Menggali Kiat Sukses Kemenag Palu Melayani Ummat

oleh
H. Ma’sum Rumi

Presiden telah mengeluarkan Keputusan Nomor: 49 tahun 2002 yang dipertegas dengan Keputusan Menteri Agama Nomor: 373 Tahun 2002, mengenai tugas pokok dan fungsi Kantor Kementerian Agama kabupaten/kota.

Fungsi yang melekat itu adalah perumusan visi, misi dan kebijakan teknis di bidang pelayanan dan bimbingan kehidupan beragama kepada masyarakat.

Selanjutnya pembinaan, pelayanan dan bimbingan di bidang bimbingan masyarakat Islam, pelayanan haji dan umrah, pengembangan zakat dan wakaf, pendidikan agama dan keagamaan, pondok pesantren, pendidikan agama Islam pada masyarakat dan pemberdayaan masjid, urusan agama, pelayanan dan bimbingan di bidang kerukunan umat beragama, dan lainnya.

Tidak terkecuali Kementerian Agama (Kemenag) Kota Palu. Tugas dan fungsi yang melekat di institusi vertikal ini, juga sama dengan Kantor Kemenag di daerah lainnya di tanah air.

Sekaitan dengan pelaksanaan tugas dan fungsi yang dimaksud, Kemenag Kota Palu di Tahun 2018 lalu, terbilang berhasil menjalankannya. Ada capaian program membanggakan yang berhasil ditorehkan. Baik itu di level lokal, hingga tingkat nasional.

Hasil wawancara mendalam Reporter Media Alkhairaat, Moh Yamin dengan Kepala Kemenag Kota Palu, H. Ma’sum Rumi di ruang kerjanya, Kamis (07/02) lalu, kiranya bisa membuka cakrawala ilmu mengenai tips dan trik sukses dalam rangka meramu program pelayanan-pelayanan terhadap ummat di wilayah kerjanya.

Berikut petikannya:

Seperti apa lembaga yang Anda pimpin ini mengukur capaian program?

Evaluasi program kerja kita mengacu kepada Rencana Strategi (Renstra) yang ada di setiap program yang kita lakukan. Dari situlah kita membuat sebuah tim schedule secara keseluruhan untuk Kantor Kemenag Kota Palu. Dari tim ini ada beberapa yang menjadi program kita di Kemenag Kota Palu.

Program apa saja yang dimaksud?

Yang pertama program di Bidang Pendidikan, baik itu pendidikan formal maupun non formal. Untuk pendidikan formal mulai dari tingkat Raudhatul Athfal (RA), Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs), dan Madrasah Aliyah (MA). Alhamdulillah, sekalipun tidak mencapai 100 persen, namum ada program andalan kita di Bidang Pendidikan Madrasah yang tercapai secara maksimal.

Dari sekian program di bidang pendidikan madrasah, sasaran pertama adalah peningkatan kualitas pada tenaga pendidik kita, baik di madrasah negeri maupun swasta.

Khusus program peningkatan kualitas tenaga pendidik, seperti apa aplikasinya?

Peningkatan kualitas pendidik ini itu sangat penting sehingga saya membuat ini menjadi program andalan. Seluruh guru yang ada di lingkungan Kemenag Kota Palu kita sudah lakukan secara berkesinambungan, dan out putnya jelas, sehingga kita bisa melihat bagaimana para siswa madrasah mulai dari MI, MTs sampai MA itu, tidak diragukan lagi kemampuannya.

Bisa kita lihat di kegiatan yang dibuat Kemenag Pusat, salah satunya adalah event kompetisi Sains Madrasah. Alhamdulillah di Tahun 2018 kemarin ketika dilaksanakan kompetisi saing madrasah Sulteng, Kota Palu tetap mempertahankan juara umum yang kedua kalinya.

Ini tentu tidak terlepas dari upaya kita meningkatkan kompetensi dari para guru atau pembina.

Setelah itu apa sasaran selanjutnya?

Sasaran kita yang kedua adalah fisik masdrasah. Pemerintah kita sudah melakukan berbagai program, salah satunya adalah sekolah sehat. Alahamdulillah madrasah kita di Kota Palu sudah bisa berbicara di tingkat nasional. Di Tahun 2018, ada beberapa madrasah kita yang mendapatkan  apresiasi dari kementerian, salah satunya adalah program Adiwiyata.  MTs Negeri 2 Palu sudah mendapat predikat Adiwiyata Mandiri, itu di atas Adiwiyata Nasional.

Kemudian MTs Negeri 1 Palu, juga sudah menunjukan sebagai madrasah Adiwiyata Nasional.

Kemudian sekolah sehat. Ini juga saya anggap suatu hal yang sangat penting sehingga seluruh madrasah yang ada sudah diprogramkan sekolah sehat.

Alhamdulillah, ketika kita melakukan monitoring dan evaluasi (monev), mereka saling berpacu bagaimana menjadikan madrasah kita sehat lingkungan, sehat guru-gurunya dan sehat seluruh siswanya.

Kemudian untuk madrasah, di Tahun 2018 beberapa kali mewakili Sulteng ke tingkat nasional, salah satunya ada program pemerintah pusat, robotic.

Kalau di tingkat Madrasah Aliyah itu MAN Insan Cendekiyah (IC), bahkan ada madrasah swasta yang beberapakali juga mengikuti event nasional. Ini program di bidang pendidikan.

Bagaimana dengan program di bidang pelayanan masyarakat?

Di bidang layanan masyarakat, ada dua seksi yang punya tupoksi. Yang pertama adalah layanan haji. Program kita sesuai dengan instruksi dari Menteri Agama (Menag) RI. Alhamdulillah sejak Tahun 2018, berdasarkan informasi langsung dari beberapa masyarakat kita, tingkat kepuasan  masyarakat terhadap layanan haji, mulai dari proses pendaftaran awal sampai pemberangkatan, tingkat kepuasannya sangat signifikan. Karena memang sejak Tahun 2017, kami sudah melaunching pendaftaran satu atap.

Apa istimewanya pendaftaran haji satu atap itu?

Program ini sangat memudahkan dan membantu masyarakat dalam hal kelancaran proses pendaftaran awal haji. Masyarakat yang mendaftarkan haji tidak perlu lagi bolak-balik ke beberapa bank. Karena bank yang ditunjuk pemerintah itu sudah stay di kantor kami. Alhamdulillah ini sudah terlaksana. Jadi layanan haji yang dilakukan secara transparansi sudah kita lakukan di Kemenag Kota Palu.

Bidang apa lagi yang bersentuhan langsung dengan masyarakat?

Bidang Bimbingan Masyarakat (Bimas) Islam. Ini juga bersentuhan langsung dengan masyarakat. Kalau bicara soal Bimas Islam, tentu tidak lepas dengan Kantor Urusan Agama (KUA) yang ada di kecamatan, di dalamnya ada program sistem layanan nikah secara professional dan transparan.

Di tahun 2018 ini, tingkat kepuasan masyarakat dalam hal layanan nikah juga mengalami peningkatan yang sangat signifikan. Tidak ada lagi pungutan-pungutan karena memang ini instruksi dari pusat.

Kemudian di bagian kerukunan antar umat beragama. Ini juga sangat penting. Makanya di Tahun 2018, saya mengeluarkan sebuah surat keputusan untuk pembentukan Kelompok Penyuluh (Pokjaluh) Lintas Agama.

Pokjaluh ini sangat luar biasa. Mereka turun ke masyarakat melakukan bhakti sosial di rumah-rumah ibadah, dan ini berlangsung secara berkesinambungan. Dua kali dalam sebulan kita turun bersama-sama dengan agama yang lain.

Jadi secara keseluruhan, program kita di tahun 2018 tercapai sesuai dengan harapan kita. Namun masih ada beberapa yang tentunya akan kita lanjutkan di Tahun 2019 ini.

Apa saja program  Tahun 2019 ini?

Program baru Tahun 2019 ini terkait dengan terbitnya Surat Keputusan Menag tentang KUA Pemekaran. Di Kota Palu yang tadinya hanya empat KUA, di akhir Tahun 2018 kita ketambahan lagi beberapa KUA baru.

Setelah terbentuknya KUA-KUA ini, tentunya ada beberapa program kita. Yang pertama adalah bagaimana memaksimalkan fasilitas KUA yang baru. Jika fasilitas siap sedia, baru ketahuan.

Ada empat KUA pemekaran yang belum memiliki kantor. Ini yang diprogramkan dulu. Alhamdulillah setelah saya sudah coba melakukan monitoring di beberapa KUA pemekaran ini, salah satunya adalah KUA Kecamatan Tatanga, masyarakatnya sangat antusias, sekalipun kantor sementara ini masih dalam status sewa.

Adakah program yang bersinergi dengan instansi atau lembaga lain?

Ada. Di Tahun 2019 ini ada Momerandum of Understanding (MoU) kami dengan Pemerintah Kota Palu. Kalau tahun sebelumnya itu dalam bidang pendaftaran haji satu atap. Tapi tahun ini, kita kerjasama dengan Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Dukcapil) dengan target sudah berjalan pada bulan April nanti. Saat ini masih tahap penyelesaian segala sesuatunya. Insya Allah kalau sudah final, baru kita launching.

Apa sasaran dari Mou dengan Dukcapil itu?

Masyarakat yang melakukan pernikahan, baik itu di kantor maupun di luar kantor, selain menerima langsung buku nikah, juga akan menerima Kartu Keluarga (KK) dan Kartu Tanda Penduduk (KTP). Itu sasaran kita.

Apa lagi selain Dukcapil?

Selain Pemkot, kita juga akan kerja sama dengan pihak bank. Kita harapkan masyarakat yang datang mendaftar untuk proses pernikahan di KUA, tidak lagi ke bank untuk stor, karena bank sudah menyiapkan fasilitas.

Jadi pasangan ini tinggal membawa kartu ATM-nya, tinggal digesek di KUA, tidak perlu lagi antrian ke bank untuk menyetor.

Pernikahan terjadi, buku nikah dan kartu keluarga langsung diserahkan setelah prosesi pernikahan.

Bagaimana dengan program kartu nikah ?

Kartu nikah adalah program pemerintah pusat yang menjadi prioritas untuk kita tindak lanjuti. Ini juga kita jadikan program utama. Saat ini kita sementara melakukan pengadaan fasilitasnya. Mudah-mudahan dengan waktu yang tidak lama, fasilitas untuk menerbitkan kartu nikah ini bisa terealisasi di KUA. Kita upayakan sekitar bulan Maret program ini sudah jalan.

Angka pernikahan di bawah umur masih tinggi. Apa upaya yang dilakukan untuk menekannya?

Sebenarnya sosialisasi pencegahan pernikahan di bawah umur ini diprogramkan setiap tahun. Kendala kita selama ini kenapa selalu terjadi pernikahan di bawah umur, karena ada kekhawatiran orang-orang yang melakukan kalau bisa saya katakan semacam manipulasi data dari kelurahan.

Saya kira ada korelasinya dengan kerja sama kita nanti dengan Dukcapil. Karena kenapa masyarakat sangat berpeluang melakukan manuipulasi data terkait usia, karena masih terdapat masyarakat kita yang tidak memiliki KTP, sehingga hanya menggunakan surat keterangan domisili.

Domisili inikan bisa dimanipulasi data usianya. Bagaimanapun upaya kita di Kemenag, ini hanya sekadar menyampaikan bahwa pernikahan di bawah umur itu tidak sesuai aturan, baik aturan pemerintah maupun aturan agama. ***