MUI Palu Gelar I’Tikaf dan Shalat Tasbih Malam ke 25 Ramadhan

oleh
Suasana sahur bersama MUI Kota Palu dengan puluhan jemaah di Masjid Al-Ihsan Jalan Otista, Kamis (30/05) dini hari. (FOTO: DOK. MUI KOTA PALU)

PALU – Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Palu menggelar I’tikaf dan Shalat Tasbih berjamaah di malam ke 25 Ramadhan, di Masjid Al-Ihsan Jalan Oto Iskandar Dinata (Otista), Kamis (30/05) dini hari.

Usai melaksanakan I’tikaf dan sholat tasbih, para jemaah kemudian melanjutkan dengan sahur bersama hingga Shalat Subuh berjamaah.

Dalam ceramahnya, Ketua MUI Kota Palu, Prof Zainal Abidin, menjelaskan, bahwa beribadah atau lebih tepatnya mengabdi kepada Allah adalah sebuah keniscayaan dalam kehidupan manusia.

Hal tersebut selaras dengan perintah yang tertuang dalam Al-Qur’an bahwa manusia dan jin diciptakan untuk tujuan mengabdi kepada-Nya.

“Meskipun kita beribadah maupun durhaka, sesungguhnya sama sekali tak mempengaruhi sedikit pun keagungan Allah,” katanya.

Kata dia, ada tiga hal yang mendorong manusia untuk beribadah sesuai pendapat Ibnu Sina. Pertama, motivasi ala pedagang.

Seseorang beribadah karena didorong oleh keuntungan timbal balik dari sesuatu yang ia keluarkan. Alasan seseorang rela berlapar-lapar puasa di alam fana ini adalah sebab di akhirat nanti ia bakal kenyang. Segenap ibadah di dunia pun menjadi semacam modal dan aktivitas perniagaan, dengan kenikmatan surgawi sebagai laba yang diidam-idamkan. Logikanya, siapa yang berinvestasi maka akan menuai hasilnya. Siapa yang menanam, akan memanen sebagaimana dalam Al-Qur’an yang mengabarkan bahwa siapa pun yang beriman dan berbuat baik akan mendapatkan surga,” ujar Guru Besar IAIN Palu itu.

Selanjutnya adalah motivasi ala budak atau buruh. Kata kunci dari dorongan beribadah ini adalah ketakutan. Seorang hamba menjalankan ibadah kepada Allah karena dibayang-bayangi ancaman akan siksaan api neraka.

“Bak seorang buruh yang takut majikannya, ia menunaikan tugas dalam rangka menghindari penderitaan di kehidupan kelak,” sebutnya.

Orang dengan motivasi ini, kata dia, biasanya beribadah untuk sekadar lepas status sebagai hamba durhaka. Adzab-adzab yang dipaparkan dalam kitab suci menjadi pemicu kuat mengapa ia harus melakukan ini dan menghindari itu.

“Yang ketiga adalah motivasi orang ‘arif (mengenal Allah). Bagi orang jenis ini, beribadah adalah sebuah keniscayaan setelah menyaksikan betapa dahsyatnya karunia yang Allah berikan kepada alam semesta ini, setelah menghayati kebijaksanaan dan kemahasempurnaan Allah kepada makhluk-makhluknya,” ungkap Ketua FKUB Sulteng itu.

Menurutnya, orang semacam ini tidak risau kalaupun harus ditempatkan di neraka. Bahkan, orang-orang seperti ini umumnya merasa tidak layak menerima ganjaran surgawi lantaran rasa fakirnya di hadapan keagungan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. (FALDI)