan Sulteng.

Selain itu, merka bersama TPM juga akan melakukan upaya praperadilan terhadap penangkapan tersebut.

Hingga selesai memberikan keterangan kepada sejumlah wartawan di Palu, pihak keluarga maupun TPM belum juga mendapatkan kabar dari pihak Polda Sulteng terkait kondisi maupun keberadaan MA dan HS. (FALDI)