Putra Bajo, Penyambung Titah Guru Tua di Pulau Kabalutan

oleh
Madrasah Diniyah Awaliyah (MDA) Desa Kabalutan. (FOTO: MAL/FALDI)

Kiprah Pendiri Alkhairaat, HS Idrus bin Salim Aljufri atau Guru Tua dalam mencerdaskan anak bangsa, telah menembus pelosok negeri, bahkan di wilayah kepulauan. Amal jariyah yang ditinggalkannya berupa ilmu dan madrasah masih terus mengalir hingga kini, seiring dengan pengabdian tak henti dari orang-orang yang ikhlas dan peduli mengajarkan Islam dalam lingkup pendidikan formal.

Mahmud, adalah salah satunya. Hampir separuh hidupnya diabdikan menjadi penyambung titah Sang Guru di sebuah bangunan kecil milik Alkhairaat setingkat Sekolah Dasar (SD), yakni Madrasah Diniyah Awaliyah (MDA) Desa Kabalutan, Pulau Kabalutan, Kepulauan Togean, Kabupaten Tojo Una-Una.

Mahmud

Pulau Kabalutan sendiri merupakan salah satu pulau yang dihuni tak kurang dari ratusan masyarakat Suku Bajo yang berada dikawasan destinasi wisata Kepulauan Togean, Kabupaten Tojo Una-Una.

Pria berusia 70 tahun itu mengajarkan ilmu kepada anak-anak Suku Bajo yang dominan bermukim di pulau itu. Mahmud sendiri merupakan satu di antara sekian banyak keturunan Suku Bajo yang ada di Kepulauan Togean.

Bahkan di usia senjanya, Mahmud masih sempat membuka cabang MDA di pulau yang berbeda, namun masih dalam wilayah Desa Kabalutan, tepatnya di dusun III.

Pantauan awak media ini, MDA yang dikepalai Mahmud memiliki dua ruang belajar yang dilengkapi dengan bangku, meja, papan tulis serta spidol. Selama lima tahun belakangan ini, MDA yang dikepalai Mahmud, rata-rata menamatkan 30 siswa siswi.

Mahmud tak sendiri. Selama menjalankan pendidikan, dia dibantu empat tenaga pengajar. Alhamdulillah, satu di antaranya sudah berstatus Pegawai Negeri Sipil (PNS), sementara tiga lainya masih honorer.

Napak tilas perjalanan Alkhairaat di pulau itu, cukuplah memberi bukti bahwa sebagian besar anak-anak Suku Bajo di Kepulauan Togean adalah abnaulkhairaat yang memang disiapkan menjadi kader pelanjut dan pengembang Alkhairaat, setidaknya di kawasan pulau tempat mereka bermukim.

Mahmud kepada MAL, belum lama ini, mengaku sangat senang menjalani aktivitas itu, meski secara formal, usianya saat ini sudah memasuki masa purna bhakti atau pensiun.

Kata dia, mengabdikan diri kepada Alkhairaat selama 38 tahun lamanya adalah sebuah kenikmatan tersendiri dan pilihan itu merupakan keputusan terpenting dalam hidupnya.

“Saya memang belum pernah ketemu dengan Habib Sayyid Idrus Bin salim Aljufri, tapi pesan beliau yang disampaikan oleh cucunya, yaitu Habib Sayyid Saggaf bin Muhammad Aljufri paling saya ingat hingga saat ini. Dan itu membuat saya akan terus menjaga Alkhairaat disini,” ulas Mahmud.

Mata tua itu basah, manakala menuturkan pesan yang disampaikan Guru Tua melalui mulut Habib Saggaf, yaitu “Jangan pernah meninggalkan Alkhairaat, karena dimana ada Alkhairaat disitulah aku berada,”. (FALDI)

loading...