Pedagang Hewan Diharap Paham Fiqih Kurban

oleh
Ilustrasi pedagang Qurban. (FOTO : IST)

PALU – Para pedagang hewan diharap mengetahui tentang fikih kurban atau hukum-hukum Islam yang mengatur tentang ketentuan kurban. Ketentuan yang dimaksud seperti penyediaan hewan kurban yang layak dan pelaksanaan penyembelihan yang sesuai anjuran agama.

Pimpinan Majelis Syubanul Khairaat Kabupaten Sigi, Anas Umar, Senin (05/08), menekankan kepada para pedagang dan pihak terkait lainnya agar turut memastikan bahwa hewan yang akan dijual telah memenuhi kriteria yang disyariatkan agama.

Kepada masyarakat, Anas meminta agar memperhatikan kondisi hewan kurban tersebut.

Anas Umar

Kata dia, ada beberapa kriteria sehingga tidak sahnya hewan kurban seseorang, seperti hewan yang dalam kondisi cacat ataupun sakit.

Hewan kurban, lanjut dia, harus sempurna dari sisi usia dan kondisi fisik.

“Hewan kurban hanya boleh onta, sapi atau kambing dan sejenisnya. Tidak boleh selain itu. Bahkan sekelompok ulama menukilkan adanya ijma atau kesepakatan bahwasanya kurban tidak sah kecuali dengan hewan-hewan tersebut,” ujarnya.

Anas juga menjelaskan soal keutamaan menyembelih hewan kurban, termasuk amal shaleh yang paling utama.

Ia lalu mengutip sebuah Hadits Nabi Muhammad Salallahu Alaihi Wasallam (SAW), yakni “Tidaklah anak Adam melakukan suatu amalan pada hari Nahr yaitu Idhul Adha yang lebih dicintai oleh Allah melebihi mengalirkan darah kurban”.

Dengan berkurban, lanjut dia, maka semakin mendekatkan diri kepada Allah dan menumbuhkan rasa kepedulian kepada sesama.

“Bolehkan kita memakan kurban kita sendiri. Dalam mazhab kita membolehkan memakannya tapi tidak boleh lebih dari sepertiga. Tapi kalau kita berikan kepada orang lain itu lebih baik,” tambahnya.

Lebih lanjut dia mengatakan, penyembelihan hewan kurban bisa dilakukan setelah khatib Idul Adha turun dari mimbar.

“Makanya khatib harus bisa mengondisikan agar khutbah tidak terlalu panjang karena setelah itu akan ada ibadah lain yakni berkurban,” pungkasnya. (NANANG IP)