PW Fatayat NU Sulteng Gelar Zikir Akbar Sambut Ramadhan

oleh
Hj. Zabiyah Yebo Samani saat memimpin zikir bersama di Masjid Jami, Kampung Baru, Kamis (11/05). (FOTO: MAL/YAMIN)

PALU – Pengurus Wilayah (PW) Fatayat Nahdlatul Ulama (NU) Sulteng, Kamis (11/5) melaksanakan tiga agenda zikir bersama, yakni dalam rangka menyambut bulan Suci Ramadhan, Peringatan Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW dan hari lahir Fatayat NU ke-67. Zikir tersebut dipimpin Ketua Badan Kontak Majelis Taklim (BKMT) Kota Palu, Hj. Zahabiyah Yebo Samani, di Masjid Jami, Kelurahan Kampung Baru, Kamis (11/05) sore. Kegiatan juga dihadiri oleh ratusan ibu-ibu majelis taklim yang terbagung dalam PW Fatayat NU.

Peringatan hari lahir Fatayat NU itu sendiri mengangkat tema ”Memperteguh Islam Nusantara Melalui Penguatan Organisasi Perempuan”.

Ketua PW Fatayat NU Sulteng, Zulfiah mengatakan, tema itu diangkat untuk menegaskan bahwa keberagaman budaya yang ada di Indonesia merupakan sebuah kekuatan untuk mempertahankan bangsa dan negara.

Dikatakannya, Fatayat NU sebagai organisasi perempuan NU, besar, berkembang dan hidup bersama dengan budaya Indonesia yang mempunyai nilai kemanusiaan yang tinggi, memiliki budaya gotong royong, saling menghormati, menghargai dicerminkan dalam setiap langkah kehidupan bermasyarakat.

“Cerminan budaya yang bernilai itu termanivestasi melalui keragaman kebudayaan, kebiasaan, penyajian dan cara makan, cara berpakaian, kegiatan adat istiadat dan bahkan beragama,” jelasnya.

Dia menambahkan, Fatayat NU yang terus memegang paham Ahlusunnah Wal Jama’ah an Nahdhiyah ini, berpendapat, Islam adalah agama yang benar, yang lebur dengan nilai budaya Indonesia.

“Ini adalah potensi kekuatan kita dalam mempertahankan kehidupan berbangsa dan bernegara,” jelasnya.

Zulfiah juga menjelaskan latar belakang Islam Nusantara. Dijelaskannya, Islam Nusantara adalah Islam yang ramah, terbuka, inklusif dan mampu memberi solusi terhadp masalah-masalah besar bangsa dan negara. Islam yang dinamis dan bersahabat dengan lingkungan kultur, sub-kultur dan agama yang beragam.

“Islam bukan hanya cocok diterima orang Nusantara tetapi juga pantas mewarnai budaya Nusantara untuk mewujudkan sifat akomodatifnya, yakni rahmatan lil alamin. Penguatan Islam Nusantara inilah yang mejadi dasar pembangunan dan pengembangan organisasi Fatayat NU,” jelasnya.

Selain itu, dalam persoalan perempuan dan anak, Fatayat NU yang selama ini ada di tengah-tengah masyarakat, sudah mampu memberikan kontribusi yang berarti, meskipun belum massif cakupannya.

Adapun beberapa program yang berkaitan adalah Gerakan Perlindungan Anak Terhadap Tindak Kekerasan (Gelatik).

“Ini sangat diharapkan mampu menjadi gerakan nasional. Begitu pula Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas), Gerakan Nasional Fatayat NU Cegah Stunting dan Gerakan Kemandirian Ekonomi. Semua ini diharapkan dapat menjadi motor penggerak dari tingkat nasional sampai rumah,” tandasnya. (YAMIN)