Oknum Guru Ini Larang Siswa Shalat dan Menista Agama

oleh
Irwan Lahace

PALU – Seorang oknum guru di SMP Madani Palu, berinisial MT dinonaktifkan sementara dari profesinya hingga batas waktu yang belum ditentukan, lantaran diduga melakukan penistaan agama.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Provinsi Sulteng, Irwan Lahace, membenarkan tindakan yang dilakukan oleh salah seorang guru tersebut. Dia mengatakan, kejadian tersebut berlangsung pada 29 Agustus saat MT sedang mengajar mata pelajaran IPA.

Menurut Irwan, guru tersebut tak mengizinkan siswa sahlat dzuhur karena jam pelajaran belum selesai. Siswa pun tak senang dan menyebut MT “kafir”. Omongan itu terdengar MT yang tersulut emosinya dan melontarkan kalimat-kalimat yang diduga berisi penistaan agama.

Saat ini, pihaknya telah mengambil langkah tegas terhadap yang bersangkutan, setelah sebelumnya melakukan pertemuan bersama dewan guru, tenaga TU, dan sejumlah tokoh agama.

Menurutnya, seluruh pihak bersepakat agar guru yang diduga telah melarang muridnya untuk sholat itu dimutasi ke sekolah lainnya.

“Karena bukan kewenangan Kadis untuk memberhentikan, jadi dinonaktifkan hingga waktu yang belum ditentukan dan mendapatkan sekolah untuk menampungnya,” ujar Irwan.

Kata dia, mutasi pun tak menutup kemungkinan akan keluar dari wilayah Kota Palu. Hal itupun telah disetujuinya, bahkan sudah diamini Gubernur Sulteng, mengingat kasus tersebut memiliki tingkat sensivitas yang besar.

Lanjut dia, pengambilan kebijakan itu juga berdasarkan hasil pertemuan yang sudah dilangsungkannya bersama sejumlah pihak, serta berdasarkan laporan Kepala SMP Madani.

“Karena ini menyangkut SARA, jadi saya minta berbicara dari kedua bela pihak antara Muslim dan Nasrani. Pihak Muslim tak lagi menghendaki guru tersebut untuk mengajar di sekolah itu dan pihak Nasrani juga jumlahnya enam orang bersama pendetanya menyatakan hal yang sama, kemudian langsung saya laporkan ke Gubernur,” jelasnya.

Sesuai saran Gubernur, yang bersangkutan direkomendasikan untuk ditempatkan di lembaga swasta yang ada kaitannya dengan keyakinan guru tersebut.

Ke depan, tegas dia, tindakan itu tak hanya akan diberikan kepada pihak nasrani saja, melainkan kepada pihak muslim, bilamana melakukan perbuatan yang sama.

“Jadi dalam hal ini kami bukan menghakimi, tapi mencarikan jalan keluar agar terhindar dari hal-hal yang tidak dinginkan,” terangnya.

Sebelumnya, Kamis (29/08) lalu, di SMP Madani Palu telah tertera jadwal istirahat Shalat Dzuhur pukul 11.30 Wita. Saat itu, sejumlah siswa lantas meminta izin kepada MT untuk beristirahat dan bersiap Shalat Dzuhur, namun MT tidak memberikannya.

“Jadi alasannya itu dia belum berikan izin karena belum jam untuk istirahat,” terang Irwan.

Untuk itu, Irwan pun meminta kepada seluruh kepala sekolah untuk mencontoh Daerah Istimewa Aceh, ketika memasuki waktu shalat, maka seluruh aktivitas belajar mengajar ditinggalkan bagi sekolah yang memiliki maupun tidak memiliki fasilitas untuk beribadah.

“Karena kan jadwal itu tidak kaku, bisa disepakati bersama dari pihak sekolah, kalau sudah adzan maka stop,” tambahnya. (FALDI)