Penghuni Huntara Terkendala Air Bersih

oleh
Warga menghuni huntara Silae menunjukan meteran pulsa listrik yang dipasang PLN. (FOTO: MAL/IKRAM)

PALU – Sebanyak 20 Kepala Keluarga (KK) di Jalan Avo Sale, Kelurahan Silae, Kecamatan Ulujadi, telah menempati hunian sementara (huntara) sejak tanggal 19 Desember tahun lalu.

Huntara yang dibangun Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) itu sebanyak 120 bilik dan baru 20 KK yang menempatinya.

Warga Silae, Udin (39), pecan lalu, mengatakan, kemungkinan pecan depan sudah banyak warga yang masuk.

Udin tinggal di huntara tersebut bersama istrinya Nur dan keempat buah hatinya. Dua di antaranya masih balita.

Rumah mereka mengalami rusak berat dan tak layak lagi dihuni sehingga tidak ada pilihan lain, kecuali tinggal di huntara.

“Yang menjadi kendala air bersih, kadang lima hari tandon airnya baru diisi,” aku Nur.

Belum lagi, kata dia, pembagian logistic yang tidak menentu, biasanya logistic yang diterima di antaranya beras 15 kilogram, ikan asin, ikan kaleng dan telur.

Sayangnya, kata dia, pembagian logistic itu tidak memperhatikan kebutuhan balita. Padahal di huntara tersebut banyak balita.

“Logistik dibagi semuanya untuk orang dewasa,” tambah penyintas lainnya, Farida.

Dia juga mengeluhkan meteran listrik yang menggunakan system pulsa. Bila pulsanya habis, maka pengisianya dibebankan kepada penghuni.

“Bagi sebagian mungkin tidak mengapa. Tapi bagaimana bagi warga tidak memilki pekerjaan atau kehilangan pekerjaan,” katanya.

Sebagaimana yang dialami Samso (69). Pascabencana alam lalu, dirinya tidak lagi memiliki pekerjaan. Sebelumnya, Samso merupakan Ketua Nelayan Silae. Selain melaut, dirinya juga membuka usaha jual beli perlengkapan nelayan seperti pancing, jaring, pukat dan lainnya.

Namun tsunami telah membuat semua usahanya mencari nafkah hanyut terbawa laut.

Untuk membuka kembali usaha tersebut, selain tidak punya modal, pemerintahpun melarang membangun dekat pesisir laut dari jarak 100 sampai 200 meter.

Dia berharap, pemerintah secepatnya mencarikan solusi agar mereka bisa kembali lagi beraktifitas sebagai nelayan.

Dia mengaku membawahi sekitar 80 anggota, termasuk ibu-ibu.

“Bagi ibu-ibu nelayan dibagikan satu buah termos dan diberikan modal Rp100 ribu, untuk menjual ikan,” katanya.

Namun sejak tsunami menghempas, kini Samso harus berusaha tegar sembari mencari alternatif pekerjaan lain, sebab fisiknya tak kuat lagi  termakan usia. (IKRAM)