Menyingkap Tabir Peradaban Lewat Bunyi

oleh
Salah satu pertunjukkan theatrical di Festival Bunyi Bungi. (FOTO: MAL/FALDI)

Premis kebudayaan sebagai cermin bagi masyarakat untuk berkembang merupakan salah satu faktor yang mengilhami terselenggaranya Festival Bunyi Bungi pecan lalu, di Rano Bungi, Desa Kabobona, Kabupaten Sigi.

Mengangkat tema Membaca Adab dan Peradaban, festival yang dikenal dengan singkatan FBB itu mengajak para penontonnya untuk melihat kembali sebuah peradaban, bermula dari masa ketidaktahuan ke masa terang benderang melalui bunyi yang kaya akan adab, oleh para pelaku seni di tanah air.

Bagi masyarakat Kabupaten Sigi sendiri, awal perkembangan yang berkeadaban itu dimulai dari sebuah daratan yang diberi nama “Bungi”, yang bagi masyarakat suku kaili diartikan sebagai daratan yang terbentuk karena surutnya air sungai.

Di Bungi, masyarakat suku Kaili kemudian memfungsikannya sebagai area perkebunan tradisional, tambang pasir, bahkan sebagai tempat masyarakat suku Kaili untuk bermukim.

Secara geografis wilayah Kabupaten Sigi terdapat dua bagian, antara timur dan barat. Kedua bagian tersebut dibelah oleh aliran sungai serta anak-anak sungai yang bersumber dari Danau Lindu, Kecamatan Lindu, kemudian bermuara di laut Teluk Kota Palu.

Hal itupun menjadikan Bungi begitu dekat dengan sistem kehidupan sosial masyarakat Kaili.

Olehnya itu, festival yang terjalin dari kerja sama para Pegiat Seni Kabupaten Sigi bersama Pemkab Sigi serta Platform Indonesiana Kementrian Pariwisata RI diharapkan, akan menjadi medium yang menginspirasi bagi kaum milenial khusus di Kabupaten Sigi, agar terus melestarikan kebudayaan yang sudah ada sejak lama melalui Bungi.

SYIAR ADAB DI RANO BUNGI

Keberadaan Bungi di tengah-tengah masyarakat suku Kaili tentu merupakan hal yang sangat luar biasa. Selain sebagai tempat penyangga hidup, Bungi juga merupakan tempat untuk menyiarkan adab sesuai tuntunan ajaran agama oleh pelaku seni.

Dalam Festival Bunyi Bungi lalu, salah satu penampilan yang menjadi sorotan mata para penonton adalah persembahan seorang teatrikal asal Kabupaten Gowa yang tak asing lagi bagi para pegiat seni ditanah air, yakni Ishakim.

Ia mempersembahkan relevansi adab melalui sudut pandang agama dalam bersosial masyarakat agar terus mengingat petuah guru ngaji. Ishakim menilai, agama telah mengajarkan hal-hal baik, tapi kenapa kenakalan remaja semakin menggila.

Selain itu, kombinasi antara seni teater dan seni music yang dimunculkan oleh teatrikal asal Kabupaten Gowa itu juga menceritakan dinamika politik, budaya dan sosial yang dinilainya mulai mengikis kekayaan adab yang sejatinya lekat pada masyarakat Indonesia. Pertunjukkan itu diangkatnya melalui tema “Demi Pemakluman, Kebudayaan Kita Selalu Kasi Ingat”.

Ishakim menyebutkan, tema tersebut untuk memulihkan kembali ingatan-ingatan generasi saat ini, baik anak-anak, orang dewasa, maupun orang tua, terhadap petuah yang pernah disampaikan orang-orang terdahulu.

“Tentu kita semua pernah mendengar petuah, fatwa dan nasehat orang tua terdahulu mengenai peradaban yang beradab. Tapi kadang mereka lupa, entah apa yang mereka ingat, nah olehnya itu kita sampaikan kembali,” ujar Ishakim.

Pesan untuk selalu mengingatkan kebudayaan yang beradab semakin kuat, kala Ishakim kemudian mencuplik kisah sosok binatang penghuni neraka jahanam yang gemar terhadap orang-orang yang tidak memiliki adab.

Sosok tersebut dinamai “Huraisy” yang dilukiskan memiliki panjang yang meliputi langit sampai ke bumi, sedangkan lebarnya berjarak dari timur hingga barat.

Dikisahkan, kemunculan binatang tersebut akan membuat malaikat Jibril A.S bertanya, “Wahai Huraisy, kamu hendak ke mana dan hendak mencari siapa.?”.

Mendengar pertanyaan tersebut, Huraisy menjawab “Aku mencari lima jenis orang, pertama orang yang meninggalkan shalat, kedua orang yang tidak mau mengeluarkan zakat, ketiga orang yang mendurhakai kedua orang tuanya, keempat orang yang suka minum arak dan kelima orang yang sangat suka bercakap-cakap perkara duniawi dalam masjid,”.

Salah satu peserta teatrikalpun memerankan sebuah adegan, bagaimana seorang anak yang menangisi perbuatannya terhadap orang tua sambil merengek meminta maaf, dengan cara menatap tajam ke arah nyala api, kemudian berteriak “Apa Salahku Ibu, Maafkan Aku Ibu”.

Namun, makhluk menakutkan itu tetap membawanya pergi untuk ikut bersamanya ke dalam neraka jahanam.

HARAPAN PERINTIS FESTIVAL BUNYI BUNGI

Sejatinya, Festival Bunyi Bungi di tahun 2018 ini merupakan kali kedua yang berhasil terselenggara, meski pemerintah setempat menyebutnya baru pertama kali.

Berbeda dengan tahun 2013 lalu, festival ini sukses terselenggara secara total dengan cara swadaya antar sesama pegiat seni yang direncanakan akan menjadi agenda kebudayaan dua tahunan di wilayah Kabupaten Sigi.

Dewan Kesenian Sigi (DKS), Mady Fundamental, mengatakan, kerja sama antara pihak Platform Indonesiana dengan DKS yang dijembatani oleh pihak pemerintah, menjadikan FBB akan menjadi agenda tahunan hingga 2020 mendatang.

Mady mengharpkan, agar kerja sama ini mampu menambah gaung festival dan turut membangun keberlangsungan ekosistem seni dan budaya di Kabupaten Sigi.

“Hal ini sekaligus melaksanakan amanah Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan,” tandasnya. (FALDI)