Pasca Bencana, Sulteng Peringkat Tiga Nasional Pernikahan Anak

oleh
Suasana Focus Group Discusion Pencegahan dan Penanganan Pernikahan Usia Dini Pascabencana di Aula Kantor BKKBN Perwakilan Sulteng, Jumat (6/09)(FOTO : MAL/YAMIN)

PALU – Pemerintah Provinsi Sulteng, Perwakilan Badan Kependudukan Keluarga Berencana  Nasional (BKKBN) Provinsi Sulteng dan Merial Institute  melaksanakan Focus Group Discusion (FGD) Pencegahan dan Penanganan Pernikahan anak Pasca bencana.

Kegiatan itu dihadiri sejumlah perwakilan dari  instansi terkait di kabupaten/kota, termasuk Kementerian Agama (Kemenag) Kota Palu.

Dikesempatan itu, Asisten Administrasi Umum, Hukum dan Organisasi, Provinsi Sulteng, Mulyono mewakili gubernur saat membuka kegiatan mengakui, saat ini Sulteng merupakan daerah tertinggi ketiga secara nasional memiliki kasus pernikahan anak bawah umur .

“Sulteng menjadi penyumbang kasus-kasus pernikahan dini di Indonesia. Secara nasional menempatkan Sulteng diperingkat ke tiga,” akunya, di Aula Kantor BKKBN Perwakilan Sulteng, Jumat (06/09).

Mulyono mengakui, bencana yang melanda daerahnya menimbulkan sejumlah masalah sosial diantara adalah pernikahan anak bawah umur dan pelecehan seksual.

Olehnya, dia mengajak BKKBN sebagai instansi teknis yang menangangi pernikahan bawah umur bersama pihak terkait agar bergandengan tangan dan bersinergi mengatasi masalah sosial tersebut. Karena isu pernikahan bawah umur atau anak di Indonesia telah menjadi sorotan dunia internasional.

Suasana Focus Group Discusion Pencegahan dan Penanganan Pernikahan Usia Dini Pascabencana di Aula Kantor BKKBN Perwakilan Sulteng, Jumat (6/09)(FOTO : MAL/YAMIN)

Sementara itu, Plt Kepala Perwakilan BKKBN Sulteng, Tenny C Soriton, mengungkapkan, untuk menekan masalah sosial terseburt, pihaknya akan terus memaksimalkan program Generasi berencana (Genre), terutama  dalam menekan pernikahan anak.

“Fokus utama program Genre mengajak para remaja untuk menunda usia perkawinan dan mencegah pernikahan anak,”katanya.

Tenny menjelaskan, dalam pandangan BKKBN, remaja menikah idealnya menikah saat usia 21 tahun untuk perempuan dan 25 tahun untuk laki-laki. Saat usia tersebutlah remaja dinilai sudah siap secara fisik, mental dan ekonomi untuk memasuki bahtera rumah tangga.

“Berdasarkan data yang ada, di Sulteng pernikahan usia ideal belum tercapai. Namun demikian, hasil Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2017, menunjukkan rata-rata usia kawin pertama di Sulteng berada diangka 20,1 tahun. Angka usia kawin pertama itu lebih baik dibanding tahun 2012 karena diangka 19,8 tahun,” jelasnya.

Disampaikannya, survei terbaru kinerja dan akuntabilitas program tahun 2018, menunjukkan 51 persen remaja pria dan wanita telah merencanakan untuk menikah 23 sampai 25 tahun. Hal tersebut menurutnya menjadi modal awal agar keluarga tetap memastikan anaknya menikah pada usia ideal. (YAMIN)