Nelayan Tondo Beralih Profesi Pasca Tsunami

oleh
Salah satu nelayan yang sedang memecahkan tembok sisa-sisa puing bangunan untuk mendapatkan besi yang akan dijual. (FOTO: MAL/YAMIN

PALU – Gempa bumi dahsyat dengan magnitudo 7,4 skala richter yang disusul gelombang tsunami di Kota Palu dan Kabupaten Donggala, membuat kehidupan di pesisir pantai kembali dari nol.

Di Kelurahan Tondo, Kecamatan Mantikulore misalnya, ratusan kepala keluarga yang selama ini menggantungkan hidup dari laut, harus berpasrah diri atas musibah itu.  Alat tangkap beserta perlengkapan lainnya hilang sekejap disapu ombak.

Ketua Kelompok Nelayan Sumarampi, Kelurahan Tondo, Taufik, mengakui, amukan gelombang tsunami tanggal 28 September 2018 itu tidak hanya hadir sebagai pembunuh massal, tetapi juga mematikan mata pencaharian warga.

“Waktu kejadian itu bertepatan dengan jam melaut, seluruh perlengkapan pastinya sudah ada di perahu. Karena kecepatan ombak tsunami waktu itu, tidak ada yang bisa diselamatkan kecuali nyawa,” terangnya.

Dikatakannya, pasca peristiwa itu pada masa tanggap darurat, nelayan bersama warga lainnya hidup di tenda pengungsian dan hanya mengharapkan pasokan logistik yang disalurkan relawan. Setelah pemerintah menyatakan masa tanggap darurat selesai dan beralih ke masa transisi, nelayan dan warga lainnya ingin bangkit tanpa mengharapkan bantuan dari pihak luar lagi untuk menyambung hidup.

Salah satu nelayan di Kelurahan Tondo, Kota Palu, mengangkat puing perahunya yang rusak dihempas ombakl tsunami (FOTO : MAL/YAMIN)

Kata dia, bagi warga yang berstatus Pegawai Negeri Sipil (PNS) atau karyawan swasta, kemungkinan tidak merasakan dampak ekonomi atas peristiwa itu. Tapi tidak untuk nelayan.

“Mau melaut tidak ada lagi apa-apa. Perahu hancur, mesin katinting dan alat mancing hilang,” keluhnya.

Taufik mengaku sudah didatangi beberapa orang yang mengaku dari Kementerian Keluatan, guna meminta data kerugian nelayan atas peristiwa itu. Hanya saja, orang itu belum bisa memberi kepastian, kapan bantuan itu terealisasi.

Pantuan MAL, hampir seluruh nelayan di wilayah tersebut beralih profesi sebagai pemburu bahan bekas dari sisa-sisa puing bangunan.

“Kami harus bertahan hidup dengan cara mengumpulkan bahan plastik dan besi-besi untuk dijual, karena tidak ada cara lain asalkan halal,” ucap Fazir, salah satu nelayan di Tondo.

Dia berharap, pemerintah cepat bertindak untuk menghidupkan kembali perekonomian warga. Khusus warga nelayan harus diberikan bantuan perahu agar bisa kembali melaut.

“Kami ingin sekali bangkit dari musibah ini, kembali melaut tapi tidak ada lagi perahu,” imbuhnya. (YAMIN)

loading...

Tentang Penulis: Fauzi Lamboka

Gambar Gravatar
Belajar Menulis dan Menulis untuk Belajar