Memaknai Ujian

oleh
Habib Saggaf Aljufri

Sudah menjadi sunnatullah, bahwa manusia di muka bumi pasti diuji dengan berbagai hal. Diuji dengan sesuatu yang menyenangkan atau sebaliknya sesuatu yang tidak disukai. Sesuatu yang tidak disukai beragam macamnya. Rasa takut, kelaparan, berkurangnya harta dan jiwa, bahkan hal yang berharga

Tidak  ada seorang manusia pun yang hidup di dunia ini, yang tidak diuji oleh Allah SWT, lebih-lebih orang yang beriman. Setiap orang beriman akan diuji tentang kesungguhan dan keseriusan keimanan mereka. Orang yang beriman diuji dengan berbagai musibah (bencana), kesenangan dan kesusahan, kepahitan dan kesejahteraan, sehat dan sakit, kekayaan dan kemiskinan, ujian syahwat dan syubhat.

Terhadap sebuah ujian, kesabaran merupakan sikap keniscayaan yang harus dipilih dan digunakan, sebab kalau ia tidak sabar, ia pasti gagal. Kalau sudah gagal maka kerugianlah yang ia peroleh.

Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan saja mengatakan “Kami telah beriman ” sedang  mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhya Dia mengetahui orang-orang yang dusta. (Q.S. Al Ankabut : 29).

Allah tidak begitu saja percaya jika seseorang mengatakan kami telah beriman. Dari ayat di atas Allah menguji seseorang dengan untuk mengetahui pembuktian pengakuan kebenaran iman mereka. Dan ujian ini tidak hanya kita yang hidup di abad modern ini yang diuji, bahkan orang-orang terdahulu pun juga diuji. Seperti ujian berat yang diterima oleh Nabiyullah Ibrahim yang diperintahkan oleh Allah untuk menyembelih anak semata wayang dan permata hatinya Ismail. Nabiyullah Ismail pun dengan rela menerima perintah Allah lewat bapaknya bahkan dia yang memotivasi bapaknya agar jangan ragu-ragu melaksanakan perintah Allah, meskipun ia harus kehilangan nyawanya. Karena mereka berdua bersabar dan tidak ragu-ragu menjalankan perintahNya, Allah menggantikan Ismail dengan seekor domba.

Pengakuan kita beriman kepada Allah, benar atau palsu untuk membuktikannya akan Allah uji dulu. Manusia saja tidak percaya begitu saja pada pengakuan mulut kita sebelum diuji. Anak-anak yang mau naik kelas atau mau masuk ke jenjang pendidikan selanjutnya harus menempuh ujian. Mengapa? Karena ujianlah yang menjadi tolak ukur seorang anak memahami pelajaran, mengerti apa yang diajarkan, dibuktikan dengan tingginya nilai ujiannya.

Allah lebih mempertegas ujian itu untuk mengetahui siapa dari mereka yang beriman dan siapa dari mereka yang kufur. Allah Maha Mengetahui siapa di antara mereka yang benar dalam keimanannya. Begitu pula Allah SWT Maha Mengetahui siapa yang berdusta. Mereka beriman hanya dalam ucapannya saja, tapi hati dan perbuatan kosong, dan dia tidak termasuk golongan orang-orang yang beriman kepada-Nya.

Yang lain, kelaparan. Hari-hari ini kita menyaksikan kemiskinan dipertontonkan oleh media massa. Meski pun kita lihat begitu banyak orang kaya yang tidak kekurangan makanan, akan tetapi jutaan  saudara-saudara kita yang  ingin membeli beras benayak tapi uangnya sedikit bahkan hidup dalam kelaparan.

Rasulullah saw. bersabda, “Aku tidak khawatir kalian miskin, tetapi aku khawatir (kalian mendapatkan) dunia (lalu) kalian bersaing dalam urusan dunia itu.” (HR. Ahmad)
Ujian adalah bentuk sayang Allah SWT kepada para hamba-Nya. Menimpakan kesusahan, ketakutan, kekurangan harta, krisis ekonomi, hingga kelaparan sekalipun merupakan bentuk sayang Allah kepada hamba-Nya. Ibaratnya besi harus diterpa dengan pukulan dan dibakar api untuk membentuknya menjadi material yang indah. Begitu pulalah cara Allah menjadikan hamba-Nya sebagai pribadi yang kuat.

Rasulullah bersabda, “Siapa yang dikehendaki Allah suatu kebaikan maka ia akan diberikan ujian.” (HR Bukhari, Ahmad, dan Malik dari Abu Hurairah RA). Wallahul Mustaan