Pekik Merdeka Bunda Pertiwi (TAFAKUR HARI LAHIRMU KE 74)

oleh
Kasman Jaya Saad

OLEH: Kasman Jaya Saad*

Bunda pertiwi, dihari jadimu yang ke 74 hari ini, seperti biasanya anak negerimu, begitu euforia merayakannya. Berbagai kegiatan lomba diadakan, berbagai perayaan upacara dihikmatkan. Semua sepertinya begitu mahfum akan pentingnya merayakan akan hari jadimu.  Namun suara pekik kemerdekaan yang selalu engkau lantunkan mulai terasa sayup. Cita-citamu, awal menapak kehidupan kemerdekaan menuju perikehidupan kebangsaan dan kewargaan yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur, masih bersimbah piluh,  dan belum menjadi nyata. Bahkan tubuhmu terasa makin sesak, menyaksikan sebagian anak negerimu terpapar kemiskinan, tertindas dan tak berdaya, dipenuhi ketidakadilan.

Dan sebagai wujud tanggung jawabmu, engkau bentuk pemerintahan untuk melindungi segenap bangsa  dan seluruh tumpah darahmu, memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa.  Namun wujud keinginanmu tercegat perilaku koruptif dan pragmatisme para elit yang memegang kekuasaan negerimu. Para elit sudah tidak segan saling menghianati sesama anak negeri, bahkan mengkhianatimu bunda. Sumpah jabatan sebagai wujud pertanggung jawaban atas namamu dan Tuhan yang maha Esa, disalahgunakan, hanya dijadikan formalitas, karena ketamakan dan hasrat meraih kehormatan rendah begitu merajalela. Dan kemuliaan nilai-nilai Pancasila yang engkau jadikan ideologi dan pandangan hidup  dalam  berbangsa masih sebatas retorika, jauh harapan dengan kenyataan, antara Das sollen atau kaidah atau norma dalam nilai-nilai Pancasila yang seharusnya dilakukan dan Das sein atau kenyataan yang dipraktekkan para elit negeri masih terjal dan jauh dari jauh dari harapan. Pancasila tak berhasil menjadi The way of life , karena kentalnya kehidupan kepentingan   atas nama kekuasaan an sich. Segala cara dilakukan yang penting kekuasaan itu diraih. Kuatnya penetrasi neoliberalisme dalam mekanisme perebutan kekuasaan (pemilu), memaksa peraih kekuasaan itu hanya milik pemodal, terkandang tanpa kapasitas, apalagi integritas. Itu sebab urusan negerimu bunda, banyak terabaikan. Kekuasaan datang-hilang, silih berganti membuai mimpi, tetapi nasib anakmu bernama rakyat itu tetap sama, kekal menderita, kelam dan tak menikmati manisnya makna kemerdekaan yang engkau pekikkan.

Cita-cita keadilan sosial yang menjadi tujuan negeri yang engkau hadirkan, tak juga dirasakan, karena melebarnya kesenjangan sosial. Sekelompok anak negeri begitu muda menikmati berbagai fasilitas dan sekelompok anak negeri begitu sulit mendapat akses dasar sekalipun. Semangat mewujudkan keadilan masih termangu, masih terjal dan berliku. Penuh onak dan duri bagi mereka bernama rakyat itu untuk ‘sekedar’menikmati keadilan. Hukum lumpuh tak kuasa meredam penyalahgunaan kekuasaan. Hukum tajam ke bawah dan tumpul ke atas, adagium yang salah menurut Prof. Mahfud MD, yang benar, hukum tumpul ke atas dan tumpul ke bawah, karena yang di atas enak karena mampu menyuap, yang di bawah terkena karena tak mampu menyuap. Begitulah keadilan di negerimu bunda, yang tiap tahunnya yang begitu euforia merayakan hari jadimu.

Pada basis materi, kekayaanmu begitu melimpah bunda. Dikenal seantero jagat raya akan kemolekan sumber alammu. Indah permai dan menggoda. Namun kemolekan sumber dayamu tak membuat banyak anak negeri menikmati. Air dan kekayaan alam yang terkandung di dalam perut bumimu sebagai pokok kemakmuran  rakyatmu, yang seharusnya dikuasai untuk dipergunakan bagi sebesar-besar kemakmuran bagi anakmu bernama rakyat itu, menjelma dan dikuasai hanya segelintir orang-seorang bagi sebesar-besar kemakmuran sekelompok kecil orang dan bahkan bukan anak negerimu. Dan penguasaan sumber daya alam negerimu bunda makin begitu merajalela oleh bukan negerimu -pihak asing, yang tak peduli akan keselamatan ekologis dan penderitaan yang akan di alami anak negerimu. Karena yang  hadir dalam benak para pemodal asing itu bunda, bagaimana mengeksploitasi kekayaan ada di perut bumi semata, dengan keuntungan sebesar-besarnya. Perampasan dan kerusakan ekologis begitu masif dan mengabaikan keberlanjutan ekologis, bunda.

Bunda pertiwi, seharusnya diusiamu yang yang ke 74 pekik kemerdekaanmu makin lantang, menghujat bumi, menggojang gunung kekuasaan yang dipenuhi kemunafikan, hanya memperjuangkan kepentingan kelompok, kepetingan pemodal asing,  pekik kemerdekaanmu jangan sayup bunda. Perwujudan anak negeri yang adil dan makmur tak boleh dikalahkan oleh keserakaan kapitalisme. Keadilan sosial dengan pemerataan, kesetaraan, sama rata, sama rasa, harus diwujudkan.  Itu sebab bunda, tak cukup dengan perayaan dan lomba untuk menghormati hari lahirmu. Dibutuhkan  komitmen kuat anak negeri untuk mewujudkan kejayaan bunda pertiwi yang engkau patrikan sejak awal kemerdekaan, yakni, yang merdeka, bersatu, berdaulat adil dan makmur.  Pekik Merdeka Bunda Pertiwi.  Merdeka!!!.

*Penulis adalah Dosen di Universitas Alkhairaat (Unisa) Palu