Puluhan Istri Eks Napiter Poso Dilatih Cegah Kekerasan

oleh
Suasana pelatihan penguatan kapasitas perempuan di Poso, Rabu (09/10). (FOTO: MANSUR)

POSO – Sebanyak 30 ibu-ibu di Poso mengikuti pelatihan penguatan kapasitas. Pesertanya sendiri merupakan para istri eks napi teroris (napiter), organisasi keagamaan perempuan, aktivis dan LSM se-Kabupaten Poso.

Kegiatan yang dilaksanakan atas kerjasama Lembaga Penguatan Masyarakat Sipil (LPMS) dengan Kreasi Prasasti Perdamaian (KKP) Jakarta itu akan berlangsung selama dua hari, Rabu hingga Kamis (10/10) di salah satu hotel di Poso.

Puluhan peserta itu diberikan bimbingan serta motivasi oleh para narasumber, khususnya para istri eks napiter dalam rangka mencegah kekerasan ekstrimisme. Selain berupa materi, kegiatan tersebut juga disertai dialog atau sharing pengalaman upaya penguatan pencegahan kekerasan serta pelatihan yang dipandu langsung oleh Boas Simanjuntak dari KKP dan Ruwaedah Untingo, tokoh perempuan perdamaian Poso.

Direktur LPMS Kabupaten Poso, Endriani Nur, mengatakan, pelatihan sengaja melibatkan para istri eks napiter dengan tujuan meningkatkan pemahaman dan kesadaran perempuan, menjalin kerja sama antar pihak, multi stakeholder dan masyarakat dalam upaya pencegahan aksi kekerasan di Poso.

Menurutnya, pencegahan aksi kekerasan bukan hanya bisa dilakukan oleh aparat penegak hukum, melainkan melalui pendekatan berbasis kelompok perempuan.

“Jadi kegiatan ini merupakan salah satu cara dalam meningkatkan peran dan partisipasi kelompok perempuan dalam upaya bina damai serta pencegahan gerakan ekstremis yang berbasis gender,” ungkap Endriani.

Sementara Ruslan Sangadji selaku partner riset lokal wilayah Sulteng yang turut hadir dalam kegiatan tersebut, mengatakan, selain di Sulteng khususnya Poso, pelatihan yang sama juga sudah dilaksanakan di Jawa Timur dengan tim yang berbeda.

Menurutnya, Poso sengaja dipilih sebagai lokasi pelatihan karena banyaknya kasus-kasus  terorisme yang pernah terjadi.

“Kita berharap, setelah ini ada kesadaran perempuan untuk aktif mencegah ekstrimisme dan khusus istri eks napiter agar bisa meningkatkan ekonomi warga melalui kelompok usaha,” jelas Ruslan.

Selesai pelatihan, seluruh peserta akan didata lebih lanjut oleh tim untuk mengidentifikasi usaha-usaha apa yang cocok dikembangkan di wilayahnya. Pendataan tersebut dilakukan agar nantinya usaha yang digeluti tepat sasaran sehingga bisa membantu peningkatan ekonomi masyarakat setempat. (MANSUR)