Menjaga Lisan

oleh
BELUM lagi hilang dari ingatan perkara Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaya Purnama, kini muncul lagi perkara baru karena lisan yang tak terjaga. Adalah Ketua  Umum PB Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Aminuddin Ma’ruf yang kini menjadi tokoh utamanya.
Entah merujuk data dari mana dan siapa, Aminuddin di Palu menyatakan, Sulawesi Tengah adalah pusat dari gerakan radikalisme dan AntiNegara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Masyarakat Sulteng pun geger akibatnya.
Persoalannya, pernyataan Aminuddin tersebut dinyatakan dalam sebuah forum resmi yang dihadiri Presiden RI Joko Widodo dan sejumlah pejabat penting di negara ini. Informasi keliru dalam sebuah forum besar jelas berkonsekwensi besar.
Lihat saja, hanya berbilang menit kemudian, Aminuddin menerima konsekwensi atas ketakcerdasannya menjaga lisan. Lini masa media sosial penuh hujatan dan makian terhadapnya.
Bahkan sejumlah elemen berunjuk rasa. Dewan Adat Kota Palu bahkan segera bereaksi mendatangi Aminuddin dan segera menggelar sidat dewan adat yang berkonsekwensi pemberian sanksi.
Jelas saja sanksi adat akan segera dituai Aminuddin. Bahkan bukan tak mungkin ada yang melaporkan Aminuddin ke polisi atas pernyataan sesatnya.
Syukurlah Aminuddin menyadari kekeliruannya. Ia telah meminta maaf. Gubernur Sulawesi Tengah Longki Djanggola dan sejumlah elemen lain di daerah ini telah memaafkan Aminuddin.
Ini tentu pelajaran berarti dan berharga baginya. Ia masih muda. Masa depannya masih panjang. Ia harus lebih awas menjaga diri dan lisannya. Menjaga lisan bukan berarti melarang bicara, melarang berpendapat, namun adalah bagaimana semua yang dikatakan memiliki data dan bukti, bukan sebuah spekulasi atau fitnah.
Aminuddin harus banyak belajar dari sejarah di negeri ini, bagaimana banyak tokoh yang tergelincir lalu hilang dari percakapan dan perhatian publik, karena tak cakap menjaga lisan.
Kasus Basuki Tjahaya Purnama alias Ahok, dengan segala kontroversinya, adalah contoh nyata bagaimana lisan yang tak terjaga akan menuai badai. Pepatah lama harusnya menjadi rujukan utama bagi setiap orang untuk menjaga lisan: “ karena mulut badan binasa”.***