Puluhan Mualaf Uwemanje: Rela Berjalan Kaki Demi Bisa Baca Alquran

oleh
Ustadz Ardiansyah bersama sejumlah Mualaf tengah belajar baca Alquran. (FOTO: IST)

SIGI – Menuntut ilmu merupakan taqwa, mengantarkan ilmu merupakan ibadah, mengulang ilmu merupakan zikir, mencari ilmu merupakan jihad, begitulah pepatah Filsuf asal Persia Abu Hamid Muhammad Al Gazali.

Ungkapan tersebut pantas disematkan kepada puluhan mualaf di Desa Uwemanje, Kecamatan Kinovaro, Sigi, Sulteng. Mereka saat ini tengah giat belajar baca Alquran dari Iqra.

Pengajar baca Alquran bagi puluhan Mualaf yakni Ustadz Ardiansyah. Dia menunturkan dirinya diminta oleh Habib Abubakar bin Syech untuk bersedia mengajar kepada 30 lebih orang mualaf di desa tersebut, yang kesulitan membaca Alquran dan ibadah shalat.

“Awal saya diperkenalkan oleh Habib Alwi bin Syech Abubkar. Beliau meminta saya mengajar di sana. Setelah itu beliau menyampaikan bahwa kurang lebih 30 lebih mualaf yang betul-betul sama sekali tidak tahu baca Alquran, bahkan menyebut niat sholat saja susah,” terang Ustadz Ardiansyah, Senin (13 /7) sore.

Pimpinan Majelis Taklim Syubaanul Khairaat Dolo ini melanjutkan, hampir semua mualaf diajarkan dari awal yakni baca Iqra. Bahkan di antaranya melafalkan bacaan shalat lima waktu pun masih banyak yang belum bisa. Sehingga dalam proses belajar, mereka juga diajarkan tata cara wudhu dan ibadah lainnya.

“Kita ngajar di sana seminggu sekali, sudah berjalan dua kali. Metode tentu kami lakukan metode dari awal iqra, tentu saya menyampaikan doa-doa wudhu dan niat tata cara shalat,” ungkapnya.

Ketua MUI Kecamatan Dolo ini menjelaskan, bersama rekannya ia membagi masing dua kelompok agar memudahkan dalam proses mengajar.

Ia juga menceritakan kondisi perkampungan berada di lereng gunung. Bahkan kata dia, ada yang rela jauh berjalan kaki menuju masjid hanya untuk bisa membaca Alquran.

“Insya Allah kedepannya banyak teman saya membantu untuk mengajar di sana, karena begitu banyaknya mereka di sana, pertemuan setiap hari rabu dan ahad selama satu jam setegah,” ujarya.

Ardi sapaan akrabnya mengatakan, untuk saat ini masih membutuhkan Alquran dan Iqra. Dengan adanya kelebihan Alquran dan Iqra mereka bisa membawa pulang untuk memperlancar bacaan di rumah masing-masing.

“Kemudian mualaf ini, bukan hanya dari kampung di bawah, kampung dari puncak dari gunung berjalan kaki, ahamdulillah. Turun ke bawah sampai ke masjid demi untuk belajar mengaji,” pungkasnya. (NANANG IP)

Iklan-Paramitha