Limbah PLTU Mpanau Disoal

oleh
Wawali Palu Sigit Purnomo Said didampingi Kasat Pol-PP Moh Arif Lamakarate hadir di tengah kerumunan massa aksi, Senin (22/01). (FOTO: MAL/HAMID)

PALU – Arus lalulintas di Jalan Trans Sulawesi, tepatnya di Kecamatan Tawaeli, macet total karena tertutup aksi demo masyarakat setempat, Senin (22/01). Massa yang berjumlah ratusan itu berasal dari 5 kelurahan di Kecamatan Palu Utara dan Tawaeli, yakni dari Kelurahan Mpanau, Lambara, Baiya, Kayumalue Ngapa dan Kayumaleo Pajeko.

Mereka memenuhi jalan raya dekat jembatan Tawaeli dan melakukan blokade jalanan dengan memasang palang kayu di tengah jalan.

Ratusan kendaraan yang akan menuju Kota Palu dari arah Parigi di sebelah timur dan Tolitoli di sebelah utara serta dari arah Kota Palu menuju ke Parigi dan Tolitoli menumpuk sejak pukul 09.00 Wita.

Wakil Wali Kota Palu Sigit Purnomo Said dan Kapolres Palu serta sejumlah pejabat terus berupaya bernegosiasi dengan pengunjuk rasa agar membuka jalan tersebut, namun hingga pukul 15.30 Wita belum juga berhasil.

Demo tersebut menuntut agar pengelola Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Mpanau meratakan tumpukan limbah B3 ke dalam areal PLTU karena sangat membahayakan warga sekitar.

Mereka meminta agar limbah berupa fly ash dan bottom ash di bantaran sungai, sama dengan timbunan abrasi sungai. Kemudian PLTU juga diminta menutup timbunan buangan limbah fly ash dengan plastik geo membran sesuai kesepakatan PLTU dan Pemkot Palu tahun 2016 lalu.

Selain itu, massa meminta PLTU tidak lagi memproduksi limbah baru selama penggusuran.

Terkait itu, Wali Kota Palu, Hidayat, mengatakan, persoalan sudah berlangsung selama puluhan tahun itu, kini hampir tuntas.

“Dalam kurun waktu setahun terakhir hampir semua tertatasi, diantaranya persoalan air panas yang dikeluarkan, begitu pula soal getaran dan bunyi bising yang ditimbulkan sudah dibawah ambang batas. Ini adalah hasil penelitian ahli dari Untad beberapa waktu lalu,” kata Hidayat.

Demikian halnya, lanjut dia, persoalan pengangkutan batubara dari laut ke darat yang dikeluhkan masyarakat, kini sudah menggunakan sistem konveyor sehingga debu batubara tidak beterbangan kemana-mana.

“Yang tersisa adalah persoalan fly ash, namun sebenarnya ini juga sudah selesai karena masyarakat Kayumalue sudah akan dibina untuk mengelolanya,” katanya.

Namun, kata dia, dalam perjalanan pembangunan tempat pengelolaan limbah, ada lagi pihak yang mencoba mengganggu dan menghentikan pekerjaan tersebut pada tanggal 21 Januari lalu.

“Padahal fly ash itu sudah terjadwal akan diangkut tanggal 28 Januari, akhirnya tertunda lagi,” ungkapnya.

Lebih lanjut Hidayat mengatakan, terkait permintaan pemindahan fly ash, pihaknya juga sudah menyetujui. Namun tegas dia, keinginan untuk menghentikan operasional PLTU, bukanlah penyelesaian masalah.

“Karena akan berdampak terhadap pengurangan daya listrik sehingga akan berakibat fatal dan mengganggu jalannya pembangunan di Kota Palu,” tutupnya. (HAMID/FAUZI)

loading...