NTP Sulteng Naik 0,46 Persen Selama Juli 2019

oleh
Kepala Bidang Statistik Distribusi, BPS Provinsi Sulteng, G.A Nasser, memberikan keterangan pers, di Kantor BPS Provinsi Sulteng, Kamis (01/08) (FOTO : MAL/YAMIN)

PALU – Nilai Tukar Petani (NTP) Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng) selama Juli 2019 sebesar 95,27 persen, naik 0,46 persen dibandingkan NTP bulan lalu.

Kepala Bidang Statistik Distribusi, Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sulteng, G. A Naser mengatakan,  naiknya NTP Sulteng, disebabkan kenaikan NTP pada subsektor tanaman pangan sebesar 0,60 persen, subsektor hortikultura naik 1,33 persen, subsektor peternakan 0,64 persen, dan subsektor perikanan naik sebesar 0,04 persen.

Naser mengatakan, indeks harga yang diterima petani (It) mengalami kenaikan sebesar 0,15 persen, sedangkan indeks harga yang dibayar petani (Ib) turun sebesar 0,31 persen.

“NTP tertinggi terjadi pada subsektor hortikultura sebesar 107,97 persen, sedangkan NTP terendah terjadi pada subsektor tanaman perkebunan rakyat sebesar 85,58 persen,” katanya saat memberikan keterangan pers, di Kantor BPS Provinsi Sulteng, Kamis (01/08).

Adapun Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian (NTUP) sebesar 107,10 persen atau mengalami kenaikan sebesar 0,09 persen dibandingkan Juni.

Naser mengatakan, untuk tingkat nasional, NTP bulan Juli 2019 mengalami kenaikan sebesar 0,29 persen, demikian juga NTUP mengalami penurunan sebesar 0,60 persen.

“Nilai Tukar Petani dan Nilai Tukar Usaha Petani di tingkat nasional pada bulan Juli 2019 masing-masing sebesar 102,63 dan 112,68,”terangnya.

Lebih lanjut, Naser menjelaskan NTP yang berperan sebagai indikator untuk melihat tingkat kemampuan atau daya beli petani di pedesaan, merupakan persentase yang diperoleh dari perbandingan antara indeks harga yang diterima petani terhadap indeks harga yang dibayar petani.

“NTP menunjukkan daya tukar (term of trade) dari produk pertanian terhadap barang dan jasa baik yang dikonsumsi oleh rumahtangga maupun untuk keperluan produksi pertanian. Sehingga, semakin tinggi NTP secara relatif semakin kuat tingkat kemampuan atau daya beli petani,”jelasnya.

Sementara NTUP diperoleh dari perbandingan antara indeks harga yang diterima petani  terhadap indeks harga yang dibayar petani, tanpa memperhitungkan pengeluaran untuk konsumsi rumah tangga. Dengan demikian, NTUP diharapkan lebih mencerminkan kemampuan daya tukar hasil produksi rumahtangga petani terhadap pengeluaran biaya selama proses produksi.

“Apabila diamati pada Bulan Juli 2019, secara umum kondisi NTP Gabungan provinsi-provinsi di Pulau Sulawesi cenderung mengalami kenaikan, dengan kenaikan indeks gabungan tertinggi di Provinsi Gorontalo yaitu sebesar 1,90 persen. Sedangkan Provinsi Sulawesi Tenggara merupakan satu-satunya provinsi di kawasan Pulau Sulawesi yang mengalami penurunan indeks gabungan yaitu turun sebesar 0,62 persen,” tandasnya. (YAMIN)