Pemkab Donggala akan Gelar Festival Tenun Tahun Depan

oleh
Kabid Kebudayaan, Dikbud Donggala, Rosmawati

DONGGALA – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Donggala serius melestarikan kain tenun Donggala atau Buya Sabe. Keseriusan tersebut ditunjukkan dengan rencana menggelar festival tenun tahun depan.

Rencana ini telah diawali dengan menjadi salah satu partisipan dalam acara Indonesiana di Kabupaten Tojo Una-Una (Touna) tahun depan, sebagaimana hasil rapat koordinasi antara Dinas Pendidikan dan Kebudayaan kabupaten/kota se-Sulteng, beberapa waktu lalu.

Kepala Bidang (Kabid) Kebudayaan, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Kabupaten Donggala, Rosmawati, Ahad (25/10), mengatakan, selama ini kain tenun Donggala cukup dikenal dan pembuatannya bukan saja dilakukan di Donggala tapi telah menyebar di luar daerah.

“Sehingga bukan saja menjadi kebanggaan, tapi merupakan tanggung jawab bersama untuk dilakukan pelestarian dalam event-event budaya daerah,” kata Rosmawati.

Apalagi, kata dia, kain tenun tersebut telah diakui dan terdaftar sebagai warisan budaya tak benda di Kemendikbud RI sebagai hasil kerajinan khas Sulawesi Tengah sejak 2015 silam.

“Artinya betul-betul sudah menjadi kekhasan daerah,” ujarnya.

Kehadiran kabupaten Donggala di event Indonesiana sekaligus menjadi promosi untuk dijadikannya Donggala sebagai tuan rumah berikutnya.

Karena itu pula pihak Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Donggala dalam waktu dekat ini akan berkoordinasi pula dengan Asosiasi Tenun Donggala sebuah  lembaga pelestarian tenun untuk ikut berperan dalam Indonesiana.

Ketua Asosiasi Tenun Donggala, Imam Basuki, mengatakan, untuk kegiatan pameran, maka hasil-hasil kerajinan penenun dari Desa Towale, Kecamatan Banawa Tengah yang dapat ditampilkan.

“Sebab di desa itu dalam waktu dekat akan dilakukan pencanangan desa tenun. Sesuai kondisi di lapangan, masih banyak pengrajin dengan menggunakan peralatan tradisional dan asli,” kata Imam.

Saat ini tradisi pembuatan kain tenun di Banawa Tengah cukup banyak berada di Desa Towale, Limboro, Kola-Kola dan Salubomba.

Umumnya, mereka menggunakan alat tenun gedogan tradisional berbahan kayu hitam, bambu, dan kayu biasa dengan cara berselonjor saat bertenun.

Sebagian kecil menggunakan ATBM (Alat Tenun Bukan Mesin) yang sedikit modern.

Reporter : Jamrin AB
Editor : Rifay

Iklan-Paramitha