Pokjaluh Lintas Agama Kota Palu Diapresasi Kemsetneg

oleh
Pengurus Pokjaluh Lintas Agama Kota Palu berpose bersama rombongan dari Kementerian Sekretariat Negara RI usai prosesi penyerahan cendera mata di Kantor Kemenag Kota Palu, Kamis (20/09) (FOTO : IST)

PALU – Kelompok Penyuluh Agama (Pokjaluh) Kota Palu mendapat apreiasi dari Kementerian Sekretariat Negara (Kemsetneg) RI, atas ide pembentukan Pokjaluh Lintas Agama, dan program-programnya dalam mewujudkan kota Palu yang damai.

Ketua Pokjaluh Lintas Agama Kota Palu, Zulfiah ditemui di Kantor Kemenag Kota Palu, Rabu (26/09) mengaku, apresiasi dan penyerahan cendramata itu dilakukan di Kantor Kemenag Kota Palu, Kamis (20/09) oleh Perwakilan Kemsetneg yang dipimpin oleh Kepala Bidang Hubungan Kemasyarakatan, I Nata Rukitas.

“Awalnya rombongan Kemsetneg RI menemui KTU Kemenag Kota Palu, Arman Rampadio, mereka datang ingin koordinasi  apa saja yang dilakukan oleh Kemenag Kota Palu  dan apa yang sudah dilakukan Kemenag Kota Palu, pasca gerakan radikalisme yang dilakukan Sanoso Cs. Jadi KTU menjawab telah membentuk Pokjaluh lintas agama, maka dipanggilah saya ketemu rombongan itu, dan saya diwawancara terkait bagaimana sebabnya sampai membentuk Pokjaluh lintas agama,”akunya Zulfiah.

Kepada Kemsetneg Zulfiah menurutkan, pengalamannya sebagai aktivis organisasi kemahasiswan maupun ormas, ternyata membantunya dalam melaksanakan tugas sebagai penyuluh Agama Islam. Berbekal pengalaman membina relasi, ia mulai melakukan pendekatan dengan penyuluh-penyuluh lintas agama di Kota Palu.

Awalnya Zulfiah mengutarakan idenya itu pada Penyuluh Agama Hindu, I Wayan Sudiana, lalu bersepakat akan menghadap Kepala Kantor Kemenag, H. Ma’sum Rumi untuk membahas ide pembentukan Pokjaluh Lintas Agama.

“Gayung bersambut, Ma’sum mengaminkan ide tersebut. Dukungan nyata diberikan dengan penerbitan Surat Keputusan (SK) Kepala Kantor Kemenag Kota Palu tentang pembentukan Pokjaluh Lintas Agama. Secara struktur Pokjaluh Lintas Agama tidak dibawahi oleh Kepala Seksi Bimbingan Masyarakat manapun. Dalam SK tersebut Kepala KanKemenag sebagai penasehat dan Kasubag TU sebagai Pembina, sehingga kegiatan-kegiatan Pokjaluh Lintas Agama berkoordinasi dengan Subbag TU,”jelasnya.

KTU Kemenag Kota Palu, Arman Rampadio, menyerahkan cendera mata yang diberikan Perwakilan Kemsetneg pada ketua Pokjaluh Lintas Agama Kota Palu, Zulfiah di Kantor Kemenag Kota Palu, Kamis (20/09) (FOTO : IST)

Langkah perjalanan Pokjaluh Lintas Agama pun dimulai, dengan melaksanakan dua kali dialog lintas agama. Masing-masing dilaksanakan di Kecamatan Palu Timur dan Palu Selatan, dengan menghadirkan perwakilan masyarakat, tokoh lintas agama, pemuda, serta Ketua lembaga keagamaan.

“Kami menjaring aspirasi dari tokoh agama di palu, selama mereka hidup di Palu apa yang mereka rasakan, apa yang mereka inginkan. Ternyata semua menyambut positif. Pemeluk agama ini, merasa perlu disapa, bukan hanya dari mereka tapi dari kita (penyuluh agama) juga,” tuturnya.

Dengan dialog itu, para penyuluh lintas agama dapat menangkap keresahan yang dialami tokoh-tokoh agama di Kota Palu.

“Mereka punya ide, tapi tidak tahu harus disalurkan kemana. Maka, dengan kehadiran Pokjaluh Lintas Agama mereka merasa terbantu untuk menyalurkan aspirasi,” kata Zulfiah.

Zulfiah yang mengaku sejak dulu sering berkolaborasi dengan lintas agama, mengungkapkan bahwa keberadaan penyuluh bisa merangkul masyarakat untuk memberikan penyadaran makna kebersamaan di tengah keberagaman. Dari dialog lintas agama, akhirnya muncul ide untuk membuat kegiatan kerja bakti lintas agama. Targetnya, membersihkan rumah-rumah ibadah secara bergiliran.

“Membersihkan rumah-rumah ibadah inilah yang menjadi program rutin mingguan kami saat ini.  Kelihatannya mungkin sepele, hanya sapu-sapu. Namun dengan hal yang sederhana, dilakukan bersama-sama, kita dapat saling mengenal antara agama yang satu dengan lainnya  ”akunya.

Dengan melakukan kegiatan bersama, diharapkan akan muncul sikap saling memahami. Semisal. Saat dilakukan kerja bakti di Masjid, Non muslim telah memahami tidak masuk dalam masjid.

“Kita juga jadi menghargai kebiasaan-kebiasaan umat agama lain. Misalnya, jadi tahu mana yang dibolehkan dan tidak dalam suatu agama,” tambah  Zulfiah.

Terkait dengan hal tersebut, Kemsetneg mencatat dan akan melaporkan hal tersebut kepada Presiden RI dan kemungkinan, Kota Palu akan dijadikan daereah percontohan dalam menjaga kerukunan antar umat beragama. (YAMIN)

loading...

Tentang Penulis: Fauzi Lamboka

Gambar Gravatar
Belajar Menulis dan Menulis untuk Belajar