PERJALANAN ABADI

oleh
ilustrasi

Oleh: Zainal Abidin, S.Pd.I

الخطبة الأولى

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلَّامُ الْغُيُوْبِ. غَافِرُ الذَّنْبِ وَقَائِلِ التَّوْبَةِ مِمَّنْ يَتُوْبُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ شَهَادَةً تُنحِيْ بِهَا ظُلُمَاتِ الذُّنُوْبِ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ كَشَفَ لَهُ عَنْ كُلِّ مَحْجُوْبٍ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ زَالَتْ بِهِمُ الْكَرُوْبِ. أَمَّا بَعْدُ, فَيَا عِبَادَ اللهِ أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.

 

Marilah kita bertakwa kepada Allah SWT dengan sebenar-benarnya takwa, dengan melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Kita syukuri nikmat pemberian-Nya, nikmat kesehatan, kekuatan dan berbagai kebutuhan yang tersedia dimana-mana untuk melengkapi perbekalan kita menuju tahap-tahap berikutnya, terutama tahap menempuh perjalanan panjang di akhirat.

Sungguh suatu kesengsaraan yang tiada tertanggungkan dan penyesalan yang tiada terkira kalau akhir perjalanan ini berhenti disebuah jurang yang paling dalam, jurang penderitaan yang tiada terperikan, jurang raungan dan jeritan yang tak mengenal belas kasihan, yaitu jurang Neraka Jahannam tempat penderitaan yang tak pernah ada penghabisannya.

Maasyiral Muslimin Rahimakumullah

Setiap orang yang akan menempuh sebuah perjalanan, pasti dia akan bertanya pada orang lain, bagaimana kiranya suka duka dalam perjalanan ini. Apa persiapan yang harus dibawa, dimana tempat menginap, dan kepada siapa dia bisa meminta pertolongan bila ada kesulitan.

Wahai semua orang yang memiliki rasa…! Wahai orang yang berakal…! Wahai orang yang tidak ingin menderita dalam perjalanan abadi…! Wahai orang yang tidak ingin menyesal dalam penyesalan yang tak berkesudahan…! Bagaimanapun sengsaranya perjalanan di dunia ini, betapapun melaratnya hidup ini, masih ada tempat untuk mencari perlindungan. Masih banyak pohon yang tumbuh, masih banyak buah-buahan yang bisa dimakan, masih banyak air yang bisa diminum, dan masih banyak kebutuhan yang tersedia dimana-mana.

Jikalau kita kehabisan bekal, masih ada teman yang bisa membantu. Jikalau ditimpa musibah, masih ada saudara yang bisa menolong. Jikalau menderita sakit, masih ada obat yang bisa menyembuhkan, ada keluarga yang bisa menghibur. Jikalau lemah tak berdaya, dan jikalau sakit semakin parah, dan tidak bisa berjalan, masih ada ayah dan ibu yang memapah kita, masih ada kendaraan yang bisa membawa kita ke rumah sakit.

Wahai orang yang ingin mengambil ibarat dari perjalanan ini…! Wahai orang yang pernah menderita di dunia ini…! Wahai orang yang pernah kelaparan berhari-hari…! Wahai orang yang pernah meraung-raung kesakitan…! Betapapun sengsaranya hidup ini, bagaimanapun sakitnya derita di dunia ini, masih ada jalan untuk bisa disembuhkan, masih ada orang yang bisa memberi pertolongan. Tapi kalau di akhirat, semua orang harus berjuang sendiri. Tidak ada tempat untuk mencari pertolongan. Mengapa kebanyakan orang lebih mengutamakan bekal dunia…? Mengapa mereka mengabaikan bekal yang akan dibawa dalam perjalanan abadi di akhirat…?

Maasyiral Muslimin Rahimakumullah

Tahap pertama perjalanan akhirat ialah alam barzakh yang sunyi, alam kubur yang sempit, alam penantian yang amat mencekam, serta masa menunggu yang paling menakutkan. Di kubur orang menderita dalam kesendiriannya. Meraung-raung tak ada yang peduli, menjerit kesakitan tak ada yang belas kasih. Waktu demi waktu penuh penderitaan, hari demi hari berganti penuh kesengsaraan. Tiada waktu tanpa siksaan, tiada hari tanpa jeritan, penyesalan dan keluhan tidak mengurangi siksaan.

Demikian itulah balasan bagi orang-orang kafir dan durhaka, yang tidak mau peduli dengan peringatan Allah. Mereka bermandikan noda dan dosa berkepanjangan. Mereka terlena dengan kesenangan dunia yang akan binasa dan melupakan kesengsaraan akhirat yang tiada terkira. Mereka terus berjuang hanya untuk kesenangan dunia semata, mereka tidak lagi menghiraukan kehidupan yang abadi sesudah mati. Mereka terus-menerus hidup dalam kebebasan, mereka terus-menerus mengejar kepuasan. Akhirnya sampai tiba ajal mereka tidak sempat menyiapkan bekal yang justru untuk kepentingan yang amat panjang, kepentingan yang abadi di negeri pembalasan.

Satu-satunya harapan ialah harta yang ditinggalkan atau anak-anaknya yang mendoakannya. Namun, harapan itu bukan saja sirna melainkan berganti dengan siksa berganda.

Harta digunakan oleh anak-anaknya dalam kemungkaran, berhura-hura tanpa batas, bersenang-senang dalam kedurhakaan. Anak-anak sibuk dalam kebebasan bergelimang maksiat, tak pernah mengenal puas. Semua itu berubah menjadi siksa yang diterima oleh orang tua selama masa penantian, akibat kelalaian mendidik anak dan menyalahgunakan harta selama hidup di dunia.

Kuburan bukan tempat peristirahatan terakhir, melainkan tempat penantian panjang yang menakutkan. Sebuah riwayat menyebutkan bahwa Sayyidina Utsman r.a. selalu menangis setiap berdiri di atas kuburan. Seorang sahabat menegurnya, “Kenapa engkau selalu menangis bila berdiri diatas kuburan wahai amirul mukminin?” Beliau menjawab, “Bagaimana saya tidak menangis, Nabi Muhammad SAW pernah mengatakan bahwa kubur adalah rumah pertama menuju akhirat. Jika di dalamnya orang selamat, maka ia akan mendapatkan kemudahan sesudah itu. Tapi kalau di dalamnya orang menerima siksa, maka sesudah itu ia akan lebih sengsara lagi”.

Kuburan adalah rumah yang tidak pernah dipikirkan oleh kebanyakan orang. Kuburan adalah penginapan pertama menuju akhirat, tapi bukan penginapan yang penuh dengan kelezatan dan kenikmatan, melainkan penginapan derita yang tidak pernah berakhir.

Kubur juga tempat menunggu yang amat mencekam, bukan menunggu kebebasan dan pengampunan, melainkan menunggu hari yang lebih dahsyat, hari kebangkitan semua manusia.

Sungguh suatu perjalanan yang penuh teriakan dan jeritan yang tidak diperdulikan, perjalanan yang penuh resiko dalam kesendirian. Perjalanan panjang yang tidak dibatasi oleh ruang dan waktu, perjalanan abadi yang tidak berpenghujung.

Alangkah menyesalnya dan betapa sengsaranya kalau abadi dalam siksa Jahannam yang amat membara.

Maasyiral Muslimin Rahimakumullah

Hari kebangkitan adalah fase kedua dari kesengsaraan akhirat. Hari itu semua manusia bangkit dari kuburnya dalam keadaan yang mengerikan. Bermacam-macam bentuk wajah dan beraneka bentuk badan. Berbagai penyakit yang diderita dan beragam kesengsaraan yang dialami.

Ada yang buta matanya, ada yang mengeluarkan nanah dan darah dari mulutnya, ada yang berbentuk binatang, ada yang mengulurkan lidahnya sampai ke dada, dan banyak lagi bentuk-bentuk lainnya yang mengerikan.

Semua mereka yang bangkit itu harus berangkat menuju Mahsyar, tidak ada alasan bagi yang sakit, tidak ada keluhan yang di dengar, semua harus berangkat dengan daya apapun.

Nabi Besar Muhammad SAW memberitahukan bahwa “Manusia akan dibangkitkan pada hari kiamat nanti, terbagi atas tiga kelompok besar. Pertama berkendaraan, kedua berjalan kaki, dan ketiga berjalan dengan wajah”. Para sahabat bertanya, “Apakah ada orang yang berjalan dengan wajahnya? Nabi menjawab, “Allah yang berkuasa menciptakan manusia berjalan dengan kakinya, pasti akan mampu pula menciptakan manusia berjalan dengan wajahnya”.

Berjalan atau berkendaraan adalah isyarat bahwa antara kubur dan Mahsyar ada mempunyai jarak. Apakah jarak itu seribu kilometer, tidak ada seorang pun yang mengetahuinya.

Namun kalau di dunia ini jarak itu belum berarti apa-apa. Bagaimanapun jauhnya, betapapun panasnya, masih ada pohon tempat bernaung, masih ada sungai untuk melepaskan dahaga, masih ada angin bertiup untuk memberi kesejukan dan masih banyak rumah makan atau bekal yang bisa dibawa.

Tetapi kalau di akhirat, semua itu bukan saja tidak ada, melainkan berganti menjadi derita dan sengsara yang tiada terperi. Yang berjalan kaki harus berjuang sendiri, yang meraung-raung kesakitan tiada yang perduli, yang sakit harus pergi walaupun merintih, yang merangkak tiada yang belas kasih. Semua harus menuju ke satu arah dan mesti berkumpul, bukan dibawah jembatan dan bukan pula dibawah teriknya matahari padang pasir, melainkan dibawah alam padang mahsyar yang amat mencekam.

Disana tidak ada kursi bagi yang terhormat, tidak ada ruangan khusus bagi pembesar, disana tidak ada perawatan bagi yang sakit keras, tidak ada tempat berbaring bagi yang menderita, disana tidak ada pembesar dan pejabat tinggi negara, disana tidak ada lagi kebesaran dan kemuliaan, disana semua orang telah menjadi hina dan tidak berdaya sedikit pun, semuanya harus berdiri dan menunggu.

﴾وَنُفِخَ فِى ٱلصُّورِ فَصَعِقَ مَن فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَمَن فِى ٱلْأَرْضِ إلَّا مَن شَآءَٱللهُۖ ثُمَّ نُفِخَ فِيهِ أُخْرَىٰ فَإِذَاهُمْ قِيَامٌ يَنْظُرُونَ.             ﴿الزُّمر : ٦٨

 

Artinya:

            “Dan ditiuplah sangkakala, maka matilah siapa yang dilangit dan dibumi kecuali siapa yang dikehendaki Allah. Kemudian ditiup sangkakala itu sekali lagi maka tiba-tiba mereka berdiri menunggu (putusannya masing-masing)”. (QS. Az-Zumar: 68)

Menunggu…! itulah saat yang paling mencekam dihari mahsyar, menunggu dalam waktu yang paling lama, menunggu dalam keadaan yang paling menakutkan dan mengerikan. Lebih sengsara dari pada menunggu di atas atap rumah karena banjir, lebih ngeri dari pada menunggu ditepian sungai lahar, lebih sengsara dari pada menunggu dibawah panasnya matahari padang pasir.

Bukan menunggu saat istirahat bagi yang tidak mampu berdiri, bukan menunggu disuguhkan makanan bagi yang kelaparan berhari-hari, bukan menunggu pertolongan bagi yang menderita tiada terperi, melainkan menunggu keputusan terakhir, apakah selamat atau lebih menderita untuk selamanya dibawah api jahannam.

Sungguh dahsyat dan mengerikan, hari itu semua manusia, entah berapa jumlahnya, layaknya telah menjadi pengungsi besar-besaran tanpa tujuan, berkumpul disatu padang sahara dalam suhu yang amat panas dan mencekam, tidak ada sebatang pohon pun sebagai tempat berteduh, tidak ada angin bertiup sedikitpun untuk memberi kesejukan.

Hari itu benar-benar hari penyesalan yang tiada berkesudahan, hari pertanggung-jawaban setiap sen dari harta dan setiap detik dari umur. Hari dimana tidak didengar lagi setiap alasan, tidak diterima lagi keluhan orang-orang durhaka dan tidak diperdulikan lagi ratapan orang-orang zhalim.

Karena dahsyatnya hari itu, orang-orang kafir pun meminta kasih sayang Allah dengan berseru:

اَللّٰهُمَّ آرْحَمْنَا وَلَوْ إِلَى النَّارِ.

Artinya:

            “Ya Allah…! sayangilah kami walaupun nantinya Engkau memasukkan kami ke dalam neraka”.

Hari itu semua orang ketakutan yang amat dahsyat, semua orang tidak ada yang menoleh ke kiri dan ke kanan. Ayah tidak lagi bisa menolong anaknya, suami tidak lagi memperdulikan istrinya, kakak tidak lagi menghiraukan adiknya, sahabat tidak lagi memperdulikan temannya.

﴾يَومَ يَفِرُّ ٱلْمَرْءُ مِنْ أَخِيهِ. وَأُمِّهِۦوَأَبِيهِ. وَصَٰحِبَتِهِۦوَبَنِيهِ.  ﴿عبس : ٣٤-٣٦

Artinya:

            “Hari dimana seseorang lari dari saudaranya, lari dari ibu dan bapaknya, lari dari istri dan anaknya”. (QS. ‘Abasa: 34-36)

Pandangan semua ummat dihari itu hanya tertuju ke langit, sementara menghadapi ketakutan yang amat dahsyat, mereka dilanda kelaparan dan kehausan yang tiada terperikan. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa karena terlalu lama menunggu dan dahsyatnya alam mahsyar, leher mereka seakan pecah karena kehausan dan perut mereka seakan hangus terbakar karena kelaparan.

Andaikata ada orang yang membawa segelas lumpur yang busuk, pasti mereka berebutan karena sangat mebutuhkan sesuatu yang sejuk masuk ke dalam perutnya.

Sungguh sangat mengerikan bila dibanding dengan kesengsaraan dunia. Karena itu mari kita persiapkan diri ini untuk menghadapi hari yang dahsyat itu. Kita gunakan dunia ini sebagai alat untuk menyelamatkan diri di akhirat, kita sisihkan sebagian harta untuk melengkapi perbekalan dalam menempuh perjalanan panjang yang penuh resiko. Kita siapkan amal kebajikan, untuk menghadapi masa tunggu yang paling mencekam. Kita maafkan kesalahan orang untuk menghadapi pemeriksaan yang amat teliti. Kita tinggalkan segala sifat tercela untuk menghadapi pertanggung-jawaban dihadapan Allah SWT. Kita mohon ampun dari segala dosa dan kesalahan, kita sesali segala perbuatan tercela selama ini, agar kita tidak menyesal dalam penyesalan yang tidak berakhir.

Semoga Allah SWT memberi kita kekuatan lahir batin dalam mempersiapkan bekal amal kebajikan menuju perjalanan panjang di akhirat. Amin Yaa Rabbal Alamin… !

 

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُم فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ, أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُاللهَ الْعَظِيْم لِيْ وَلَكُمْ وَلِوَالِدَيَّ وَلِوَالِدِيْكُم وَلِجَمِيْعِ الْمُسْلِمِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْم