Nilai Tukar Petani Sulteng, Naik

oleh
: Kepala BPS Provinsi Sulteng, Faisal Anwar saat memberikan keterangan Pers di Kantor BPS Sulteng, Jum’at (01/11) (FOTO : MAL/YAMIN)

PALU –  Nilai Tukar Petani (NTP) Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng) selama Oktober 2019 sebesar 95,36 persen, atu naik 0,26 persen dibandingkan NTP bulan sebelumnya.  Hal itu disebabkan kenaikan NTP pada subsektor hortikultura dan subsektor tanaman perkebunan rakyat, yang masing-masing naik sebesar 0,06 persen dan 1,56 persen.

“NTP yang berperan sebagai indikator untuk melihat tingkat kemampuan atau daya beli petani di pedesaan, merupakan persentase yang diperoleh dari perbandingan antara indeks harga yang diterima petani (It) terhadap indeks harga yang dibayar petani (Ib),” ujar Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sulteng, Faisal Anwar saat memberikan keterangan Pers di Kantor BPS Sulteng. Jum’at (01/11).

Faisal mengatakan, NTP menunjukkan daya tukar (term of trade) dari produk pertanian terhadap barang dan jasa baik yang dikonsumsi oleh rumahtangga maupun untuk keperluan produksi pertanian. Sehingga, semakin tinggi NTP secara relatif semakin kuat tingkat kemampuan atau daya beli petani.

Menurutnya, Nilai Tukar Usaha Rumahtangga Pertanian (NTUP) diperoleh dari perbandingan antara indeks harga yang It terhadap indeks Ib, tanpa memperhitungkan pengeluaran untuk konsumsi rumahtangga. Dengan demikian, NTUP diharapkan lebih mencerminkan kemampuan daya tukar hasil produksi rumahtangga petani terhadap pengeluaran biaya selama proses produksi.

“Dari hasil pemantauan harga penjualan komoditas hasil pertanian di tingkat produsen, biaya produksi, dan konsumsi rumahtangga terhadap barang/jasa di wilayah perdesaan selama Oktober 2019 menunjukkan, bahwa NTP Provinsi Sulteng naik sebesar 0,26 persen, yakni dari 95,11 pada September menjadi 95,36 pada Oktober 2019. Hal ini disebabkan kenaikan indeks harga yang It sebesar 0,60 persen sedangkan indeks Ib naik sebesar 0,34 persen,” terangnya.

Panen dan Temu Lapang Perbenihan Jagung Hibrida, di Desa Kaleke, Kecamatan Dolo Barat, Kabupaten Sigi. Rabu (30/10) (FOTO : IST)

Ditambahkannya, selama Oktober 2019, indeks harga yang It tercatat 130,46 atau naik sebesar 0,60 persen dibandingkan bulan sebelumnya yaitu sebesar 129,68. Kenaikan ini dipengaruhi oleh naiknya It pada tiga subsektor, pada subsektor tanaman pangan naik sebesar 0,33 persen, subsektor hortikultura naik sebesar 0,37 persen, dan subsektor tanaman perkebunan rakyat mengalami kenaikan sebesar 1,90 persen.

“Sedangkan pada subsektor peternakan dan perikanan mengalami penurunan indeks harga yang diterima petani masing-masing turun sebesar 0,38 persen dan 1,27 persen,” tambahnya.

Faisal Anwar menjelaskan, Indeks harga yang dibayar petani dipengaruhi oleh komponen pengeluaran baik untuk konsumsi rumahtangga maupun barang dan jasa yang diperlukan untuk memproduksi hasil pertanian. Indeks harga yang dibayar petani selama Oktober 2019 sebesar 136,81 atau naik 0,34 persen jika dibandingkan dengan bulan September sebesar 136,34.

“Hal ini disebabkan oleh kenaikan Ib pada seluruh subsektor. Pada subsektor tanaman pangan indeks harga yang dibayar petani naik sebesar 0,35 persen, subsektor hortikultura naik 0,30 persen, tanaman perkebunan rakyat 0,34 persen, subsektor peternakan naik 0,33 persen, dan subsektor perikanan naik sebesar 0,42 persen,” jelasnya. (YAMIN)