Makna Idul Adha: Peduli Rohingya

oleh
Muslim Rohingya

Oleh: Nurdiansyah Lakawa (Pemimpin Redaksi MAL Online)

Di Asia ada sekelompok besar manusia yang berada dalam duka. Koloni yang tidak diakui di tanah manapun di dunia ini. Kelompok yang hanya dipedulikan atas dasar kemanusiaan, tak lebih. Tak ada tanah dan air yang legal untuk mereka.

Kurus kering! Kerontang pula dahaga mereka. Diusir dari Negeri yang mereka anggap sebagai bangsanya. Hanya karena sejarah mengatakan mereka bukan asli dari negara mereka, lantas semuanya diusir secara paksa, bahkan bersimbah darah dan ribuan nyawa telah melayang.

Adalah manusia-manusia Rohingya. Dicampakkan oleh Myanmar tanpa perikemanusiaan. PBB pun tak sanggup melerai Myanmar yang terus beringas. Negara-negara Asean pun tidak bisa berbuat banyak.

Sementara di sini, di negeri aman ini, kita tengah bersuka cita menyambut Hari Raya Idul Adha. Sekerat daging tak kurang pun bagi seluruh umat Islam di Indonesia. Momentum semestinya dirasakan pula oleh mereka.

Bila kita maknai Idul Adha ini; Rangkaian kata Idul-Adha yang terdiri dari dua kata itu berasal dari bahasa Arab. Kata pertama Idul berasal dari kata “‘aada-ya’uudu-awdatan wa’iidan” yang berarti kembali. Sedangkan Adha adalah kata kerja yaitu “Adha-Yudhii-udhiyatan” yang berarti berkorban. Dengan demikian, idul adha adalah perayaan sebagai tekad kembali kepada pengorbanan. Konteks aplikasinya adalah berkurban.  Kurban juga berasal dari kata Arab “Qurbaan” yang asalnya adalah  “Qaruba-yaqrabu-qurbun wa qurbaan” (kedekatan yang sangat). Dengan demikian, kurbaan atau korban adalah wujud kedekatan yang sangat tinggi.

Kedua kata itu memiliki arti semangat berkorban dan mendekatkan diri kepada Allah. Lalu bentuk pengorbanan itu, berdampak pada “habluminannaas” hubungan dengan manusia, yaitu berbagi-bagi qurban kita/apa yang kita gunakan untuk mendekatkan diri kepada Allah. Dalam konteks Rohingya adalah apakah dengan dekatnya kita dengan Allah, lantas kita sudah membagikan kebahagiaan/kedekatan itu dengan saudara-saudara Muslim Rohingya.

Bentuk membagikan kedekatan, bukan berarti dalam hal ini adalah daging. Tapi momentum ini dijadikan sebagai pengingat bahwa bila kita dekat dengan Allah, maka ingatlah terus saudara semuslim. Bagilah kebahagian dalam bentuk apapun itu. Desakan kepada pemerintah agar memerdekakan mereka, juga adalah bentuk berbagi itu.

“Adha” juga serangkai dengan “Dhuha”. Dalam bahasa Arab, selain berarti pengorbanan, kata dhuha juga berarti suatu waktu di mana mentari sedang menapaki jenjang awal dalam terbitnya. Waktu ini secara khusus dinamakan dhuha, karena pada masa ini merupakan awal mentari pagi menapaki jenjang-jenjang keberangkatannya menuju ufuk.

Dengan demikian berarti kita berharap, ada mentari yang bersinar bagi mereka warga Rohingya. Surya kebebasan bagi mereka dari penindasan. Sekaligus berkorban untuk menundukan segala keangkaramurkaan sebagaimana jamaah Haji yang Melempar Jumrah. Jadi makna-makna Idul Adha saat ini, juga adalah Peduli Rohingya. Wallahu’alam…