Menyingkap Tabir: Potensi di Balik Berdiri Tegaknya Perguruan Islam Alkhairaat [1]

oleh
Habib Idrus bin Salim Aljufri

Oleh : PANTJEWA

Penulis adalah pemerhati sejarah dan budaya , anggota Bidang penelitian dan Pengembangan Peradilan Adat Sulawesi Tengah; tinggal di Desa Tulo,Kecamatan Dolo, Kabupaten Sigi, Provinsi Sulawesi Tengah.

Tabee ………..Prakata.

Bumi etnis kaili, lembah Palu menyimpan banyak peristiwa patriotik dan heroik. Penggalan sejarah besar di bumi lembah Palu terkait dengan adanya potensi besar dibalik berdiri tegaknya Perguruan Islam Alkhairaat di Palu.

Penulis menggali kembali sejarah perjuangan keluarga besar Daeng sute dalam kontribusinya terhadap berdirinya Alkhairaat yang selama ini di kosongkan.

Seorang Filsuf kelahiran Roma Marcus Tulius Cicero berkata : “ Historia Vitae Magistra “, sejarah adalah guru kehidupan sebagai guru kehidupan kata Cicero, hukum sejarah adalah takut mengatakan dusta dan berani menyatakan kebenaran.

Bahkan Ketua Umum Yayasan Alkhairaat Fadel Muhammad berpendapat lebih filosofis lagi, tentang sejarah.  Kata Fadel Muhammad “ History is a Priceless  trusury of sleeping  wisdom “ sejarah adalah perbendaharaan tak ternilai dari kebajikan yang tertidur. Sebab itu menurutnya sejarah harus digali dan ditulis untuk menjalin tali silaturahmi antara generasi masa lalu dengan masa kini untuk dipedomani oleh generasi masa depan. Tokoh intelektual dan cendekiawan Alkhairaat ini memahami benar bahwa kitab suci Al Qur’an sebagian besar isinya bermuatan sejarah. Diantaranya riwayat para Rasul/Nabi, cerita tentang Raja Fir’aun dan masih banyak bermuatan riwayat yang mengindikasikan pedoman hidup bagi umat manusia.

Bahkan kisah Khidir dengan Nabi Musa  di Firmankan Allah S.W.T dengan panjang lebar dalam Qur’an Surah Al Kahfi (ayat 65-82). Terdapat pula dalam Surah An-Nam (ayat 20-44), kisah tentang Ashif bin Barkhaya (pembantu khusus kepercayaan Nabi Sulaiman). Berkaitan dengan burung hud-hud dan Ratu Balqis dari kerjaan Sabaiyah.

Seorang aktifis muda bidang lingkungan hidup, Amir Siradjudin Dg. Mamase sangat mengapresiasi segala tulisan tentang sejarah Daerah Sulawesi Tengah ini. Aktifis muda ini berpendapat semakin banyak sumber sejarah tertulis mengenai daerah Sulawesi Tengah makin memberikan pilihan altternatif bacaan bagi masyarakat dalam menggali khazanah sejarah di daerah ini. Menurut Azmi S. Dg. Mamase, gairah penulisan sejarah (historical writing) untuk satu tema tertentu. Yang muncul dari berbagai pihak  membuktikan bahwa sejarah ternyata tidak pernahberjalan linier. Selalu ada lebih dari satu titik pandang dalam menilai satu konteks peristiwa masa lalu. Inilah yang disebut mantan Rektor Untad Prof Mattulada sebagai “ Jati diri sejarah “ atau A.J. Toynbee disebut dengan istilah “ Historical rewriting (penulisan ulang sejarah) ”.

Tentunya penulisan sejarah yang dimaksud termasuk tulisan Prof. DR. Hj. Huzaimah T.Yanggo, MA dkk tentang SAYYID IDRUS BIN SALIM AL JUFRI PENDIRI ALKHAIRAAT DAN KOTRIBUSINYA DALAM PEMBINAAN UMAT. Karya brilian HUZAIMAH T.YANGGO dkkdijadikan acuan dalam tulisan ini disamping penuturan dari beberapa narasumber;  Zabir bin H.Yoto Daeng Pawindu, Mukhsen bin Ali Al Habsyi, Adam bin Hi. Moh. Saleh bin Hi. Mongki dan lain-lain.

Untuk diketahui Hi. Mongki adalah suami pertama dari Intjeami (Cerai mati). Intjeami ini kemudian kawin dengan Guru Tua (akan diuraikan selanjutnya). [bersambung]