Nasehat Rasulullah Untuk Kaum Wanita

oleh
Habib Shaleh bin Muhamad Aldjufri

‘Imran menikah dengan seorang wanita muda dan cantik, sementara ‘Imran sendiri tidak begitu tampan hingga dapat didambakan oleh para wanita.

PADA suatu hari ‘Imran berkata kepada istrinya, “sesungguhnya aku dan kamu Insya Allah akan masuk surga.” Istrinya menjawab, “bagaimana itu bisa terjadi?”

‘Imran menjawab, “aku mendapatkan wanita seperti kamu (muda dan cantik) dan aku bersyukur, sementara kamu mendapat orang seperti aku dan bersabar.” Ini nukilan dari Ibn Rabbih dan ‘Imran bin Hiththan.

Saudariku Mukminah, Rasulullah Saw., memberikan nasihat kepada seluruh kaum muslimah. Beliau memperingatkan mereka untuk tidak meninggalkan tempat tidur suaminya tanpa alasan yang bisa diterima, misalnya sakit. Bahkan datang bulan pun tidak menjadi alasan untuk meninggalkan tempat tidur suami karena suami tetap mempunyai hak untuk mencumbunya dengan tetap memakai kain (yang menghalanginya dari persetubuhan). Beliau bersabda ;  “Jika seorang wanita tidur meninggalkan tempat tidur suaminya, maka para malaikat mengutuknya hingga waktu pagi tiba.” (dalam riwayat lain, “hingga kembali. 1)

Islam adalah agama yang lurus agama Allah yang kekal, menghendaki hubungan suami istri menjadi kuat, tetap dan mendalam. Oleh karena itu, Nabi SAW, menjelaskan persoalan – persoalan yang melemahkan hubungan tersebut. Nabi saw., juga membatasi hak – hak suami terhadap istri dan hak – hak istri terhadap suami sehingga hubungan tersebut dap[at berjalan dengan harmonis. Salah satu hak suami atas istrinya adalah hak ranjang, yaitu hak suami untuk menggaulinya. Pada hakikatnya hak seperti ini adalah hak bersama laki – laki dan wanita. Akan tetapi, kadang terjadi perselisihan anatara suami dan istrinya sehingga timbul percekcokkan dan perpecahan. Kadang suami mengambil sikap menjauhi istrinya karena ingin santai dan meredakan keadaan sehingga keduanya dapat bertemu ditempat tidur.

Dan disini suami berupaya membenahi perpecahan, atau berupaya menghibur istri, namun setan berupaya mengusai hati sang istri untuk tidak menerima keadaan sehingga pada gilirannya sang istri menolak memenuhi permintaan suaminya. Sikap yang demikian ini membuat wanita berada dibawah kutukan malaikat tanpa ia sadari. Dengarkan, hai saudariku Muslimah, hadis Nabi saw., berikut ini Abu Hurairah r.a berkata bahwa Rasulullah SAW. Bersabda,

“jika seorang laki – laki memanggil istrinya ketempat tidurnya, lalu istrinya tidak memenuhinya, kemudian sang suami tidur marah kepadanya, maka para malaikat mengutuknya hingga waktu pagi tiba.”

Sungguh merupakan suatu persoalan besar disisi Allah swt., ketika suami meminta istrinya untuk melakukan persetubuhan, lalu sang istri menolak atau berpura – pura sakit. Seorang wanita Mukminah yang jujur akan melupakan semua perselisihan dan kembali taat kepada suaminya, menharap pahala dari Tuhannya.

Saudaraku Muslimah, kelangsungan hidup suami istri bergantung pada kelangsungan cinta kasih. Mahabbah (cinta kasih) yang sehat, setelah menikah akan berubah menjadi perasaan mawadah dan rahmah anatara suami-istri. Adanya perasaan bertanggung jawab antar keduanya akan menimbulkan sikap saling memahami dan menyadari.

Seorang suami telah mengungkapkan keabadian cinta kasihnya terhadap istri dengan ucapannya.

Maafkan daku akan abadi cinta kasihku. Jangan kau singgung kehormatanku ketika aku marah.

jangan banyak mengadu, akan lenyap sia – sia hatiku akan menolak-mu karena kalbu selalu berubah

Sungguh aku melihat cinta dan derita dalam hati pabila keduanya bertemu, cinta akan pergi.

Akhirnya, orang – orang akan memerhatikan hak – hak suami istri dan kwajiban – kewajibannya dalam kehidupan islam, tentu dia akan menemukan adanya keseimbangan dan keserasian. Ketika setiap pihak melaksanakan tanggung jawabnya, akan terbentuk mawaddah antar suami-istri.**