Rohingya, Teroris Tak Berjenggot

oleh
Muslim Rohingya

OLEH: DARLIS MUHAMMAD*

ROHINGYA kembali berduka, hampir 400 orang tewas dalam pertempuran di Myanmar barat laut selama sepekan terakhir. Ribuan orang menyeberang ke perbatasan menuju Bangladesh dengan satu harapan, selamat.

Kekerasan terhadap muslim Rohingya sudah terjadi sejak lama. Yang beruntung, bisa berlabuh ke beberapa negara saat melarikan diri, termasuk ke Indonesia. Kaum muslim malang itu ditampung di negeri Aceh.

Apa yang terjadi terhadap muslim Rohingya merupakan edisi kekerasan tiada akhir. Kutukuan demi kutukan dari berbagai negara muslim terhadap Pemerintahan Myanmar berlalu tanpa bekas.

Kepedihan tidak mereda, malah memuncak setelah aksi serangan Arakan Rohingya Salvation Army terhadap petugas keamanan Myanmar. Ini menjadi awal kelam dan alibi militer Myanmar untuk terus menghabisi warga Rohingya hingga punah di Arakan.

Serangan militer ke kampung-kampung muslim di Rohingya ini merupakan tindakan paling mematikan dalam beberapa dasawarsa. Rohingya terus berduka, menjerit kepada dunia, namun tangisan mereka terabaikan dan korban pun terus berjatuhan.

Militer Myanmar semakin tuli, dukungan dari para biksu Budha radikalis memuluskan militer menghabisi muslim Rohingya tanpa perlawanan berimbang. Aung San Suu Kyi, bisu! ia sama sekali tidak bersuara untuk nasib sekitar 1,1 juta Muslim Rohingya. Padahal penganiayaan dan proses pemusnahan muslim Rohingya sudah berlangsung sejak 75 tahun lamanya.

Suu Kyi bahkan menyebut, serangan ini sebagai sebuah balasan dari serangan tentara pembebas kaum Rohingya, Arakan Rohingya Salvation Army (ARSA), Tentara Pembebasan Arakan. Pasukan ARSA lahir sebagai gerakan perlawanan atas semena-menanya militer Myanmar kepada minoritas Rohingya. Perlawanan ini sebagaimana digelorakan tentara ARSA akan terus dikobarkan jika pemerintah Burma tidak menyudahi kekerasan terhadap warga Rohingya

Meskipun PBB telah meminta militer menjaga keamanan penduduk sipil, tetapi di lapangan justru warga sipil menjadi bulan-bulanan militer Rohingya. Pada beberapa kesempatan ekstrimis Budha pun ikut menjadi bagian menyerang, mengusir warga muslim.

Kita prihatin akan hal ini, banyak sudah organisasi kemanusiaan mengutuk dan meminta Pemerintah Myanmar menghentikan perburuan bangsa Rohingya. Duka Rohingya menjadi perhatian dunia, terutama di negeri-negeri Islam. Berbagai kecamatan, kutukan, dan aksi lainnya tertuju kepada Myanmar. Aksi kepedulian terhadap Rohingya terus meningkat seiring kekerasan yang juga meningkat di kawasan Rakhine, tapi negara yang dipimpin peraih nobel perdamain itu, semakin beringas dengan dalih pembelaan terhadap kedaulatan Myanmar, mereka terus melakukan serangan mematikan kepada warga sipil Rohingya.

Menyimak kekinian di Rohinya, rasanya pantas kita menerjemah ulang bahkan menegas kembali makna teroris. Jika prase ini lama disemat pada muslim di dunia, akibat frame media selama ini, maka kekerasan di Myanmar oleh militer dan ‘dibantu’ ekstrimis Budha layak dikatakan sebagai sebuah aksi terorisme.

Sudah terlalu banyak kutukan untuk Myanmar tetapi aksi kekerasan tidak mereda, mereka sudah tuli. Mari suarakan kembali kutukan kepada Myanmar. Kita belum  banyak menolong dan berbuat untuk  saudara seiman kita muslim Rohingya . Jangan putus asa mari kembali sempurnakan pertolongan ini bagi saudara kita. Selamatkan Rohingya. ***

“Penulis adalah Pimpinan Redaksi Harian Umum Media Alkhairaat (MAL)